
Keesokan harinya, Lisya menjalani harinya dengan semangat. Bibirnya terus mengembang menandakan jika suasana hatinya sedang bagus. Seluruh energi positifnya seolah kembali setelah sekian lama entah hilang kemana. Bagaimana tidak, kemarin suaminya itu mengajak Lisya berjalan-jalan mengelilingi dufan-ancol hingga malam hari.
Tak hanya itu, kemarin Lisya benar-benar merasa puas karena bisa mengerjai Gathan serta Teo hingga keduanya menyerah dan meminta pulang.
đ Flash Back On đ
"Kak, aku mau naik itu!" Lisya menunjuk wahana rollercoaster dengan sangat antusias.
"A-apa??? Kamu benar mau naik itu?" Gathan terkejut melihat wahana yang ditunjuk Lisya.
Jika boleh jujur, Gathan sangatlah anti dan takut dengan wahana ekstrim. Karena melihatnya saja sudah membuat badannya lemas serta membuatnya mual. Untuk itu, selama hidup di Jakarta Gathan hanya sekali menginjakkan kakinya pada tempat itu. Saat itu pun, Gathan hanya berkeliling dan menonton pertunjukan lumba-lumba bersama daddy Barra tanpa sekalipun mencoba wahana yang ada di sana.
Saat ini Gathan mengajak istri tercintanya itu ke Dufan, berkat saran dari Teo saat sesi curhatnya beberapa waktu yang lalu. Ia menyetujui saran itu, karena pikirnya istrinya itu akan bersemangat saat berjalan-jalan dan menonton pertunjukkan hewan yang ada disana seperti apa yang di lakukannya sebelumnya. Kalaupun ingin menaiki wahana, Gathan mengira pasti istrinya itu hanya memilih wahana yang ringan. Seperti bom-bom car, atau komedi putar dan sejenisnya.
Dan ternyata, saran Teo benar. Lisya sangat senang dan antusias saat sampai disana, Lisya berlari kesana-kemari sambil menarik tangan Gathan. Sedangkan Gathan hanya mengikuti setiap langkah istrinya itu dengan terus tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Namun, seolah senyum itu sirna begitu saja saat istrinya justru mulai meminta menaiki wahana ekstrim yang di hindarinya. Seketika membuat Gathan menyesal, karena telah menyetujui saran Teo yang memilih tempat itu untuk moment kencannya.
"Tentu saja kak. Ayo dong kak.!" Lisya menarik tangan Gathan, supaya ikut berbaris pada antrian wahana rollercoaster.
"Tapi sayang,,,, A-aku??"
"Kenapa? Kakak takut?" Potong Lisya dengan nada yang mengejek.
"Eh, Mana mungkin! Tidak ada yang aku takuti di dunia ini, kecuali kepada sang maha kuasa." Jawab Gathan dengan senyum yang dipaksakan.
Teo yang mendengar pembicaraan kedua majikannya itu hanya tertawa penuh kemenangan. Akhirnya, bosnya itu mendapatkan balasan karena telah mengganggu waktu istirahatnya, pikirnya. Teo tahu, jika Gathan paling anti dan takut dengan wahana yang ektrim.
"Wakakaka, Rasakaaan bos!" Teo tertawa saat melihat ekspresi bosnya yang semakin pucat saat memasuki area wahana untuk mengantri.
"Teo! Kamu ikut juga!" Gathan menoleh kesamping menatap Teo yang menunggu di pagar pembatas wahana. Gathan tahu jika asistennya itu menertawakannya.
"Loh, kok saya bos?" Teo langsung menghentikan tawanya.
"Tentu saja. Bukankah kamu ikut kesini juga harus menikmati wahana yang ada disini!?" Ucap Gathan dengan seringai liciknya.
"Oh iya, aku sampai lupa kalau ada Teo. Ayo sini gabung!" Ajak Lisya saat baru menyadari keberadaan Teo karena saking antusiasnya.
"Saya disini saja bos." Teo menggelengkan kepalanya sambil senyum dipaksakan.
"Kenapa?? Kamu takut??" Ejek Gathan dengan suara lantangnya. Membuat semua pengunjung yang sedang mengantri ikut menatap Teo dengan tatapan mengejek.
"A-apa!! Ten-tentu saja!! Tidak.!" Ucapan dan gerak kepalanya tidak sinkron. Mulutnya berkata tidak, namun kepalanya mengangguk menandakan jika dirinya memang takut. Ya, Gathan dan Teo ternyata sama-sama anti dengan wahana ekstrim đ
"Yasudah, cepat kemari!" Perintah Gathan dengan senyum kemenangannya. Kali ini, Gathan tidak sengsara sendirian pikirnya.
__ADS_1
"Sial! Kena juga gue!" Umpat Teo pelan sambil berjalan menghampiri kedua majikannya.
Tak lama, akhirnya giliran ketiganya tiba. Wahana itu berjalan sebagaimana mestinya hingga beberapa kali putaran. Lisya benar-benar tertawa puas saat melihat tangan suaminya itu mencengkeram erat pada pegangan duduknya. Matanya terpejam erat tanpa membuka matanya sama sekali. Mulutnya komat kamit tidak jelas menahan ketakutannya. Sesekali ucapan takbir dengan sangat keras lolos dari mulutnya, lalu kembali berkomat kamit karena teringat jika disebelahnya masih ada Lisya.
Tak berbeda dengan Teo, yang duduk didepan Gathan dan Lisya sendirian. Teo benar-benar tak ingin melepaskan pegangan tangannya. Namun yang membedakan dengan Gathan adalah, Teo sudah berteriak keras saat wahananya baru berjalan pelan. Mulutnya terus berteriak sambil mengumpat tidak jelas selama wahana itu berjalan. Lisya yang melihat sisi lain dari suami dan asistennya yang selama ini terlihat begitu sempurna, benar-benar tertawa puas. Sehingga ia tidak seberapa menikmati sensasi yang diciptakan wahananya, namun justru semakin menikmati pemandangan tidak biasa yang diciptakan oleh suami dan asistennya itu.
Setelah beberap menit, wahana itu berhenti. Dengan segera Teo keluar dari wahana dan berlari mencari lokasi yang aman dari jangkauan pengunjung lain. Dengan cepat ia mengeluarkan seluruh isi perutnya yang sudah memberontak ingin keluar. Lisya yang melihat Teo lari terbirit-birit justru semakin terbahak-bahak.
Berbeda dengan Gathan, saat semua pengunjung turun dari tempat duduknya, Ia justru tetap duduk anteng sambil terus mencengkeram dan berkomat kamit tidak jelas. Lisya yang hendak turun, merasa aneh dengan sikap suaminya itu.
"Kak, udah selesai. Ayo kita turun. Gantian dengan pengunjung lain." Lisya menarik tangan Gathan yang masih mencengkeram erat pada pegangan tempat duduknya.
"Eh, sudah selesai ya?" Gathan membuka mata dan melihat sekitarnya.
"Sudah kak. Ayo kita turun. Atau kita mau lagi?" Goda Lisya.
"Ekheem, kita turun saja! Aku bosan!" Jawab Gathan cepat, dengan ekspresi sok coolnya.
Ia berusah berdiri dari tempat duduknya. Namun tak disangka, kakinya melemas sehingga membuatnya limbung ke arah Lisya.
Dengan cepat Lisya menahan tubuh suaminya itu dengan susah payah.
"Eh,,kak?? Kakak tidak apa?" Tanya Lisya panik.
Namun baru beberapa langkah, tubuhnya kembali limbung sesaat. Karena ternyata tubuh dan kakinya masih lemas dan gemetaran. Dengan sekuat tenaga, dan berusaha bersikap tenang sekaligus cool, matanya fokus menatap kedepan, Gathan terus berjalan dengan sesekali kakinya meleot kekanan dan kiri. Lisya yang melihat langkah suaminya yang tiada henti meleot semakin terbahak-bahak. Baru kali ini, dirinya benar-benar terhibur saat bersama duo perfect yang terkenal dengan sikap dingin dan kejamnya itu.
Belum hilang rasa mual Teo, dan rasa gemetar pada tubuh Gathan, Lisya meminta untuk menaiki wahana ekstrim lainnya.
"Kak, setelah ini kita naik tornado, histeria dan ontang anting yuk! Aku benar-benar sudah lama tidak kesini. Jadi aku kembali tertantang!" Lisya begitu bersemangat.
Glek!
Kedua laki-laki itu menelan salivanya dengan susah payah. Sontak Gathan menoleh ke arah Teo. Tatapannya begitu tajam, hingga bisa menghunus jantung Teo. Saat itu Gathan seolah ingin menghukum habis-habisan sang asistennya itu karena telah memberikan ide gilanya untuk mengajak sang istri ketempat luknut itu.
"Kenapa kak? Kakak tidak mau ya?" Lisya merubah raut wajahnya sesedih mungkin.
"Atau kakak takut? atau capek?" Nada mengejek.
"Siapa bilang? Sudah kukatakan tak ada yang kutakuti selain yang maha kuasa! Dan apa tadi? Capek? Ck, Hanya seperti itu saja capek?! No way!" Gathan menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kekiri, namun ia sama sekali tak beranjak dari tempat duduknya.
Ck, tinggal bilang iya aku takut dan capek sayang!, Tubuhku masih gemetaran nih, susah amat sih bebs. Kita lihat, seberapa kuatnya sih pura-pura jadi laki-laki strong disini Hahaha
Lisya tertawa dalam hati.
Melihat Gathan dan Teo yang tidak juga beranjak dari posisinya, Lisya mencoba mengancam, akan menaiki wahana itu sendirian.
__ADS_1
Gathan yang tidak ingin terlihat lemah, dan tak ingin melepas istrinya begitu saja, dengan terpaksa mengabulkan permintaannya. Namun dengan satu syarat, Teo harus mengikutinya.
Akhirnya kedua laki-laki itu lagi-lagi merasakan mual dan tubuh gemetaran seperti sebelumnya saat selesai menaiki tornado. Tak berhenti disitu, Gathan tak bisa mengeluarkan suaranya saat setelah menaiki wahana histeria, karena masih merasakan jika tubuhnya saat itu masih terpental jauh ke atas. Kalau kata readers mah ngefly đ. Sedangkan Teo, menitihkan air matanya, karena tak mampu lagi menahan debaran jantungnya saat berada diatas sana.đ. Terakhir, Gathan dan Teo muntah secara berjamaah setelah turun dari wahana ontang anting tanpa memperdulikan lagi tatapan pengunjung lain.
Keduanya benar-benar angkat tangan, mereka menyerah dan tidak mau lagi jika harus diajak menaiki wahana ekstrim lain.
"Hah, Hah,, aku menyerah sayang!" Ucap Gathan ditengah aktifitasnya mengeluarkan isi perutnya sambil membungkuk.
"Sama bos, nona. Saya tidak lagi kuat.! Hah, Hah,,!" Teo berjongkok melanjutkan mengeluarkan isi perutnya juga.
"Buahahah, Akhirnya menyerah juga suami sekaligus asistennya ini." Lisya terbahak-bahak, ia merasa puas hari ini.
"Apa maksutmu sayang?" Tanya Gathan heran.
"Sebenarnya sejak awal aku tuh tahu, kalau kakak dan Teo takut sama wahana ekstrim kan. Dari ekspresinya saja sudah kelihatan. Tapi karena kalian berdua tidak mengakuinya, akhirnya aku semakin ingin mengerjai kalian. Hahah." Lisya melanjutkan tawanya, sambil mengusap air mata yang keluar disudut matanya.
"Sudah berani mengerjai suamimu ya kamu!" Gathan menggelitik tubuh Lisya karena kesal.
"Ahahahaha ampun kak. Ampun. Stop!" Lisya kegelian.
"Eh, itu apa? Lisya menunjuk ke sembarang arah. Membuat Gathan mengehentikan aksinya lalu ikut melihat ke arah telunjuk Lisya.
Cup!
"Itu permintaan maafku kak. Maaf yaa." Lisya berlari menjauhi Gathan dan Teo.
Gathan berdiri mematung karena kembali mendapati ciuman singkat di bibir dari istrinya. Rasa mual, lemas, kesal yang dirasakannya seolah sirna begitu saja. Bibirnya tersenyum bahagia. Dengan cepat Gathan berlari menghampiri Lisya karena ingin memeluknya erat, seolah rasa gemetar dan lemas yang dirasakan kakinya sebelumnya hilang entah kemana.
Sedangkan Teo, ditinggalkan begitu saja. Tanpa memperdulikannya.
"Hah, tuman! Main tinggal saja! Dasar dua majikan absurd!" Gumam Teo lalu berjalan menghampiri kedua majikannya yang terlihat menuju food court. Sesekali kakinya ikut meleot ke kanan dan kekiri karena masih merasa gemetar dan lemas seperti yang dirasakan Gathan sebelumnya. đ
đ Flashback Off đ
To Be Continued đ¤
--
- Annyeong pembaca yang budiman đ-
Si Lisya mulai aktif ngerjai Gathan dan Teo ya bund? đ¤Ł
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤
__ADS_1