GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Dermaga Sudah Siap!


__ADS_3

Satu minggu kedepan adalah hari ujian akhir semester di kampusnya. Saat ini Lisya menjalani ujiannya dengan sangat antusias dan semangat berkat moodnya yang sedang bagus.


Jam kuliah lebih cepat berakhir karena hanya beberapa mata kuliah yang diujikan setiap harinya. Karena tahu pulang lebih cepat, Lisya berniat memberikan surprise pada suaminya untuk menebus kesalahan yang dilakukannya kemarin. Bagaimana tidak, akibat kejahilannya kemarin, paginya Gathan mengeluh jika perutnya terasa tidak enak. Bahkan badannya terasa kram, akhirnya Gathan hanya sarapan sedikit saja. Melihat efek yang dialami Gathan, Lisya jadi kasihan dan merasa bersalah. Ia sungguh merasa jika dirinya sudah menjadi istri durhaka. 😀


Tak jauh berbeda dengan Teo. Tadi saat menjemput Gathan, Teo terlihat pucat dan tak bersemangat. Lisya jadi dua kali merasa bersalah.


"Vi, sudah siap??" Bram menghampiri Via saat setelah mengumpulkan lembar ujiannya.


"Tentu saja." Via tersenyum lebar.


"Eh, kalian mau kemana?" Lisya mengerutkan dahinya. Karena tak biasanya Bram mengajak Via sepulang kuliah.


"Eh seyeng, maaf aku lupa cerita ya. Hari ini aku mulai kerja gantiin kamu di studio Bram. Hohoh" Via memeluk Lisya.


"Ha? Serius? Kamu kerja part time?" Lisya membelalakkan matanya tak percaya.


Via mengangguk antusias.


"Gak salah kan?" Lisya menempelkan punggung tangannya pada dahi Via.


"Hiii, apaa sih kamu Sya. Aku gak sakit tau. Aku benar-benar masih sehat dan sadar. Puas." Via mencebikkan bibirnya.


"Iya Sya, Via mau gantiin posisi lo karena dia lagi kanker alias kantong kering. Hahah. Siapa suruh jadi anak durhaka. Kualat kan hihihi" Ejek Bram sambil cekikikan.


Ya, karena Via sudah tinggal di apartemen, Via tidak mendapatkan jatah lebih untuk ber shopping ria. Ayahnya hanya memberi uang saku secukupnya saja karena ayahnya juga tahu,jika putrinya itu suka berfoya-foya di sana.


"Hisshh, awas saja lo Bram. Jangan suka mengejek. Ntar lo ikutan kualat baru tahu rasa?" Via menggerutu sebal.


"Yee, kualat kenapa? Kan gue selalu jujur sama bokap gue." Bela Bram.


"Kualat jadi jatuh cinta sama gue karena sering ejekin gue!" Via mendengus kesal karena merasa tersudutkan.


"Buahahahah, Aammiiinnn. Aku pendukung setia deh buat kalian berdua." Lisya justru bersemangat.


"Hisshhh, ni bocah malah main aminin aja!" Via semakin kesal.


"Ck, jodoh tidak ada yang tahu Vi!. Kalau begitu aku pulang dulu ya gais. Aku mau kasih surprise sama jodoh halalku. Hohoho." Lisya memasang wajah sok imutnya.


"Eh, sejak kapan kamu jadi sok romantis gitu sama mas Brew?" Pipi Via memerah saat menyebut nama mas Brew, karena tiba-tiba ingatannya membawa kepada kejadian mabuknya bersama Teo.


"Sejak saat ini. Hahahaha." Lisya dengan pedenya mengakui perasaannya.


"Heh, jangan bilang kalian udah saling menyadari perasaan satu sama lain! Kamu punya hutang cerita ya sama aku!" Via jadi makin penisirin.


"Ada deh, hahahah. Besok saja ceritanya. Aku balik dulu yaa. Semangat kerjanya seyeng" Lisya mencubit pipi Via gemas.


"Bram.... Bae-bae kalau ajarin pacar gue. Lo yang sabar, karena cobaa lo baru dimulai dari nanti. Hahaha." Lisya melambaikan tangannya lalu meninggalkan Via dan Bram. Via mendengus kesal, sedangkan Bram hanya tersenyum menanggapi ucapan Lisya.


--


** Mansion Utama Keluarga Barra **


"Selamat datang nona, sepertinya pulangnya lebih awal dari biasanya?" Sapa pak San sambil membungkukkan badannya hormat.


"Iya pak San. Karena hari ini sedang ujian. Jadi pulangnya lebih cepat selama satu minggu kedepan." Lisya menjawab dengan senyuman.


"Oh begitu. Em,, maaf nona, Apa nona ingin makan sekarang? Akan saya siapkan terlebih dahulu ya. Karena kami mengira jika nona pulang seperti biasanya." Ya, hari ini baru menunjukkan pukul 10 pagi.


"Ah, tak perlu pak San. Nanti saja seperti biasanya. Saya tinggal ke kamar ya pak." Lisya meninggalkan pak San. Sedangkan pak San membungkukkan badannya untuk mempersilahkan majikannya.


--


"Hah,, Ya, aku harus menebus kesalahanku sama kak Gathan. Tapi dengan cara apa ya??" Lisya menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Matanya memandang langit kamarnya sambil berfikir.


Blush,


Pipi Lisya memerah saat tiba-tiba mengingat adegan panasnya dengan Gathan. Dan mengingat permintaan Gathan yang ingin ia segera hamil. Serta penjelasan dokter Gritta yang menyuruh secara rutin melakukanya.

__ADS_1


"Ap-apan pikiran kotor ini! Kenapa jadi berfikir ke hal itu sih. Niatnya kan mau kasih surprise, masak iya malah kasih surprise 'itu'." Lisya memukul pelan kepalanya.


Drt,, Drt,, Drt


"Assalamualaikum ayah." Lisya menjawab telepon ayahnya. Ya, ponsel Lisya berbunyi karena ayah hasan menelponnya.


"Waalaikumsalam nak. Bagaimana kabarnya kamu dan suamimu disana?" Tanya ayah Hasan dari seberang telepon.


"Alhamdulillah yah. Aku dan kak Gathan sehat disini. Ayah gimana sama ibu dan Nino? Sehat?" Lisya bertanya dengan antusias.


"Alhamdulillah kami semua disini jauh lebih sehat nak. Sampaikan salam kami ke nak Gathan ya. Alhamdulillah berkat bantuan perawat yang dikirim nak Gathan, sekarang ayah sudah bisa berjalan. Ya walau masih beberapa langkah. Ibuk juga sudah lebih sehat. Nafsu makannya bertambah nak. Adik kamu Nino juga semakin semangat belajar, karena nak Gathan mendaftarkan Nino ke LBB impian Nino." Ayah Hasan bercerita penuh haru.


"Alhamdulillah, syukurlah ayah. Aira ikut senang mendengarnya. Nanti akan Aira sampaikan salam ayah ke kak Gathan. Dia pasti ikut senang mendengarnya. Tapi, maaf ya ayah, Aira masih belum bisa pulang ke Surabaya. Karena Aira masih ada ujian akhir semester di kampus. Terus, Aira tidak enak jika meminta kak Gathan untuk kembali meninggalkan pekerjaannya lagi disini." Jelas Lisya.


"Tak apa nak. Ayah mengerti kok. Kalian fokus saja dengan urusan kalian di sana. Serta nikmati saja masa rumah tangga kalian yang masih berumur jagung itu. Yang terpenting kita semua saling mendoakan di manapun kita berada. Agar kita semua senantiasa dilindungi oleh Allah. Aamiin" Pesan ayah Hasan.


"Aamiiin yah. Pasti itu." Jawab Lisya.


"Siapa tahu pulang-pulang kesini nanti, ayah sudah dapat oleh-oleh cucu. Hahaha." Tawa ayah Hasan pecah. Karena jika boleh jujur, ayah Hasan juga menantikan kehadiran cucu pertamanya nanti.


Blush,


Deg.


"Eh, ayah ini hehe. Do-doakan saja ya ayah." Pipi Lisya memerah, jantungnya berdegup kencang.


"Pasti nak. Ayah dan daddy Barra selalu mendoakanmu dan nak Gathan untuk hal itu. Heheh. Semoga Allah segera hadirkan buah hati di tengah rumah tangga kalian ya. Aamiin." Jelas ayah Hasan kembali.


"A-amiiin yah. Semoga saja." Lisya salah tingkah.


"Yasudah, ayah lanjut terapi dulu nak. Nanti kalau sudah tidak repot, ayah telfon lagi." Pamit ayah Hasan.


"Baik yah. Semangat terapinya. Salam ke ibu dan Nino ya yah. Love you all." Ucap Lisya.


"Pasti nak. Ibumu sedang makan, jadi tidak bisa ikutan nimbrung di telepon deh. Salam juga ke suami kamu ya. We love you more. Assalamualaikum."


Lisya memikirkan perkataan ayahnya dengan posisi yang masih sama. Ia begitu terharu atas kebaikan suaminya. Berkat bantuan suaminya itu, keluarganya benar-benar aman dan sejahtera disana. .


Menyadari jasa sang suami yang begitu besar pada hidup keluarganya, membuat Lisya jadi mempertimbangkan harapan ayah Hasan tadi. Harapan yang ingin dibawakan oleh-oleh cucu nantinya.


Ya walaupun Lisya tahu, jika kehamilan tidak bisa terlalu ditarget, dan dipaksa. Namun, setidaknya ia harus mulai mencoba berusaha untuk mendapatkannya. Karena kenyataannya, sampai sekarang ia belum memberikan hak suaminya dengan benar.


Ya, akhirnya Lisya sudah memutuskan untuk memberikan surprise dengan sesuatu hal yang diinginkan sejak lama oleh suaminya. Sesuatu hal yang diharapkan oleh ayah dan Daddynya.


Sesuatu hal yang sebenarnya masih membuatnya trauma. Namun, rasa trauma itu ia kesampingkan begitu saja saat mengingat semua kebaikan dan ketulusan yang dilakukan suaminya selama ini. Sebagai penebus kesalahannya kemarin juga, pikirnya.


Dengan cepat Lisya bangun dari posisinya, lalu berjalan menuju almari. Lisya membuka almari besarnya dan melihat baju yang sangat ia hindari selama ini. Pipinya kembali memerah, jantungnya berdegup kencang saat hanya melihat modelnya saja, karena pikirannya sudah melalang buana kemana-mana. 😂


Lisya sudah memilih salah satu baju yang akan dipakainya nanti. Lalu Lisya bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Agar saat Gathan mendekatinya, aroma vanila kesukaan keduanya itu lah yang akan menggelitik indera penciuman suaminya. Begitulah pikiran najkal si Lisya. 🤔


Tak berapa lama, Lisya sudah keluar dengan kostum pilihannya. Ia menuju meja rias untuk sedikit memoles wajah cantiknya. Agar terlihat segar gitu pikirnya. Setelah semua ritual telah ia lakukan, dengan segera Lisya berpose semenggoda mungkin untuk ia kirimkan pada suaminya.


Ia ingin tahu, apakah suaminya itu tergoda atau tidak. Hem Lisya mulai aktif ya bund 😂.


Cekrek,


Cekrek,


Lisya berpose beberapa kali.


"Okay, sudah. Kirimkan ke target." Seringai licik muncul dari bibir Lisya. Entah mengapa Lisya tiba-tiba berubah najkal saat sudah yakin dengan keputusannya. Tidak tanggung-tanggung kalau kata readers.


Lisya merebahkan tubuhnya di atas kasur king sizenya sambil sesekali memperagakan bagaimana pose dan ekspresinya nanti saat menyambut kedatangan suaminya.


Tangan dan kakinya ia pukul-pukulkan pada kasur karena merasa benar-benar deg-degan.


Epilog.

__ADS_1


Tring.


Gathan melirik ponselnya yang menyala diatas meja. Saat ini Gathan memang sedang fokus memimpin rapat. Namun karena melihat nama sang pengirim, apalagi sepertinya dalam pesan itu terdapat sebuah foto, Gathan mencoba membuka pesan itu disela kegiatannya yang sedang menjelaskan beberapa project yang akan dijalankan kedepan.


From : Istri Tercinta


Dermaga sudah siap. Kapal dipersilahkan untuk bersandar.



Gathan membelalakkan matanya tak percaya. Diambilnya ponsel itu, lalu didekatkannya pada kedua matanya. Ia ingin memastikan apa benar yang ada didalam fotonya itu adalah istrinya.


"Apa!!? Ini benar istriku!?" Gumam Gathan pelan sambil beberapa kali membenarkan posisi duduknya. Karena merasa tidak nyaman dengan sesuatu yang ada dibawah sana.😀 Membuat Teo dan karyawan yang lain menatap heran dengan perubahan ekspresi bos dinginnya itu.


"Ada apa bos?" Teo mendekatkan tubuhnya, ingin memastikan kondisi bosnya.


"Ah, tidak ada apa-apa." Gathan dengan cepat mematikan layar ponselnya. Karena tidak ingin jika Teo melihat pemandangan indah milik istrinya. Dengan cepat Gathan meletakkan ponselnya kembali diatas meja, lalu ia kembali memasang wajah seriusnya seperti sebelumnya.


Tring,


Ponselnya kembali menyala, saat Gathan baru ingin melanjutkan pembahasannya. Matanya kembali melirik ke arah ponselnya. Nama pengirim masih sama, membuat tangannya gatal untuk segera mengambil ponsel itu kembali. Lalu dibukanya isi pesan itu.


*From : Istri Tercinta


Dermaga siap menaklukkan kapal besar sekarang juga*!



Gathan kembali dibuat tak percaya. Matanya terbuka lebar, jantungnya bergemuruh hebat, Tubuhnya memanas meski sedang berada diruang ber AC.


Semua itu dirasakannya saat melihat ekspresi Lisya yang mampu membawa ingatannya kembali pada adegan panasnya dengan Lisya saat itu. Bagian bawahnya?? Jangan ditanya lagi. Saat ini semakin meronta meminta dikeluarkan dari sarang supaya bisa menyemburkan lahar panasnya. 🤣


"Emmmhh,, Shitttt!" Gathan mengerang pelan menahan rasa sakit, saat senjatanya terus mendesak dibawah sana. Tangannya mengepal erat.


To : Istri Tercinta


Hah, benar-benar mengganggu singa lapar!


Baiklah, kapal akan sandar di dermaga itu sekarang juga!


Bersiap-siaplah mandi keringat!


Gathan membalas pesan istrinya itu dengan menggebu-gebu tanpa mempedulikan tatapan karyawannya.


Ia benar-benar tak dapat menahan gairahnya yang sudah lama ia simpan. Gathan tak ingin melewatkan kesempatan emas yang telah di berikan oleh istri tercintanya itu.


"Maaf, meeting hari ini di lanjutkan besok! Karena saya ada kepentingan mendadak. Saya permisi."


"Teo, cepat antar saya ke mansion sekarang juga! Jangan lupa, dengan kecepatan penuh!" Ucap Gathan penuh penekanan. Lalu beranjak dari duduknya, dan dengan susah payah ia menyembunyikan bagian bawahnya yang sudah menyembul dibalik celananya.


"Baik bos." Jawab Teo patuh meski belum sepenuhnya paham dengan situasinya. Namun, melihat ekspresi bosnya, Teo yakin jika bosnya itu tengah berbalas pesan dengan istrinya.


Gathan berjalan cepat supaya bisa keluar dari ruang meetingnya dengan diikuti Teo dibelakangnya.


Seperti inilah kira-kira ekspresi babang Gathan.



--


To Be Continued 🖤


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


Hem, si 'besar' mulai meronta ya bund. 🤣


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2