
Gathan merebahkan tubuhnya disamping tubuh Lisya, setelah penyatuannya ia lepaskan. Ia juga merasa tenaganya terkuras habis setelah melakukan aktifitas panasnya secara paksa.
Kemudian, Gathan menarik bad cover yang jatuh dibawah kasur akibat ulah keduanya. Diletakkannya bad cover itu pada tubuhnya dan tubuh Lisya, untuk menutupi tubuh yang masih sama-sama polos. Lalu ia memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat dibalik bad cover yang menyelimutinya. Gathan mengecup bahu Lisya beberapa kali dengan sangat lembut. Sedangkan Lisya, ia masih tak bergeming dari posisinya.
“Maaf…” Ucap Gathan lirih. Ia tahu jika saat ini istrinya itu masih syok dengan apa yang ia lakukan.
“Masih sakit??” Tanya Gathan. Ia mendongakkan kepalanya untuk menghadap ke wajah Lisya.
Lisya hanya mengangguk pelan, lalu tak berapa lama air matanya keluar begitu saja.
“Heiiii, Apa sesakit itu??” Gathan semakin panik. Sedangkan Lisya semakin menangis.
“Tunggu, aku panggilkan dokter sekarang.” Ucap Gathan kemudian bangun dari posisinya.
“Tak perlu kak.” Lirih Lisya sambil menahan tangan Gathan.
“Tapi, kamu terlihat kesakitan.” Jawab Gathan panik.
“Tak apa, ini wajar. Dan, bukankah ini adalah hukuman buatku??” Ucap Lisya datar.
“Maaf Ra. Maafkan aku.” Gathan kembali memeluk Lisya dengan erat. Ia mengecup puncak kepala istrinya itu berulang kali.
Lisya hanya diam, merasakan kembali kehangatan dari seorang Gathan yang sebenarnya sangat ia rindukan beberapa hari ini. Bukan perlakuan kasar yang tadi ia rasakan saat Gathan menjamahnya.
Lisya bangun dari posisinya sambil menarik bad cover untuk menutupi tubuhnya, Ia hendak berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket.
“Hei, kamu mau kemana Ra?” Gathan kaget saat merasakan pergerakan Lisya yang tiba-tiba bangun dari tidurnya.
Sedangkan Lisya tak menjawabnya, ia masih tetap berusaha turun dari kasurnya. Tapi entah mengapa saat berdiri, ia merasa jika tubuhnya saat ini begitu lemas. Apalagi rasa perih dibawah sana masih sangat terasa, sehingga semakin membuat Lisya merasa tak berdaya.
Baru satu langkah Lisya melangkahkan kakinya, tiba-tiba…
Bruk…
Tubuh Lisya ambruk di atas lantai karena tak sadarkan diri. Gathan yang melihat Lisya tiba-tiba pingsan begitu kaget dan panik. Dengan segera ia loncat dari kasurnya dan menghampiri Lisya dengan tubuh yang masih polos.
“Hei, Ra. Bangun sayang?” Gathan menepuk pelan pipi Lisya. Matanya berkaca-kaca karena panik melihat istrinya itu sama sekali tak meresponnya.
Diangkatnya tubuh Lisya ala bridal, kemudian ia hendak membawa kembali ke tempat tidurnya. Gathan kembali dibuat terkejut saat matanya melihat darah yang banyak, membekas di atas seprei kasurnya.
“Hah!!! Darah???” Ucap Gathan panik.
Segera ia menidurkan Lisya kembali di atas tempat tidur yang tak terdapat darah.
“Sayang, Maafkan aku.” Gathan mengecup semua wajah Lisya karena merasa bersalah. Ia tahu jika darah itu adalah darah Lisya. Ia sadar, jika darah itu keluar akibat perlakuannya yang begitu kasar. Tak terasa air mata Gathan menetes, karena benar-benar takut jika terjadi hal serius dengan istrinya.
Dengan cepat Gathan memakai kembali celana dan kaosnya, ditutupnya bekas darah itu menggunakan bad cover lain yang ada di almari. Lalu ia segera menelpon Teo yang saat ini masih setia menunggunya di ruang utama.
“Teo! Cepat kamu panggilkan dokter Rita sekarang juga! Suruh dia segera datang ke mansion ini.! Jika perlu suruh dia menggunakan helipad yang ada di rumah sakit. Istriku pingsan!” Perintah Gathan kemudian menutup panggilannya.
Dokter Rita adalah dokter keluarga Barra. Ia sudah lama mengabadikan dirinya sejak keluarga itu tinggal di Surabaya. Kali ini dokter Rita diberi amanat besar untuk menjadi pimpinan di rumah sakit baru milik BR Group.
“Pak San, cepat kekamarku! Bawakan minyak angin dan air minum panas!” Gathan ganti menelpon pak San.
Setelah memberi perintah, Gathan kembali menatap lekat istrinya yang masih memejamkan matanya. Ia lilitkan bad cover pada tubuh Lisya, agar tubuh polos nan mulus sang istri tertutup sempurna. Diciuminya kembali seluruh wajah Lisya dengan lembut. Tiada henti Gathan meneteskan air matanya saat melihat bibir sang istri terlihat sangat pucat.
“Maafkan aku Ra. Maafkan aku yang tidak dapat mengontrol emosi ku. Hingga membuat mu seperti ini.” Gumam Gathan pelan.
__ADS_1
“Sadarlah sayang.! Aku janji tak akan menyakitimu kembali.” Sesal Gathan.
Tak lama, pak San mengetuk pintu sehingga membuat Gathan segera bangun dari posisinya, lalu mengusap air mata yang lolos di pipinya.
“Silahkan masuk pak San.” Ucap Gathan setelah membuka pintu kamarnya.
“Baik tuan muda.” Jawab pak San, kemudian mengikuti Gathan yang lebih dulu sudah masuk menghampiri Lisya.
“Maaf, nona Qaleesya kenapa tuan?” Pak San terkejut saat melihat Lisya terbaring lemas dan terlihat pucat.
“Istriku pingsan. Berikan padaku minyak angin yang aku pinta tadi!” Ucap Gathan. Lalu ia mengusapkan minyak angin itu pada leher, dada, serta ia arahkan minyak angin itu pada hidung Lisya.
“Maaf tuan, sebenarnya nona Qaleesya sedari tadi belum makan siang. Bahkan tadi pagi juga hanya sarapan sedikit saja.” Pak San baru sempat mengatakannya, karena tadi Gathan menolak untuk berbicara padanya.
“Apaaa!!! Pantas saja! Kenapa anda tak memberitahuku sejak awal!?” Bentak Gathan.
“Maaf tuan muda, Maafkan kelalaian saya!” Pak San tak ingin membantah ucapan tuan mudanya. Karena apapun yang diucapkannya akan terdengar seperti pembelaan. Pak San tahu, jika tuan mudanya itu paling tidak suka pembelaan saat kenyataannya memang salah.
“Lain kali,aku tidak akan memaafkan jika sampai istriku telat makan!” Ucap Gathan sambil terus mengarahkan minyak angin di hidung Lisya.
“Baik tuan.” Jawab pak San patuh.
“Letakkan air minum itu disana, segera siapkan makanan untuk istriku! Pastikan apapun yang akan dikonsumsi istriku benar-benar sehat dan aman.!” Perintah Gathan.
“Baik tuan muda. Saya permisi.” Pak San meninggalkan Gathan saat mendapat anggukan darinya.
“Hah, sungguh bod*hnya diriku. Memaksamu, disaat kamu belum makan apapun.” Gathan mengusap lembut rambut Lisya.
“Bod*h kamu Gathan, Bod*h.!!!” Gathan memukul kepalanya sendiri dengan keras, ia menyesal karena telah menyakiti istrinya.
“Bos, dokter Rita sudah datang.” Ucap Teo dibalik pintu.
“Masuk, pintunya tak dikunci.” Perintah Gathan yang masih setia memandang Lisya.
“Permisi tuan Gathan.” Sapa dokter Rita.
“Silahkan dok.!” Gathan berdiri dari posisinya agar dokter Rita bisa memeriksa istrinya.
.
.
“Bagaimana kondisi istri saya dok?” Tanya Gathan yang tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.
“Maaf tuan Gathan, apa anda berdua telah melakukan kegiatan yang berlebihan sebelumnya?” Tanya dokter Rita saat melihat tanda merah yang begitu banyak di leher Lisya.
“I-iyaa dok. A-apa itu menjadi penyebab istriku pingsan?” Jawab Gathan malu-malu.
“Bisa dibilang begitu, istri anda pingsan karena kelelahan, terlihat tekanan darahnya saat ini sedikit rendah.” Jawab dokter Rita dengan senyum agar tak membuat Gathan khawatir dan malu. Ia juga baru tahu jika Gathan telah memiliki istri, saat tadi Teo menelponnya.
Teo yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.
Ckckcckck, boss, boss… Apa tak bisa kalem dikit.? Main seruduk aja sampe pingsan begitu Hahaha
Gumam Teo dalam hati, sehingga bibirnya tersenyum tipis.
“Teo…! Kau mau aku buat pingsan juga!” Gathan geram karena melihat asisten sekaligus sahabatnya itu menertawakannya. Sedangkan dirinya saat ini begitu khawatir dan malu.
__ADS_1
"Tidak bos. Maaf. " Teo kembali memasang wajah seriusnya.
"Kapan dia bisa sadar dok? Tanya Gathan kembali.
“Saya akan berikan infus untuk mengembalikan tenaga istri anda, supaya segera sadar. Karena sepertinya istri anda juga telat makan.” Jelas dokter Rita saat memeriksa bagian perut Lisya.
“Lakukan yang terbaik dok.” Perintah Gathan.
Dokter Rita mengangguk, dengan senyum ramahnya.
“Dok, Emmm,, apa keluar darah saat ‘melakukan itu’, tidak membahayakan istri saya?” Tanya Gathan ragu-ragu. Ia takut jika terjadi hal yang serius dengan Lisya.
“Teo.! Keluarlah! Jangan sampai aku kembali melihat wajahmu yang menyebalkan itu!” Gathan menyadari jika Teo kembali menertawakannya dalam diam.
“Baik bos. Saya permisi.” Teo berjalan keluar kamar sambil cekikikan.
“Apa anda berdua baru pertama kali melakukannya?” Tanya dokter Rita setelah selesai memasangkan infus pada Lisya.
“I-iya dok” Gathan khawatir dan malu-malu mengakuinya.
“Keluar darah dari **** * saat pertama kali melakukan hubungan suami istri, itu sangatlah wajar tuan. Hal itu terjadi karena adanya robekan pada selaput dara yang ada didalam sana. Namun biasanya volume darah yang keluar akan semakin banyak, jika dilakukan dengan paksa dan kasar.” Jelas dokter Rita.
Deg,
Seolah Gathan terpukul keras oleh ucapan dokter Rita. Tubuhnya menegang, keringatnya kembali menetes di pelipisnya. Ia semakin merasa bersalah dengan Lisya. Hatinya sakit, karena pada kenyataannya ia telah ‘melukai’ istrinya itu hingga banyak mengeluarkan darah, yang menyebabkannya pingsan.
“Tuan tenang saja, istri anda akan segera sadar setelah mendapatkan infus. Saya tidak meresepkan obat, karena istri anda memang tidak sakit. Cukup makan yang teratur, minum yang banyak, dan istirahat yang cukup, istri anda akan kembali sehat.” Jelas dokter Rita.
“Tolong hubungi saya kembali, jika infus istri anda akan habis. Dan, untuk sementara waktu, sebaiknya tuan ‘berpuasa’ terlebih dahulu hingga kondisi istri anda membaik.” Saran doker Rita sambil tersenyum penuh arti.
Gleg,
Gathan menelan salivanya dengan susah. Saat ini ia benar-benar malu dengan dokter Rita.
“Ba-baik dok. Terimakasih banyak.” Ucap Gathan terbata karena salah tingkah.
“Kalau begitu, saya permisi tuan.” Pamit dokter Rita, kemudian hanya dijawab anggukan oleh Gathan.
Dokter Rita keluar dari kamar, lalu diantarkan Teo untuk keluar mansion.
“Teo, Aku tunggu kau di ruang kerja setelah mengantar dokter Rita!” Perintah Gathan, saat dirinya melihat Teo dan dokter Rita belum berjalan terlalu jauh.
“Baik bos” Teo menganggukkan kepalanya, lalu diikuti dokter Rita.
To Be Continued 🖤
- Annyeong pembaca yang budiman 💕-
Ganassss juga si mbebs Gathah. Efek berpuasa terlalu lama sih hahah.
Eh baru juga ngerasain berbuka, malah disuruh puasa kembali sama dokter Rita. Nasib, nasib. Sabar ya mbebs, Othor lagi sensi sama kamu. 😀
– Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! –
Salam cium dan peluk jauh. 🤗
__ADS_1