GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Berita Buruk


__ADS_3

🌀 Flashback On 🌀


** Bandara Juanda **


" Rudi, Saya minta kirim orang kepercayaanmu untuk menjadi salah satu pegawai di panti Bina Bakti! " Ucap Gathan disela kegiatan makan siangnya.


"Untuk apa bos?" Potong Teo


"Saya ingin memantau perkembangan panti itu, dan...... kondisi pak Hasan. Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan beliau mengingat usianya semakin tua." Jelas Gathan, Entah mengapa ia merasa khawatir saat melihat kondisi pak Hasan saat ini.


"Baik tuan Gathan." Jawab Rudi patuh.


"Tolong selalu kabari Teo, apa saja yang terjadi disana setiap harinya. Terlebih, jika menyangkut dengan pak Hasan.!" Pinta Gathan tegas.


"Laksanakan tuan." Jawab Rudi kembali.


Kemudian ketiganya melanjutkan makan siangnya dalam diam. Lalu tak lama pesawat jet pribadi yang Gathan dan Teo tumpangi telah lepas landas menuju Jakarta.


🌀 Flashback Off 🌀


** Bandara Soekarno Hatta **


"Ayo turun!" Gathan menarik tangan Lisya saat dirinya sudah berdiri didepan pintu mobil sambil kepala nya menunduk kearah Lisya sedangkan tangannya meraih tangan Lisya.


"Jelasin dulu, kita mau kemana? Jangan asal main tarik begini dong!" Lisya menarik tangannya dari genggaman Gathan.


"Ckk,, Turun sendiri, atau aku yang menggendong mu!" Ancam Gathan yang sudah frustasi dengan sikap Lisya yang susah diatur.


"I-iiiyaaaa." Lisya turun dari mobil dengan wajah masam.


"Aahhh.... Turunin Gathan! Kan aku udah turun sendiri tadi!" Teriak Lisya karena dirinya telah digendong kembali oleh Gathan ala bridal style seperti saat dikampus tadi.


"Kamu berani panggil aku dengan namaku saja ya!!" Ucap Gathan sambil terus berjalan.


"Bodoh amat! Kamu turunin aku gak!" Teriak Lisya sambil menepuk-nepuk bahu Gathan.


"Nanti aku turunkan saat sudah didalam pesawat! Sekarang diamlah, jika kamu tak ingin semakin menjadi pusat perhatian orang-orang disini.!" Jelas Gathan. Ia tahu jika menunggu Lisya berjalan sendiri, akan semakin membutuhkan waktu lama.


Lalu Lisya melihat ke arah sekitarnya, benar saja ia saat ini menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya. Lisya yang sangat malu, secara reflek merapatkan kedua tangganya ke leher Gathan lalu menyusupkan kepalanya ke dada bidang Gathan agar wajahnya tertutupi.


Deg.. Deg.. Deg..


Loh,, kenapa detak jantungnya keras sekali. Apa dia menahan capek, karena gendong tubuhku yang padat aduhai ini??


Gumam Lisya dalam hati.


Siall,, Kenapa jantung gue!? Ngapain juga kepalanya di susupkan disitu sih! Niat hati gendong dia biar cepet sampe sana, eh malah gue yang dibikin deg degan kayak gini.!


Gumam Gathan dalam hati.


Gathan menahah gejolak itu dengan tetap berusaha berjalan seperti biasa saja tanpa memprotes perlakuan Lisya kepadanya karena ia enggan berdebat dengan Lisya yang menurutnya sangat keras kepala itu. Ia juga tidak memberitahukan kondisi ayah Lisya yang sebenernya karena ia tidak ingin Lisya khawatir saat masih diperjalanan.


Sedangkan Teo, hanya menggeleng tak percaya melihat kelakuan bos yang didepannya itu. Ia tak menyangka bahwa bosnya akan menggendong Lisya tanpa memikirkan harga dirinya.


"Selamat siang tuan Gathan,, Pesawat sudah siap untuk lepas landas." Sapa pilot pribadinya disaat Gathan sudah tiba di tempat pesawat jetnya berada. Disana juga sudah ada beberapa pramugari yang siap melayaninya selama di perjalanan udaranya.


Lisya yang mendengar suara orang lain dari dekat, semakin mengeratkan tangannya pada leher Gathan, sedangkan kepalanya semakin ia telusupkan ke dada bidang itu karena ia tak akan mengizinkan orang lain melihat wajahnya saat dirinya sedang dalam posisi yang memalukan itu.


Sedangkan Gathan, ia semakin merasakan debaran jantung yang semakin lama semakin memburu. Wajahnya bersemu merah karena menahan debaran itu, hingga membuat Gathan jadi salah tingkah.


"Baik capt, Terimakasih. Kami permisi masuk dulu." Jawab Teo mewakili sang bos, karena saat ini ia paham betul apa yang sedang dirasakan oleh bosnya.


Kemudian Ketiganya masuk kedalam pesawat jet pribadi itu. Lisya yang mengetahui bahwa dirinya sudah berada didalam pesawat, langsung melepaskan tangannya. Sedangkan kepalanya mendongak ke arah Gathan.


"Turunin aku sekarang juga!" Ucap Lisya sambil menggerak-gerakkan tubuhnya di atas tangan Gathan agar segera diturunkan.


Namun yang ada bukan malah membuat Gathan menurunkannya, tapi justru semakin merapatkan gendongannya pada tubuh Lisya karena menahan sesuatu yang semakin mengeras tapi bukan batu. Entah apa itu, hanya Gathan yang tau. 😀


Ahhh,, shit! Apa ini?? Kenapa ni yang dibawah ikut berontak juga sih.


Aaahh damn!, makin mengeras!

__ADS_1


Gumam Gathan dalam hati


Tubuh Gathan merasakan sesuatu yang berbeda saat Lisya semakin aktif bergerak, hal itu dikarenakan bagian bumper Lisya yang padat aduhai itu beberapa kali tersentuh oleh tangan Gathan yang menumpu bagian kakiknya. Sedangkan matanya sesekali menangkap pergerakan dari gunung gantung Lisya yang entah mengapa baginya sangat menggoda.


"Jangan banyak bergerak. Duduk disini saja. Nanti akan aku jelaskan semuanya!" Ucap Gathan saat berhasil menurunkan Lisya di tempat duduk yang tersedia didalam pesawat jet pribadinya.


"Teo, kamu jaga dia. Jangan biarkan dia bergerak sedikit pun. Aku akan segera kembali" Ucap Gathan kembali lalu berlalu menuju kamar mandi untuk menyelesaikan sesuatu yang sejak tadi mengganjal akibat ulah Lisya. Apa itu? Entahlah, hanya Gathan yang tahu.


'Ehem anuu, perlu dibantu othor atau sabun mbebs? Ehh kok sabun, othor mikir opo yo.' 🤔


"Baik Bos." Jawab Teo.


Kemudian pesawat akhirnya lepas landas menuju Bandara Juanda.


"I-ini didalam pesawat??" Tanya Lisya saat baru menyadari pemandangan disekitarnya.



"Benar nona, kita sedang berada didalam jet pribadi milik bos Gathan." Jawab Teo singkat, kemudian mengalihkan pandangannya dari Lisya karena takut terkena potongan gaji oleh bosnya.


"Apaa??! Jet pribadi? Wah gila! Semewah ini!" Racau Lisya sambil matanya masih melihat sekelilingnya.


"Eh.. tunggu-tunggu, kenapa sampai aku dibawa kesini,? Apa bos kamu itu mau pamer ke aku kalo dia punya pesawat jet semewah ini?" Tuduh Lisya.


"Bukan nona, tapi karena bos Gathan menginginkan supaya proses penebangan kita lebih cepat saja." Jelas Teo.


"Lebih cepat? Ah.. aku baru ingat, Apa itu ada hubungannya dengan kondisi ayahku? Kita ini mau ke Surabaya kan? Sebenarnya apa yang terjadi? Tolong beri tahu aku, ayahku tidak sedang baik-baik saja kan? Kalau tidak, kenapa harus memakai pesawat jet pribadi begini?" Tanya Lisya dengan wajah yang panik karena kembali teringat dengan kondisi ayahnya yang belum ia ketahui.


"Nanti bos Gathan akan memberitahu anda nona." Jawab Teo singkat.


"Kak Teo.!!!!! Please kasih tahu aku!" Ucap Lisya memohon.


"Bango! Bukan kak Teo! Kenapa kamu kembali memanggil dia dengan sebutan itu??" Potong Gathan saat kembali dari kamar mandi dengan kondisi rambut yang masih sedikit basah. 🤔


"Bos, baru selesai olahraga?" Tanya Teo dengan nada yang mengejek. Bibirnya sedikit terangkat, karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Tutup mulutmu,! Aku lempar kamu dari sini.!" Jawab Gathan sambil mendelik kearah Teo. Ia tahu jika asisten sekaligus sahabatnya itu sedang mengejeknya.


"Kak.. sekarang ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi. Kita sedang menuju ke Surabaya kan? Ayahku kenapa kak? Tolong beritahu aku sekarang!" Pinta Lisya sambil memegang lengan Gathan yang sebelumnya duduk disampingnya. Matanya kembali berkaca-kaca karena khawatir dengan kondisi ayahnya.


🌀 Flashback On 🌀


** Panti Asuhan Bina Bakti **


"Eh pak Hasan, kok bapak terlihat pucat ya hari ini?" Sapa Ari salah satu pegawai panti baru, yang tak lain adalah orang suruhan Rudi.


Ari diberi perintah oleh Rudi, untuk memastikan keamanan yang ada didalam panti, serta memantau kondisi pak Hasan setiap harinya dengan melamar menjadi salah satu tukang kebun dipanti tersebut. Sekarang ia sudah satu minggu bekerja disana. Setiap harinya ia akan melaporkan kondisi disana kepada Rudi yang nantinya akan diteruskan kepada Teo.


"Iya nak, saya sedang tidak enak badan saja." Jawab pak Hasan, kemudian membantu Ari untuk menyirami tanaman yang ada pada taman belakang panti.


"Kenapa bapak tidak pulang saja, kalau memang sedang tidak enak badan?" Tanya Ari lagi.


"Pagi tadi memang istri saya melarang saya datang kesini, tapi kebetulan pagi itu juga saya ada janji temu dengan donatur x, jadi saya harus datang. Tidak enak jika saya membatalkan janji dengan donatur itu, masak niat baiknya tertunda hanya karena saya yang sedikit tidak enak badan ini." Jelas pak Hasan.


"Kalau begitu, pak Hasan istirahat saja. Ini sudah jadi tugas saya pak." Jelas Ari.


"Yasudah saya permisi dulu nak, saya mau ke kamar mandi. Mau wudhu sekalian heheh." Ucap pak Hasan saat mendengar adzan dhuhur.


Setelah itu pak Hasan kembali masuk kedalam panti. Namun tak lama Ari mendengar suara teriakan salah satu anak panti menyebut nama pak Hasan.


"Ayah,,,,, ayah Hasan..! Tolong!!...Huhuhu." Ucap Icha, anak panti yang paling tua, usia sekitar 20 tahunan.


"Eh suara apa itu?" Gumam Ari, lalu dengan segera ia berlari ke arah sumber suara itu.


"Icha ada apa,?? Astaghfirullah pak Hasan!" Ucap Ari yang kaget saat melihat pak Hasan tersungkur di lantai kamar mandi dengan kondisi sudah tidak sadarkan diri. Dengan segera Ari membalikkan tubuh pak Hasan, lalu diletakkannya kepala itu di atas paha Ari.


"Pak, pak Hasan..?" Ari mencoba menepuk pelan pipi pak Hasan berulang kali.


"Icha, kenapa ini pak Hasan?" Tanya Ari panik, karena panggilannya tak ada respon.


"Aku gatau mas, tadi pas aku lewat depan kamar mandi terdengar suara seperti orang jatuh, trus pas aku coba intip dari pintu yang terbuka sedikit itu,, aku lihat ayah Hasan udah tersungkur begitu. Hiks hiks hiks." Jelas Icha sambil menangis karena tak kuasa melihat kondisi ayah angkatnya itu.

__ADS_1


"Ya Allah, ini kenapa bibirnya jadi miring begini, tangannya juga." Gumam Ari pelan, saat baru menyadari adanya perubahan pada bibir dan tangan pak Hasan.


"Apa beliau terkena gejala stroke??" Gumam Ari lagi.


"Icha, cepat kamu panggil ambulance, trus kamu beri tahu bu Arofah. Pak Hasan biar mas Ari bawa ke kursi depan itu dulu." Perintah Ari kepada Icha. Bu Arofah adalah selaku kakak sepupu pak Hasan sekaligus pemilik panti Bina Bakti.


"Baik mas." Dengan segera Icha berlalu dari kamar mandi dan melakukan perintah Ari.


Setelah menunggu hampir lima belas menit, akhirnya mobil ambulance telah datang, dengan segera para petugas ambulance memindahkan pak Hasan kedalam mobil ambulance untuk dibawa ke Rs. Xxx yang ada di Surabaya dengan ditemani oleh Ari, dan bu Arofah.


** Rumah Sakit Xxx Surabaya **


"Bagaimana kondisi adik saya dok?" Tanya bu Arofah setelah pak Hasan ditangani oleh dokter terbaik Surabaya yang diperintahkan langsung oleh Gathan.


"Maaf bu, Setelah kami periksa, sedari awal pak Hasan sedang demam tinggi, maka dari itu beliau pingsan. Namun saat pingsan, sepertinya kepala pak Hasan terbentur keras dilantai kamar mandi, sehingga menyebabkan Pendarahan subarachnoid. Perdarahan subarachnoid ini terjadi karena pecah atau rusaknya pembuluh darah pada selaput pelindung otak. Hal itu yang membuat pak Hasan semakin kehilangan kesadarannya, dan... mengalami gejala stroke. Tapi syukur, pak Hasan tidak sampai koma. Setelah ini kami akan segera menjadwalkan operasi untuk beliau, agar pendarahannya segera terhentikan." Jelas dokter Roy yang menangani pak Hasan


"Allahuakbar Hasan..!! huhuhuhu.." Ucap bu Arofah histeris, lalu langsung limbung.


"Saya pasrahkan ke dokter saja, lakukan yang terbaik untuk pak Hasan ya dok." Ucap Ari sambil membopong bu Arofah yang semakin lemas.


"Kita pasrahkan semuanya ke yang diatas ya pak, kami akan tetap melakukan yang terbaik untuk beliau. Namun doa dari kita semua saat ini juga dibutuhkan sama beliau. Kalau begitu saya permisi dulu."


" Iya dok." Jawab Ari yang mewakili bu Arofah, kemudian ia menuntun bu Arofah kearah tempat duduk disekitarnya.


Setelah bu Arofah tenang, Ari meminta izin untuk sedikit menjauh dari bu Arofah untuk melakukan telepon. Ya, ia dengan segera melaporkan kondisi tersebut kepada Rudi yang tentunya langsung diteruskan Rudi kepada Teo.


🌀 Flashback Off 🌀


"Ya Allah, ayaaaaaaahhhh ..!!! huhuhuhu. Ayaahhhh..! " Ucap Lisya histeris. Tubuhnya serasa lemas, hingga tak mampu lagi duduk dengan tegap.


"Kak, berapa lama lagi kita akan sampai? Kak aku harus menemui ayah. Ayahhhh,, ayah harus sadar. Huhuhuhu. Ayaaaaahhh!!" Teriak Lisya saat ia kembali berdiri menghampiri Gathan yang disampingnya.


"Kamu tenang Aira.!" Gathan memegang tubuh Lisya yang mulai limbung.


Sesuai dugaan Gathan, Lisya akan sangat khawatir bahkan histeris saat mendengar kondisi ayahnya sekarang. Untuk itu Gathan baru akan memberitahunya saat dirasa Lisya sudah berada ditempat yang nyaman.


"Teo, minta minuman hangat kepada pramugari!" Teriak Gathan saat ia melihat Teo yang menghampirinya dengan panik.


"Baik bos!" Ucap Teo.


Dengan sigap Gathan kembali menggendong tubuh Lisya untuk dibawa kedalam kamar pribadinya agar ia bisa istirahat dengan nyaman.


"Kakk,, ayaaah kak. Gimana kondisi ayah sekarang. huhuhuhuu.." Ucap Lisya saat tubuhnya sudah terbaring lemas diatas kasur. Air matanya tak mampu lagi ia bendung. Pikirannya kalut.


"Kita berdoa sama-sama ya, semoga ayah Hasan baik-baik saja. Aku sudah meminta Teo untuk mengirimkan dokter terbaik di Surabaya untuk menangani pak Hasan." Jelas Gathan untuk menanangkan Lisya.


"Kenapa kakak jahat, gak memberitahu ku sejak tadi!!!" Teriak Lisya.


"Maafkan aku, aku hanya tidak mau kamu khawatir dan histeris saat masih diperjalanan, ya seperti sekarang ini .... Jadi kenapa aku baru bilang ke kamu, supaya kamu bisa lebih tenang dan aman." Jelas Gathan sambil merapikan beberapa helai rambut Lisya yang menutupi wajah cantiknya.


"Ayaahhh, huhuhu.....Maafin Aira yah. Aku gak ada pas ayah sakit. huhuhu. Aku anak yang gak berguna buat ayah. huhu." Racau Lisya.


"Ssstttttt, siapa bilang kamu anak tidak berguna buat pak Hasan. Pak Hasan selalu bangga sama kamu Aira, Aku ingat betul bagaimana beliau begitu bangganya menceritakan kamu didepan ku saat itu." Jelas Gathan sambil jari telunjuknya ia letakkan diatas bibir Lisya supaya berhenti meracau yang tidak jelas.


"Huuhuhu, Kasihan ayah kak. Aku mau ayah kembali sembuh.huhuhu." Racau Lisya lagi.


"Iya..pak Hasan orang kuat, beliau pasti akan sembuh. Kita doakan semoga operasinya berjalan dengan lancar ya." Ucap Gathan.


Cup.


Gathan mengecup lembut kening Lisya. Entah keberanian dari mana, sehingga Gathan mampu melakukan itu. Sedangkan Lisya hanya terdiam dan tak mampu memprotes atas perlakuan Gathan kepadanya karena tubuhnya yang lemas akibat berita buruk yang diterimanya. Seketika pipi Lisya merah merona menahan malu atas perlakuan Gathan yang menurutnya sangat hangat itu.


"Kamu tunggu sini, aku ambilkan minum ya. " Ucap Gathan memecahkan kecanggungan itu, lalu beranjak dari kasur untuk mengambil minuman. Sedangkan Lisya hanya bisa mengangguk pelan.


To Be Continued 🖤


-- Annyeong pembaca yang budiman 💕--


Maafkan othor baru sempat update lagi. 🙏


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --

__ADS_1


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2