GILA! TAPI AKU CINTA!

GILA! TAPI AKU CINTA!
Cinta atau Obsesi Semata?


__ADS_3

"Sya,, kamu harus tepatin janji kamu.! Sekarang kamu ceritain semuanya ke aku.!" Via menagih janji saat jam mata kuliah terakhirnya telah usai.


"Ck, Gak sabaran banget sih. Belum juga keluar kelas." Lisya mencebikkan bibirnya.


"Memangnya kamu mau cerita di luar kelas?" Tanya Via.


"Iya, lebih tepatnya di rumah suami aku." Jawab Lisya sambil malu-malu saat menyebut kata suami.


"Ciyeeee, yang punya 'suami' sekarang. Hah,, Jadi pengen di khitbah juga nih." Ucap Via sambil kedua telapak tangannya ia letakkan di kedua pipinya, sedangkan matanya menatap langit kelas. Bibir nya tersenyum manis, pikirannya melalang buana.


"Hissssh,, Khitbah apanya. Pacar aja segudang." Lisya menyenggol bahu Via karena tahu jika sahabatnya itu f*ck girl.


"Apa sih, mereka itu bukan pacar tau. Tapi cuma sebatas temen aja. Mereka aja yang suka baper. hohoho." Elak Via tak mau kalah.


"Hah. Terserah kamu deh." Jawab Lisya malas.


"Heheh, trus kita nunggu apa ini?" Tanya Via.


"Tunggu dapet izin dari yang punya rumah. Bentar, aku kirim pesan ke dia dulu." Ucap Lisya sambil tangannya mengetik pesan kepada kontak yang bertuliskan 'Suami Tercinta'.


Sebenarnya Lisya geli saat melihat tulisan itu, tapi karena tahu jika nama itu hasil karya Gathan yang tak lain suaminya, maka ia berusaha membiasakannya.


To : Suami Tercinta


Kak, aku udah selesai kuliahnya. Mau minta izin ajak Via ke mansion kakak, boleh?


Drt... Drt.. Drt..


Ponsel Lisya berdering setelah beberapa detik, ia mengirimkan pesan.


"Hah, ngapain harus video call sih?" Gumam Lisya pelan.


"Ya kak?" Jawab Lisya saat panggilan video itu ia terima.


"Lagi dimana sayang?" Tanya Gathan di seberang teleponnya.


Ya, yang melakukan video call kepada Lisya itu adalah Gathan.



"Masih di kampus kak. Mau keluar kelas." Jawab Lisya malu-malu.



"Yasudah, langsung pulang ya.!" Perintah Gathan.


"Eh, ka-kakak nggak baca pesan ku?" Tanya Lisya ragu.


"Sudah." Jawab Gathan singkat.


"Trus?? Boleh nggak?" Tanya Lisya kembali.


"Hem. Tapi ingat, hanya temanmu itu. Suruh satu mobil denganmu saja, Biar nanti pulang diantar oleh ujang." Perintah Gathan.


"Iya kak. Siap. Makasih kak." Jawab Lisya sambil tersenyum senang.


"Kamu gak tanya aku lagi dimana gitu?" Sindir Gathan memelas.


"Eh, i-iya lupa kak. Hehe. Kakak lagi dimana?" Tanya Lisya.


"Hah, dasar... Aku sedang dalam perjalanan ke Bandara. Sebentar lagi sampai, lanjut ke Bandung." Jelas Gathan.


"Oh gitu. Hati-hati ya kak. Jangan lupa istirahat." Pesan Lisya dengan pipi yang bersemu merah.


"Tentu saja. Aku akan selalu berhati-hati, supaya aku bisa segera kembali menemuimu dan,,,, menerkammu." Seringai licik bertengger di bibirnya.


"Apa sih kak. Malu didengar Via. Aku tutup dulu ya kak. Mau langsung pulang." Pinta Lisya dengan suara pelan. Ia malu saat mendengar ucapan Gathan yang sudah pasti dapat didengar Via.


"Tidak boleh.!" Jawab Gathan singkat. Wajahnya datar.


"Kok gak boleh,?" Lisya mengernyitkan dahinya.


"Sebelum kamu panggil aku sayang." Ucap Gathan dengan tatapan menggoda.


"I-iya kak. Ehh sa-sayang. Aku pulang ya sa.. yang?." Lisya berkata dengan sangat pelan. Karena malu jika Via mendengarnya.


"Apa? Gak dengar sayang." Goda Gathan kembali.


"Aku pulang sayang. Assalamualaikum." Ucap Lisya dengan cepat.


Tut.


Lisya yang begitu malu, dengan cepat menutup panggilan video suaminya itu.

__ADS_1


Lisya menoleh ke arah Via yang sedari tadi duduk disampingnya. Via berpura-pura tidak mendengarnya dengan sok sibuk memainkan ponselnya.


"Heleeehhh. Gak usah pura-pura gak denger. Aku doain ntar budek beneran kamu." Sindir Lisya dengan sinis.


"Pfftttt hahahah, Ihh... amit-amit jangan dong." tawa Via pecah karena nyatanya Lisya menyadari jika dirinya telah menguping sedari tadi.


"Udah, gausah banyak omong kamu. Kita pulang sekarang." Lisya menarik tangan Via supaya berjalan keluar kelas karena dirinya saat ini sedang menahan malu.


Tak lama kemudian, Keduanya sampai di parkiran mobil VVIP yang ditumpangi Lisya tadi.


"Siang menjelang sore mang Ujang." Sapa Lisya sambil menundukkan kepalanya sesaat.


"Siang non, sudah selesai kuliahnya? Tanya Ujang, supir Lisya.


"Sudah. Kita langsung pulang ya mang." Ucap Lisya sambil menggandeng tangan Via.


"Baik non. Eh, maaf. Ini..?" Tanya Ujang saat melihat Via.


"Oh, ini sahabat saya mang. Dia akan ikut saya pulang ke mansion." Jelas Lisya.


"Oh begitu. Maaf non, tapi saya kasih kabar tuan Gathan dulu." Ujang mengambil ponselnya di saku celana.


"Oh silahkan." Ucap Lisya yang mengerti jika itu adalah perintah Gathan.


Lalu, Ujang sedikit menjauh dari Lisya dan Via. Ia menelpon Gathan untuk melaporkan jika istri majikannya itu mengajak teman untuk dibawa ke mansion. Setelah mendapat konfirmasi dari Gathan, Ujang kembali dan membukakan pintu mobilnya.


"Silahkan nona." Ujang tersenyum kepada Lisya dan Via.


"Terimakasih mang." Ucap Lisya kemudian masuk kedalam mobil.


Tak berapa lama, mobil yang ditumpangi Lisya dan Via meninggalkan kampus.


"Wah,, Jadi kamu punya supir pribadi sekarang!"


"Terus apa tadi mansion?? Kamu gak tinggal di apartemen yang waktu itu??" Bisik Via tak percaya.


"Ck, udah kamu diam aja. Ntar aku ceritain semuanya." Bisik Lisya. Ia tidak enak jika supirnya itu mendengar cerita pribadinya.


** Mansion Utama Keluarga Barra **


"Waaaaahhh, Gilaaaaaaaa. Sya, ini beneran mansion mas Brew, eh suamimu itu?" Racau Via tiada henti saat melihat kemewahan disepanjang kawasan mansionnya. Apalagi saat dirinya sudah memasuki mansion yang terlihat bak istana itu.


"Masak iya aku goro (bohong) sama kamu si Vi." Jawab Lisya sekenanya.


"Wah, ternyata kamu menikah dengan the real sultan. Aku jadi pengeeeenn." Racau Via.


"Sore pak. Ini Via, sahabat saya." Jelas Lisya.


"Selamat sore nona Via." Sapa pak San ramah.


"Oh ya, sudah waktunya makan nona, kami sudah menyiapkannya." Ajak pak San.


"Nanti ya pak. Saya belum terlalu lapar." Tolak Lisya.


" Maaf nona, Tadi tuan Gathan berpesan kepada saya jika nona harus makan saat sudah sampai di mansion." Jelas pak San.


"Hah, Dasaarr orang itu." Gumam Lisya pelan.


"Yasudah pak. Setelah ini saya akan kesana. Pak San duluan saja ya." Perintah Lisya.


"Baik nona. Saya permisi." Ucap pak San.


Akhirnya Lisya dan Via bergegas menuju meja makan dan mereka makan bersama dalam diam. Karena pak San menunggu dan mengamatinya dari kejauhan.


Setalahnya Lisya dan Via bergegas ke lantai 3 untuk masuk ke dalam kamar tamu. Lisya tak mengajak Lisya ke kamar utama, karena Gathan melarang untuk membawa orang lain masuk kesana selain pak San, pelayan khusus dan tentunya Teo.


Kamar tamu itu tak kalah mewah, namun tak sebesar kamar utama.



"Sumpah, ni mulut aku tiada henti terpesona sama kemewahan mansion si mas brew kamu. Kamar tamu aja semewah ini."


"Dan lagi, kamu layaknya ratu disini Sya. Semuanya tadi terlihat patuh banget sama kamu." Ucap Via sambil menidurkan tubuhnya di kasur super empuk itu.


"Hah,,, Sudah lama sekali aku tak tidur di kasur se empuk ini. Heheh. Nyaman juga ya. Jadi pengen pindah di apartemen. Gara-gara gak ada kamu dikosan juga, jadi sepi." Racau Via.


"Kayaknya emang kamu harus pindah deh Vi. Demi keselamatan kamu juga. Lagian kamu gak takut apa bohongin orang tua kamu terus. Entar kualat kamu baru tau rasa!" Ucap Lisya sambil tersenyum mengejek.


"Hii, amit amitt.. Jangan sampai laah. Ntar deh aku coba tanya-tanya ke temen-temen yang pada tinggal di apartemen." Ucap Via.


"Nah gitu dong. Baru anak sholihin. Wakakak." Ejek Lisya.


"Ck, Udah jangan ngejek aku terus. Sekarang waktunya kamu ceritain semuanya ke aku."

__ADS_1


Tak pakai lama Lisya menceritakan semua yang terjadi, namun tak begitu detail untuk hal yang 'iya iya' nya. Ia hanya menceritakan jika suaminya itu terkena prank selama honeymoon. 😀


"What thee,, berarti mas brew kamu belum unboxing sampai sekarang?" Tanya Via sambil menggelengkan kepalanya.


"Belum, hehehe.". Lisya hanya menggelengkan kepala malu-malu.


"Ya ampun Sya, Kamu tu ya. Dosa tau bikin suami cenut-cenut begitu. Lagian, kamu gak takut apa kalau mas brew kamu jadi kepincut sama pelakor diluar sana, karena dia gak dapet apa yang seharusnya dari kamu." Ceramah Via. ia begitu fasih jika membahas soal 'iya iya'.


"Habisnya aku belum siap Vi. Lagian aku juga lagi palang merah ini. Jadi ya gak sepenuhnya salah aku." Bela Lisya.


"Iya memang palang merah bukan salah kamu, tapi tetep aja kamu mengulur waktu hingga palang itu muncul. Coba pas malam pertama itu kamu pasrah, pasti mas brew kamu lebih bahagia sekarang. Kamu gak kasihan apa, mas brew harus berpuasa selama itu. Apalagi kalian sekarang lagi jarak jauh. Gak bisa bayangin gimana cenut-cenutnya itu si ... hihihi." Jelas Via yang tak meneruskan perkataannya karena merasa geli.


" Hah, tau ah. udah terlanjur juga. Lagian tetep kita itu butuh waktu Vi. Butuh saling membiasakan diri. Kita masih belum tau perasaan kita masing-masing. Jadi aku gak siap jika langsung begitu-begitu." Ucap Lisya.


"Gak siap tapi khilaf sampe begitu,,Coba gak muncul tu palang, pasti gol juga kamu kemarin. wakaakakak. Kamu bilang belum siap, tapi saat disentuh, kamu menikmatinya. Hati dan pikiranmu itu gak sinkron" Ejek Via, yang kenyataannya memang benar.


"Ck, kalau denger dari cerita kamu barusan, menurutku kamu udah ada rasa sama mas brew tuh. Kalau egak, gak mungkin kamu nyaman sama dia. Terbukti kan, kamu hanya beberapa malam bersamanya, udah bisa membalas 'perlakuannya' hohoho. Bahkan udah pasrah sampe mau gol gitu. Kalian itu sama-sama menikmatinya, cuma masih malu mengakuinya. Hahah." Tutur Via panjang lebar.


"Eh, menikmati?? Rasa?" Ucap Lisya pelan.


"Iya, kamu menikmatinya kan kemarin? Itu tandanya kamu ada rasa sama mas brew. Rasa yang aku maksud adalah rasa cinta. Jika kamu menganggap mas brew hanya sebatas kakak, gak mungkin kamu mengizinkan begitu saja disaat mas brew 'memintamu'. Ya, walaupun dengan dalih dia sudah jadi suami mu, Tapi tubuhmu itu akan berkata jujur. Dia akan menolak, jika kamu tak mempunyai perasaan sedikitpun dengannya. Nah ini buktinya kamu bisa sampai kelolosan seperti itu. Itu tandanya, saat itu kamu mengiyakan bukan karena tidak enak sama mas brew, tapi tubuhmu itu menikmatinya, dan hatimu juga mengizinkannya. wakaka" Jelas Via panjang lebar sambil menertawakan sahabatnya yang saat ini menahan malu.


"Dan aku pastikan, suatu saat jika kamu melihat ada cewek yang berusaha ngedeketin mas brew, hatimu bakal panas, dan ingin marah. Nah itu namanya cemburu. Cemburu itu bukti nyata kalau kamu cinta sama mas brew." Jelasnya lagi.


Eh,, Masak iya sih aku cinta sama kak Gathan? Jadi selama ini rasa nyaman itu bukan nyaman kepada kakak ganteng? Tapi nyaman kepada seorang Gathan, yang sekarang jadi suamiku?


Dan,,, a**pa yang dikatakan si Via benar, saat itu entah mengapa aku menikmati setiap sentuhannya. Bahkan tubuhku saat itu tak ingin menolaknya.


Gumam Lisya dalam hati. Ia masih bingung dengan perasaannya.


"Jadi aku mulai cinta sama kak Gathan Vi?" Tanya Lisya pelan.


"Yaps, menurut aku begitu." Jawab Via enteng.


"Cinta itu bermula dari rasa nyaman Sya. Mungkin dulu kamu menganggap mas brew hanya sebagai kakak gantengmu, karena kalian masih sama-sama kecil, belum tahu apa-apa tentang perasaan hati. Tapi jika kalian dipertemukan kembali saat dewasa begini, trus timbul perasaan nyaman lagi setelah sekian lama tak bertemu, itu bukan lagi perasaan nyaman terhadap adik dan kakak Sya. Tapi perasaan saling tertarik antara laki-laki dan perempuan." Jelas Via lagi.


"Tapi,, sejak kapan aku mulai ada rasa itu Vi? Kan kita baru bertemu. Masa aku secepat itu sih jatuh cinta?" Tanya Lisya masih belum percaya.


"Hah,, perasaan cinta itu tidak bisa ditebak Sya. Kalau tanya sejak kapan, emmm... bisa saja sejak kalian di Surabaya, kalian sering bareng kan saat disana? Nah itu, awal mula tumbuhnya benih-benih cinta. Pernah denger kan pribahasa jawa witing tresno jalaran soko nggelibet eh kulino? Nah pribahasa itu, cocok untuk kalian. Hohoho." Via tertawa puas karena merasa berhasil membuka mata hati sahabatnya.


"Tapi,, aku belum tau gimana perasaan kak Gathan ke aku Vi. Dia aja belum bisa pastikan perasaannya sendiri." Ucap Lisya dengan raut kecewa.


"Ck, kalau mas brew mah dilihat pakai mata tertutup aja uda kelihatan banget, kalau dia itu emang cinta sama kamu. Buktinya begitu jelas Sya. Ya meski caranya agak memaksa dan berlebihan, tapi aku yakin itu dilakukannya karena ia tak ingin kehilanganmu." Jawab Via.


"Aku takut itu hanya obsesi semata Vi." Ucap Lisya kembali.


"Memang cinta sama obsesi berbeda tipis sih. Tapi aku yakin, kalau mas brew kamu itu beneran tulus sama kamu." Ucap Via.


"Gimana cara bedainnya?" Tanya Lisya.


"Emmm,, biasanya kalau obsesi, mas brew hanya mau denganmu saja, tak peduli dengan orang sekitar mu. Dan obsesi itu akan hilang, jika dia berhasil mendapatkan apa yang dia mau. Harus dengan pembuktian sih itu. Gabisa hanya teori aja." Via sambil berfikir.


"Pembuktian gimana?" Tanya Lisya penasaran.


"Coba kamu lihat bagaimana sikap dan perilakunya, saat kalian sudah berhasil unboxing. Kalau mas brew sikapnya masih posesif dan tetep lembut sama kamu, berarti memang dia tulus sama kamu." Jawab Via enteng.


"Kalau ternyata berubah?" Tanya Lisya sambil meremas tangannya.


"Yaaa, berarti......" Via tak melanjutkan perkataannya. Ia sepertinya salah bicara.


"Obsesi? Berarti aku harus merelakan mahkotaku terlebih dahulu untuk membuktikan ketulusan kak Gathan? Kalau benar hanya obsesi, gimana nasibku Vi? Gimana kalau misal aku hamil? Apa dia mau bertanggung jawab?" Tanya Lisya penuh ketakutan.


"Ehh,, bu-bukan begitu maksud aku. Pokoknya aku yakin kalau mas brew itu tulus sama kamu. Buktinya dia begitu baik denganmu bahkan keluarga mu benar-benar dia jaga dengan baik kan? Bahkan sebelum menikah denganmu, mas brew udah kirim mata-mata buat jagain ayah kamu. Coba bayangkan kalau mas brew gak kirim orang di panti? Apa yang bakal terjadi dengan ayah kamu sekarang Sya?" Jelas Via yang merasa bersalah.


"Tapii Vi,,, Akuu....."


"Udah, kamu yakin sama suami kamu aja. Aku yakin, mas brew benar tulus cinta sama kamu. Hanya saja dia butuh waktu untuk memastikannya. Percaya padaku, akan ada saatnya kalian berdua akan saling mengakui perasaan kalian masing-masing." Via memeluk Lisya.


"Aamiin, semoga ya Vi." Lisya membalas pelukan Via dengan perasaan yang tidak bisa ia artikan.


~~


Tak terasa hari sudah malam, setelah berjam-jam keduanya saling bercerita, pak San menghampiri Lisya dan Via untuk makan malam. Setelah makan malam, Via pamit untuk kembali pulang ke kosan. Seperti perintah Gathan, Via diantarkan oleh Ujang ke kosannya.


To Be Continued. 🖤


 


 


- Annyeong pembaca yang budiman 💕-


Via ternyata bisa dewasa juga yaa. Apalagi kalau berhubungan dengah hal 'iya iya'. Kira-kira Lisya benar terbuka gak ya hatinya? Atau malah semakin ragu?

__ADS_1


-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! 🙏 supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --


Salam cium dan peluk jauh. 🤗


__ADS_2