
πFlashback On π
Enam Belas Tahun yang Lalu.
Semenjak pertemuan kedua kali itu, Gathan semakin sering mengunjungi Lisya dengan dalih ingin bermain dengan adik-adik panti Bina Bakti. Namun alasan sesungguhnya ialah, ia candu dengan celotehan dan senyum Lisya yang entah mengapa menurutnya sangat menggemaskan itu. Setiap sepulang sekolah, Gathan selalu merengek kepada daddynya untuk ikut bersama pak Hasan. Daddy Barra yang tahu jika putranya tertarik dengan gadis kecil itu, selalu memberikan kebebasan untuknya. Karena beliau menyadari, semenjak mengenal Lisya, Gathan kembali menjadi anak yang hangat, dan periang. Seolah ia telah melupakan kejadian yang menimpa keluarganya.
Gathan dan Lisya menghabiskan waktu bersama dari siang sampai sore bahkan terkadang, mereka menginap di panti tersebut jika daddy Barra ada keperluan di luar negeri. Ya, saat itu memang daddy Barra sangatlah sibuk berbolak-balik luar negeri mengurus ini itu untuk kembali menstabilkan BR Group yang sempat kolaps akibat ulah sang asisten yang mengkhianatinya.
Kadang juga, Gathan ikut menginap di rumah pak Hasan, karena Lisya merengek minta di bantu mengerjakan tugas sekolahnya. Gathan yang memang terlahir cerdas, membuat Lisya semangat untuk belajar dengannya. Karena dengan bantuan Gathan, membuat nilai Lisya semakin naik tiap harinya.
Foto kebersamaan Gathan dengan Lisya saat kecil.
Saat bersepeda di area rumah Lisya
Saat menginap dirumah Lisya.
Tak terasa, kebersamaannya sudah berjalan selama lima bulan lamanya. Keduanya semakin dekat satu sama lain, hingga seperti adik kakak yang sesungguhnya. Bahkan Nino sang adik kandung Lisya pun tidak begitu dekat dengannya. Hal itu karena Nino masih terlalu kecil jika diajak bermain, sehingga Lisya lebih nyaman ketika bersama Gathan. Ia merasa mendapat perhatian dari seorang kakak yang ia impikan sejak lama.
Namun, kebersamaan itu terpaksa harus terpisahkan saat daddy Barra mengajak Gathan berpindah ke Amerika. Di negara itu daddy Barra mendapat relasi yang lebih kuat untuk mengembangkan BR Group kembali, mengingat daddy yang juga memiliki cabang disana, serta memiliki rekan kerja banyak, yang mau membantunya disana. Beliau tidak mugkin harus berbolak balik Amerika-Indonesia selama waktu yang beliau sendiri belum bisa memprediksinya.
"Nak, daddy terpaksa ajak kamu pindah ke Amerika. Karena tidak mungkin jika daddy ninggalin kamu disini dalam waktu yang daddy pun belum bisa memprediksinya."
"Jika harus bolak balik pun, itu akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Kamu tahu sendiri kan, jika perusahaan daddy sedang dalam kondisi kurang baik. Jadi daddy harus bijak dalam melakukan pengeluaran yang berhubungan dengan perusahaan." Jelas Daddy Barra
"Tapi dad, apa kita ga akan kembali ke Indonesia??" Tanya Gathan yang sebenarnya berat meninggalkan Indonesia terutama kota Surabaya itu.
"Pasti kita akan kembali kesini nak, Kamu kan tau sendiri, jika BR Group memiliki anak cabang disini..Ya meskipun hampir 60% nya sudah banyak yang tutup. Tapi daddy akan berusaha mengembalikan BR Group seperti semula. Dan untuk sementara, BR Group yang ada disini biar di handle oleh uncle Jo kepercayaan daddy di cabang Amerika."
"Kamu belajar yang giat ya nak, supaya bisa jadi penerus BR Group disini. Karena uncle Jo harus bantu daddy disana juga nantinya." Jelas Daddy Barra.
"Hah... Aku akan berusaha yang terbaik untuk membantumu kelak dad. Karena daddy sudah berjuang untukku dan BR Group selama ini." Jawab Gathan pasrah kemudian memeluk daddynya dengan erat. Ia ingin suatu saat, dirinya bisa menjadi seperti daddy Barra, seorang laki-laki yang tangguh, gigih, dan bertanggungjawab kepada perusahaannya..
"Tapi dad, aku mau daddy belikan aku sepeda dan baju couple sebelum kita berangkat ke sana?" Pinta Gathan.
"Untuk apa nak?" Tanya daddy Barra penasaran
"Untuk aku berikan kepada Aira. Aku juga ingin dia main ke kantor daddy untuk terakhir kalinya sebelum kita berangkat. Karena aku malas jika harus berlama-lama di rumah yang penuh kenangan buruk itu!" Jelas Gathan yang langsung membuatnya murung.
"Baiklah, apapun yang kamu minta nak. Apa perlu daddy abadikan pakai foto?" Tanya daddy Barra menggoda
"Ide bagus dad, Jangan lupa di cetak trus simpan di album foto ya dad. Buat kenang-kenanganku. Siapa tahu saat aku kembali kesini, aku bisa berjumpa lagi dengannya" Jelas Gathan dengan raut muka yang kembali ceria.
"Semoga ya nak, kalau jodoh ga akan kemana." Goda daddy Barra.
"Ckk, daddy apaan sih jodoh-jodoh..!" Gathan kesal kemudian meninggalkan ruangan daddynya.
Beberapa hari kemudian, seperti biasa Gathan bermain di panti Bina Bakti, namun kali ini ia ditemani oleh sang daddy. Ia sengaja bermain di sana sebelum keberangkatannya ke Amerika.
Gathan ingin berpamitan kepada pengurus dan adik-adik panti yang selama lima bulan ini sudah mewarnai harinya. Tak lupa ia juga sudah membawa beberapa bingkisan sebagai kenang-kenangan darinya untuk panti tersebut.
Lisya yang mengetahui hal itu menangis sejadi-jadinya. Ia tak mau jika harus berpisah dengan 'kakak ganteng'nya yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
"Kakak ganteng, Aira siapa dong yang temanin kerjain tugas sekolah dirumah?" Rengek Lisya
" Hei, peri kecilku, jangan nangis yaa. Kan kakak uda ngajarin semua yang kamu gatau. Dan kamu juga uda makin pintar sekarang." Hibur Gathan.
"Tapi kalau Aira kesepian gimana dong kak?" Tanya Lisya sambil mengusap air matanya yang keluar di pipinya.
"Ini daddy udah belikan kamu sepeda, Kan kamu katanya suka bersepeda. Jadi kalo kesepian, kamu bersepeda aja biar g kesepian lagi." Jelas Gathan sambil menunjukan sepeda gunung yang berukuran sedang.
"Kakak ganteng, jangan lupain Aira yaa.! Hikss. hikss.." Ucap Lisya sambil kembali terisak.
"Aduuhh, cup.. cupp... cupp. Peri kecil, jangan nangis.. nanti cantiknya hilang loh. Habis ini ikut kakak ke kantor daddy yuk, kakak punya hadiah lagi buat kamu." Ucap Gathan sambil mengusap rambut Lisya, kemudian mengecup kening Lisya.
__ADS_1
Sontak membuat Lisya tersipu malu. Pipinya memerah. Hal itu membuat semua orang yang ada disana, termasuk ayah Hasan, ibu Umairah dan daddy Barra tertawa dan menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah kedua anak kecil itu.
Tak berapa lama akhirnya, Gathan, daddy Barra, Lisya dan ayah Hasan, sampai di gedung BR Group. Sesuai rencana, Gathan memberikan baju couple untuknya dan Lisya, kemudian mereka berfoto sambil bersendau gurau hingga waktu keberangkatan Gathan dan daddy Barra tiba.
Jadi foto ini ceritanya begitu gengs.
π Flashback Off π
** Apartemen Belmont Residence **
"Hahh,, Baiklahh. Seperti yang kamu minta saat dikantorku dulu, Aku akan bertanggungjawab karena telah merebut keperawananmu itu. Menikahlah denganku.!" Ucap Gathan lantang.
Lisya yang mendengar penuturan Gathan, kembali dibuat terkejut. Matanya membulat, bibirnya terbuka lebar.
"Buahahahahahahahah. Biasa aja kali itu mulut, gausah dilebar-lebarin gitu bukanya.Tuh iler netes. Segitu maunya ya nikah sama aku!" Ejek Gathan saat melihat ekspresi Lisya.
Bugh!
"Aww!! Siall!! beraninya kamu!" Teriak Gathan saat senjata meriamnya terkena tendangan kaki Lisya. Meski tak terlalu keras, namun begitu pas. Sehingga membuat sang empu belingsatan.
"Rasakaan! Kenapa tidak dari kemarin aku tendang senjata meriammu itu. Ternyata benar kata Via, rasanya selega ini!" Gumam Lisya kesal.
"Ah Viaaaa, aku baru ingat. Bocah itu pasti mengkhawatirkan ku! Aku kan ga bawa hp. Jelas iki si Bram pasti wis wadul ke Via!" Ucap Lisya panik sambil berdiri saat ingat dengan temannya.
"Heii Bos gil... Ehh,.. Mantan kakak ganteng!. Antar aku pulang sekarang juga! Ini sudah malam. Pasti temanku mencari ku.!" Ucap Lisya tak menghiraukan Gathan yang masih merasakan nyut nyut an pada senjata meriamnya.
" Gathan! Namaku Gathan! Bisa ga sih kamu panggil aku dengan sebutan namaku!" Jawab Gathan yang mulai geram dengan sikap Lisya.
"Iyaaaa se..... Thannnnnn!" Ucap Lisya lirih menahan kesal.
"Setan kamu bilang??? Kamu ngelunjak ya lama-lama!" Ucap Gathan yang makin geram.
"I-iyaaa maaf. Habisnya kamu gak segera anterin aku pulang.! Temenku pasti khawatirin aku!" Ucap Lisya sambil sedikit takut, karena ia menyadari kemarahan Gathan akibat ulahnya yang kurang ajar.
"Ta-tapi aku kan ga bawa baju ganti.!" Jawab Lisya panik.
"Pakai bajuku saja! Kamu lebih aman pakai baju yang kedodoran, daripada harus pakai baju yang super seksi begitu!" Jelas Gathan.
"Cih... Bilang saja kamu tergoda kan sama aku!" Ucap Lisya lalu memencet nomor telepon Via pada handphone Gathan.
Gathan yang mendengar perkataan Lisya, hanya bisa diam, karena memang benar adanya. Ia menoleh kan wajahnya kesamping agar tidak terlihat oleh Lisya jika ia sedang menahan malu.
Tut.. Tutt..
Suara sambungan telepon.
"Hallo, siapa ini??" Suara cempreng terdengar di seberang telepon.
"Aku Lisya Vi. Aku lagi di......"
"Lisyaaaaaa!! Kamu dimana??? Kamu baik-baik aja kan?? kamu ga diapa-apain kan sama bos gilamu itu! Aku uda tau semuanya dari Bram, tadi dia kesini anter tas sama handphone kamu. Dia khawatir sama kamu.!"
" Bilang ke aku, jika dia berani menyentuh mu! Biar aku jumputin itu brewoknya, trus aku giling itu daging beruratnya!"
"Apa dia bilang! Bos gila?? Giling daging berurat? Jumputin brewok gue??" Gumam Gathan penuh emosi saat mendengar suara Via dari seberang telepon. Karena Lisya tidak jauh darinya dengan posisi membelakanginya.
"Trus lagi! Ngapain tuh keong racun atu pake khawatirin dia! Emang dia kakeknya!?" Racau Gathan sinis.. Tanpa sadar, dirinya juga sebenarnya dedengkot keong racun. Bagaimana tidak, justru ia yang memanas saat melihat tubuh seksi Lisya. Apalagi sedari tadi kudu main nyeruduk aja, pingin nyip*k bibir merah Lisya.
"Sssssttttttt aku gapapa, aku masih utuh sekarang. Kamu jangan khawatir. ntar lagi aku pulang. Truss jangan keras-keras ngomongnya kampret.. Ni se-Indonesia Raya bisa denger sama suaramu yang cempreng itu!" Jelas Lisya.
"Uda aku tutup teleponnya, nggibahnya nanti pas aku uda dikos. okay. Bye.!"
Tutt..
Lisya dengan segera menutup teleponnya, sebelum Via berbicara lebih ngawur lagi. Karena itu akan membuat singa bringas didekatnya mengamuk.
__ADS_1
"Nih .!! Makasih!" Ucap Lisya sambil mengembalikan handphone Gathan
"Sudah nggibahnya?? Jadi temenmu itu njumputin brewokku? Trus giling daging berurat ku??" Ejek Gathan dengan senyum sinis.
"Eh,, heheh masih denger yaaa. Maaf maaf, kalo pas ada kesempatan sih kayaknya jadi. Seru kayaknya." Ucap Lisya tersenyum tak berdosa.
"Apa kamu bilang! Berani kamu!" Teriak Gathan.
"Maaf maaf..." Ucap Lisya sambil menunduk karena takut jika Gathan sudah menatap nya dengan tatapan membunuh. Bukan apa-apa saat ini ia masih di apartemennya. Ia sudah jelas kalah telak kalo melawannya disini. Karena tidak akan ada yang menolongnya.
"Sudahlah.. Mandilah terlebih dahulu! Aku juga ingin mandi. Karena lelah menghadapi mu!" Ucap Gathan yang selalu kalah, jika sudah melihat tatapan sendu Lisya, lalu ia melangkah ke kamar utamanya.
"Apaaa!! kita basah-basahan bareng???! Kamu gila ya!" Pekik Lisya.
"Hahh..? Oh Tuhan! Kenapa kamu bod*h sekali Aira!. Pikiran mu tu cuci dulu biar gak kotor!"
Jawab Gathan setelah menghentikan langkahnya
"Hi,, kan kamu yang bilang, juga ingin mandi! Apa itu kalo ga mau basah-basahan bareng?" Tanya Lisya
"Kamu kira apartemen se besar ini hanya ada satu kamar mandi!? Ck.. ndeso sekali kamu! Cepat kamu mandi di kamar tamu sebelah sana. Ikuti aku.!" Jelas Gathan kemudian diikuti Lisya dari belakang.
"Lap ilermu itu!" Ucap Gathan tanpa menoleh saat melewati Teo yang baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar langkah Gathan dan Lisya yang mendekatinya.
Sluurrrrpppp!
"Ehh,, hehe maaf bos. Ini bukan iler, tapi keringat berlebih yang mengalir dari bibir!" Bela Teo sambil mengelap area bibirnya
Lisya yang melihat hanya menggelengkan kepalanya.
Kenapa mereka ini terlihat konyol jika sedang tidak bekerja. Aku tidak yakin, apa benar dialah adalah asisten yang mampu menjalankan segala perintah bos gila itu.?
Gumam Lisya dalam hati.
"Teoo! Turunkan pandangan mu! Atau aku cungkil mata itu!" Ucap Gathan kembali saat tau jika asistennya sedang melihat Lisya yang melewatinya.
"Baik bos.!"
Sial, padahal yang lihat bukan gue. Tu si nona Lisya yang sedari tadi ngeliatin gue. Hahh. Dasaarrrr buciin loe bos!
Gumam Teo dalam hati
Kemudian, Lisya dan Gathan sama-sama membersihkan dirinya di kamar mandi yang berbeda tentunya. Tak lama kemudian, setelah Lisya berganti pakaian milik Gathan. Mereka berdua menuju parkiran mobil yang dibelakangnya ada Teo yang membuntuti keduanya.
Selama perjalanan menuju parkiran mobil, mereka bertiga saling diam, dengan pikirannya masing-masing.
Ciihh, kenapa menggemaskan sekali kalo pakai baju kedodoran itu.
Gumam Gathan dalam hati saat melihat Lisya memakai kaos oblong serta celana training miliknya yang terlihat sangat kedodoran ditubuh Lisya.
Ya robby, ni kenapa aku jadi kejebak sama dua orang aneh ini sampai semalam ini sih. Hah.. tapi terimakasih ya rob, aku keluar dalam kondisi masih utuh, meskipun dengan pakaian dosol begini.
Gumam Lidya dalam hati
Heeemmm jelas,, jadi kambing congek ni gue !
Gumam Teo dalam hati
Tak lama, ketiganya telah berada di dalam mobil Gathan, yang kemudian Teo melajukan mobil tersebut ke arah kosan Lisya.
To Be Continued π€
-- Annyeong pembaca yang budiman π--
Segini dulu ya mbebss,, Othor uda ga kukuh ngetiknya. Wis ngantuk mripatnya. π
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! π supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
__ADS_1
Salam cium dan peluk jauh. π€