
Tujuh hari telah berlalu, yang berarti Gathan sudah lima hari berada di Lombok. Ya hingga saat ini, Lisya dan Gathan masih berhubungan jarak jauh. Hal itu dikarenakan jadwal Gathan yang begitu padat disana. Seperti yang dijelaskan sebelumnya oleh Gathan, ia mendapat banyak undangan dari beberapa koleganya disana. Sehingga membuatnya tidak bisa segera kembali ke Jakarta.
Selama diluar pulau, Gathan selalu rutin menghubungi Lisya melalui panggilan video call. Meski tidak setiap saat, ia selalu menyempatkan tiap hari untuk menghubungi istrinya di tengah kesibukannya. Bagi Gathan, melihat wajah Lisya bisa membuatnya lebih semangat untuk melakukan aktifitasnya.
Meski tak ada disampingnya, Gathan selalu memantau pergerakan Lisya dari jauh. Ia tahu apa saja yang dilakukan istrinya itu mulai dari di luar mansion atau didalam mansion. Namun selama dua hari terakhir, Gathan tidak memantaunya secara langsung, bahkan tidak melakukan video call dengan Lisya sama sekali. Hal itu dikarenakan, Gathan harus menghadiri undangan, dari tempat satu ke tempat lain, yang jaraknya lumayan jauh. Selama diperjalanan, Gathan juga masih harus memeriksa beberapa dokumen yang hendak ia tanda tangani. Sehingga sudah dipastikan seberapa sibuknya Gathan disana.
Selama dua hari terakhir itu, keduanya hanya saling memberi kabar melalui pesan singkat. Itupun jangka waktu Gathan untuk membalas, begitu lama. Karena memang pada dasarnya Gathan tidak begitu suka berbalas pesan. Mengingat kesibukannya, yang membuat ia tak sempat jika harus meluangkan waktunya untuk mengetik sebuah pesan. Ia jauh lebih senang jika langsung melakukan panggilan telepon.
Karena terbiasa menerima panggilan video call dari sang suami, Lisya merasa kesepian saat tak mendapat panggilan rutinnya itu. Segala pikiran negatifnya melalang buana, Ia merasa jika ada perubahan pada sikap Gathan. Namun, Lisya mencoba untuk mengerti jika suaminya itu pasti sedang sibuk.
Siang hari Lisya sudah berada di mansion karena mata kuliahnya tidak penuh. Saat ini, ia hanya berguling-guling di diatas kasur king sizenya yang berada di kamar utama dengan malas. Sambil menunggu balasan dari sang suami, Lisya memainkan ponselnya. Ia membuka aplikasi inst*gr*mnya untuk melihat-lihat postingan terbaru dari akun yang ia follow.
Saat baru membuka aplikasinya, matanya disuguhkan dengan berita viral dari akun gosip 'lambe omes'. Berita itu tentang kandasnya pernikahan seorang artis yang baru seumur jagung. Bahkan berita itu menyebutkan, jika pihak laki-lakinya tidak mengakui atas kehamilan istrinya. Pernikahan itu kandas, karena pihak laki-laki menuduh jika pihak perempuan tengah hamil duluan dengan laki-laki lain sebelum menikah dengan dirinya . Sedangkan, jika dihitung berdasarkan hitungan medis, usia kehamilannya masih bisa dikatakan wajar dari sejak mereka menikah. Namun pihak laki-laki tetap tidak mau bertanggungjawab. Alhasil pihak perempuannya menanggung kehamilannya sendirian.
Lisya yang membaca berita itu menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan artis laki-laki itu.
"Waahh,, gila nih si pedangdut R. Bisa-bisanya gak mau bertanggungjawab setelah berhasil mendapatkan mahkota istrinya." Racau Lisya sambil jarinya terus menscroll komen yang ada dalam postingan itu.
"Lagiaaan, apa dia gak merasakan bedanya saat malam pertama?"
"Usia kehamilannya juga masih dalam batas wajar. Oon banget sih, itu namanya istri kamu tuh waktu proses unboxing lagi di masa suburnya. Yang artinya, sebelum nikah dia baru selesai haid. Gak tau apa kalau kehamilan itu dihitung berdasarkan 'Hari Pertama Haid Terakhir'. Cih, emang dasarnya aja si pedangdut R itu keong racun. Cuma mau rebut mahkota istrinya aja, tanpa mau bertanggungjawab." Omel Lisya panjang lebar, ia sedikit banyak mengetahui teori tentang proses kehamilan awal. Ia terbawa suasana hingga tangannya gatal untuk mengetik sebuah komen yang pedas. Tak lupa ia juga menandai akun pedangdut yang di maksud.
Drt,,, drt,, drt.
Tiba-tiba Lisya mendapat pesan masuk. Dengan segera ia membuka pesan itu, karena mengira jika pengirimnya adalah Gathan.
From : Bramantya
Sya, suami lo lagi di Lombok juga?
"Eh, si Bram ternyata. Kok dia tahu ya?" Gumam Lisya, lalu ia segera membalas pesan itu.
To : Bramantya
Iya Bram. Kok lo tahu?
Lisya lupa jika Bram juga ada pemotretan di Lombok.
Drt,, drt,,, drt.
Ponselnya kembali berbunyi. Lisya membuka pesan dari Bram.
From : Bramantya
Tahu lah, kan gue juga lagi di Lombok.
Ini suami lo yang posesif itu kan!
"Haaaa?? Sama siapa dia?? Kenapa kak Gathan memegang tangannya?? Bukankah kak Gathan selalu cuek ya sama perempuan?" Mata Lisya terbelalak saat melihat foto yang dikirimkan Bram kepadanya. Seketika ia bangun dari tidurnya, dan membalas kembali pesan Bram.
To : Bramantya
Bram, itu dimana? Kok kalian bisa satu lokasi?
Drt,, drt,, drt,,
From : Bramantya
__ADS_1
Di hotel Lombok Sya. Gue sebagai dokumenter acara peresmian hotel itu. Sepertinya suami lo itu jadi tamu undangan mereka.
"Hah,, Lisyaa tenanglah.! Kamu jangan berpikiran negatif dulu. Kan si Bram juga sudah bilang, kalau itu acara peresmian hotel. Kak Gathan kemarin juga sudah bilangkan kalau dia lagi sibuk untuk menghadiri undangan dari koleganya. Perempuan itu pasti cuma koleganya. Ya, pasti." Racau Lisya untuk menetralisir debaran jantungnya. Entah mengapa saat ini hatinya sedikit panas, saat melihat tangan suaminya itu memegang tangan perempuan yang ada di foto itu. Apalagi, suaminya yang ia tahu cuek dan dingin terhadap perempuan, malah tersenyum lebar yang biasanya senyum itu hanya ia tunjukkan kepadanya.
"Apa ini? Kenapa hatiku terasa panas ya?? A-apa ini perasaan cemburu seperti yang dikatakan Via kemarin?" Lisya mengingat apa yang dikatakan sahabatnya kemarin.
To : Suami Tercinta
Lagi dimana kak? Sedang apa?
Lisya mencoba mengirimkan pesan kepada Gathan, ia ingin membuktikan apakah suaminya itu akan membalasnya atau tidak.
Namun, kenyataannya sudah hampir tiga jam Lisya tidak mendapatkan jawaban dari suaminya itu. Membuat Hati dan pikirannya tidak tenang, matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya traveling kemana-mana.
"Apa benar kak Gathan cinta sama aku?? Kalau ternyata hanya obsesi gimana? Dan, kalau ternyata kak Gathan sama seperti si pedangdut itu gimana?" Lisya kembali tiduran, namun kali ini iya tengkurap. Pikirannya kembali teringat pada berita viral yang dibacanya tadi
"Apalagi sudah dua hari ini, sikap kak Gathan berubah cuek. Ditambah,,,,, foto itu. Hikss.." Tak terasa ia menitihkan air matanya.
"Ahh benar, aku baru ingat. Hari ini kan aku baru selesai haid, itu berarti aku bakal ada di masa subur dong. Gimana kalau kak Gathan pulang-pulang meminta haknya? Gi-gimanaaa,, kalau ternyata kak Gathan gak mau bertanggungjawab saat nanti aku hamil? Gimana kalau kak Gathan mengira kalau aku hamilnya terlalu cepat??" Prasangka Lisya yang aneh-aneh semakin membuat pikirannya tak masuk diakal. Ia takut, jika nasibnya akan berakhir seperti berita yang ada di inst*gr*m tadi.
Keesokan Harinya.
Lisya berangkat kuliah dengan malas, hal itu dikarenakan Gathan belum juga membalas pesannya. Bahkan suaminya itu tidak menelponnya sama sekali. Membuat pikirannya semakin kalut.
Saat siang hari, ketika jam kuliahnya telah usai, Lisya meminta Ujang untuk mengantarkannya ke apotek yang searah dengan mansionnya.
Sesampainya di apotek, Lisya segera turun dari mobil. Ia meminta supaya supirnya itu tetap menunggunya dimobil.
To: Tuan Teo
Maaf tuan Teo, nona Lisya hari ini terlihat tidak bersemangat, dan saat ini saya sedang diminta untuk mengantarkannya ke apotek. Saya takut jika nona Lisya sedang sakit
From : Tuan Teo
Cari tahu, apa yang dibeli nona Lisya di apotek itu. Segera laporkan kepadaku!
Ujang mendapat balasan dari Teo. Ia berfikir sejenak untuk mencari cara supaya bisa mengetahui obat apa yang dibeli istri majikannya itu.
"Sudah pak, ayo jalan." Ucap Lisya memecah pikiran Ujang.
"Eh non, tunggu sebentar ya. Saya baru ingat, saya kehabisan stok minyak angin. Mumpung lagi di apotek, saya izin untuk membelinya bentar ya non." Ujang beralasan demikian, supaya bisa menanyakan kepada apoteker disana.
"Oh, tentu saja boleh mang. Silahkan... Apa perlu saya yang belikan?" Tanya Lisya polos.
"Eh, jangan non. Biar saya sendiri saja. Tunggu ya non." Ujang segera keluar dari mobil.
Setelah beberapa menit, Ujang kembali dan melanjutkan mengendarai mobil yang ditumpangi Lisya ke arah mansionnya.
~~
** Mansion Utama Keluarga Barra **
Brakkkk.....!
"Airaa...!!!!!!!" Suara bariton menggelegar di seluruh ruang kamar utamanya.
"Kak Gathan???" Lisya yang tadinya sedang tidur siang, terperanjat kaget karena mendengar suara pintu yang terbanting keras oleh Gathan. Ia juga tak menyangka jika suaminya itu sudah kembali di mansion.
__ADS_1
"Se-sejak kapan kakak kembali kesini?" Tanya Lisya terbata karena takut melihat raut wajah suaminya itu.
"Kenapa?! Kamu tidak senang, jika aku pulang hah?" Ucap Gathan, matanya menajam. langkahnya perlahan mendekat ke arah Lisya.
"Bu-bukan begitu kak. Ke-kenapa kakak tidak mengabariku terlebih dahulu?" Tanya Lisya yang semakin takut.
"Mengabarimu? Supaya apa?? Supaya kamu bisa menyembunyikan obat itu dengan aman? Iya? Supaya kamu bisa meminum obat itu begitu banyak saat tahu kapan aku akan pulang? Begitu??" Amarah Gathan memuncak saat kembali teringat dengan obat itu.
Saat ini tubuh Gathan sudah menindih tubuh Lisya. Hingga tubuh Lisya berada dibawah kungkungannya.
"O-obat?? A-apa maksud kakak?" Tanya Lisya yang semakin takut.
"Kamu tanya maksudku???" Tangan satunya merogoh obat yang ada didalam saku celananya.
"Sekarang aku yang tanya kepadamu, Apa maksudnya kamu membeli obat ini? Hahhh,, katakan Ra.!" Mata Gathan kembali menajam, saat tangannya menunjukan obat yang dipegangnya dihadapan Lisya.
Apaaaa?? Kak Gathaan kok bisa tahu obat itu? Mamp*s akuu!!
Gumam Lisya dalam hati sambil memejamkan matanya sesaat.
"Katakan Ra! Apa maksud kamu membeli dan bahkan meminum obat ini??!!"
"A-aku,,,,,," Lisya bingung harus dari mana menjawabnya.
Epilog
"Mbak, bisa beritahukan kepada saya, obat apa yang dibeli oleh perempuan barusan?" Tanya Ujang saat sudah masuk kedalam apotek.
"Mbak yang cantik berambut panjang, yang pakai baju warna mocca tadi?" Tanya apoteker memastikan.
"Iya betul mbak." Jawab Ujang.
"Maaf pak, bapak siapa ya? Karena saya tidak bisa asal memberitahu privasi customer." Tanya apoteker lagi.
"Saya supir sekaligus bodyguardnya mbak. Dia adalah istri pengusaha nomer satu di negeri ini. Saya diminta langsung, untuk mencari tahu obat apa yang dibeli oleh istri majikan saya itu. Jika mbak tidak memberi tahu saya, bisa dipastikan saya dan mbak akan terkena imbasnya, bisa-bisa kita jadi pengangguran nanti. Jadi tolong kerjasamanya mbak." Jelas Ujang dengan wajah memohon.
Apoteker yang melihat penampilan Ujang, yang memakai pakaian safari. Serta penampilan Lisya yang begitu cantik dengan pakaian dan tas yang bermerk membuat dirinya mempercayai perkataan Ujang.
Akhirnya, apoteker itu menunjukkan obat yang dibeli Lisya. Betapa terkejutnya saat Ujang melihat tulisan yang tertera pada obat itu.
"Ini obat yang tadi dibeli pak." Jelas Apoteker ragu-ragu.
"Ba-baik.. Terimakasih mbak. Saya beli satu ya." Ujang membelinya sebagai bukti untuk tuannya nanti.
Sedangkan di lain tempat, Gathan yang saat ini sudah didalam pesawat, dengan raut wajah yang bahagia dan semangat berniat memberi kejutan kepada Lisya. Ia sengaja tidak memberi kabar tentang jadwal kepulangannya hari itu agar membuat Lisya semakin merindukannya.
Namun, seketika kebahagiaan dan semangatnya itu sirna, saat mendengar berita dari Teo mengenai istrinya.
Dengan wajah merah padam menahan emosi, Gathan ingin segera sampai di mansionnya untuk meminta penjelasan kepada istrinya itu.
To Be Continued đ¤
Â
- Annyeong pembaca yang budiman đ-
Kira-kira obat apa ya yang dibeli Lisya?
__ADS_1
-- Jangan lupa Vote, dan aktifkan tombol Favoritnya! đ supaya tidak ketinggalan kelanjutan ceritanya. Jangan lupa like dan tinggalkan komen supaya author lebih semangat lagi! --
Salam cium dan peluk jauh. đ¤