
Dukung terus novel ini supaya author lebih semangat berkarya dan menulis cerita ini. Terimakasih# (21+).
Didalam kantor Fitri melihat jam tangannya lalu membereskan berkas-berkas penting dan menyimpannya di dalam lemari kecil yang ada di ruangan tersebut. Fitri lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Dimas sudah menunggu didepan kantor tersebut tak lama kemudian Fitri datang menghampirinya.
"Udah lama nunggunya mas?" Sapa Fitri kepada Dimas sambil tersenyum.
"Baru sepuluh menit, ayo naik?" Balas Dimas lalu menyuruh Fitri untuk naik ke sepeda motornya, setelah Fitri naik lalu Dimas menjalankan motor tersebut.
"Gimana pekerjaan kamu?" Tanya Dimas kepada Fitri sambil memandang wajah Fitri dari kaca spion motor tersebut.
"Lancar mas, ada dua karyawan baru yang bandel, tapi aku sudah memberikan pelajaran buat mereka?" Jawab Fitri sambil menjelaskan kejadian di kantornya.
"Pintar kamu? Itu yang harus kamu lakukan kalau ada karyawan yang bandel dan malas bekerja?" Dimas berkata sambil tersenyum dan menoleh ke arah Fitri sebentar.
"Iya mas, karena itu sudah menjadi tanggung jawabku sebagai atasan mereka" jawab Fitri sambil memeluk tubuh Dimas dari belakang.
__ADS_1
"Nanti malam aku jemput kamu? Kita makan malam diluar oke?" Dimas mengajak Fitri untuk makan malam bersama.
"Oke mas, nanti aku ijin sama Ibu" jawab Fitri sambil tersenyum kepada Dimas.
Dimas terus menjalankan motornya sampai di depan rumahnya Fitri, setelah Fitri turun dari motor lalu Dimas berpamitan "sampai ketemu nanti malam?" Ucap Dimas sambil tersenyum kepada Fitri.
"Iya mas, kamu hati-hati?" Jawab Fitri dan melambaikan tangannya.
Dimas lalu menjalankan motornya menuju ke rumah kontrakannya. Sedangkan Evan baru saja sampai dan masuk ke dalam kamarnya lalu bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Seusai mandi lalu Evan hendak memakai baju lalu dering ponsel miliknya berbunyi, Evan lalu menjawab panggilan tersebut ("halo ada apa La?".)
("Buat apa La?") Evan bertanya kepada Lala mengapa dirinya disuruh membawa buah apel tersebut.
("Pokoknya cepat kesini bawa buah apel merah titik!") Lala langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
"Ini anak kenapa sih?" Gerutu Evan lalu bergegas memakai pakaian.
__ADS_1
Setelah selesai lalu Evan mengambil kunci motornya dan melaju ke supermarket untuk membeli buah apel tersebut, Evan mencari-cari buah apel warna merah itu.
"Istrinya lagi ngidam yah mas, banyak banget buah apelnya?" Celetuk Ibu-ibu yang sedang berbelanja di supermarket tersebut.
"Bukan Bu? Ini untuk pacar saya, dia minta dibelikan buah apel?" Jawab Evan sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh kirain istrinya sedang hamil" ucap Ibu tersebut lalu berjalan meninggalkan Evan yang masih memilih buah apel tersebut.
"Hamil? Gak mungkin?" Gumam Evan dalam hatinya, ada ketakutan sendiri kalau seandainya benar Lala sedang hamil.
Setelah Evan membeli buah apel tersebut lalu bergegas menuju ke rumahnya Lala, sesampainya di tujuan lalu Evan mengetok pintu dan dibuka oleh Lala "uwek, uwek, kamu pake parfum apa sih Van, bikin perutku mual aja, uwek, uwek" Lala langsung berlari ke kamar mandi.
Evan hanya bingung apa yang sedang terjadi dengan Lala, Evan lalu masuk dan duduk di ruang tamu sambil menunggu Lala datang. Lala didalam kamar mandi sedang muntah-muntah "uwek, uwek, uwek" Lala memuntahkan seluruh isi perutnya.
Lala berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui Evan yang masih duduk di kursi tersebut.
__ADS_1
*Bersambung*