
Terima kasih atas dukungannya, semoga karya author semakin berkembang dan bisa menghibur bagi pembaca semua.
Fitri masih enggan untuk bangun dari pangkuan Dimas, walaupun kakinya terasa pegal-pegal namun Dimas tak memperdulikannya demi Fitri kekasihnya itu, ''ayo bangun sayang? sudah pagi?'' ucap Dimas sambil menepuk pelan pipinya Fitri.
''Jam berapa sekarang mas?'' Fitri bertanya kepada Dimas sambil menguap dan menggeliat.
''Sudah jam setengah enam pagi sayang? ayo bangun?'' balas Dimas menyuruh Fitri untuk segera bangun dari pangkuannya.
''Hah?! jam setengah enam? aku harus bantuin Ibu memasak?'' ucap Fitri sambil menutup mulutnya dengan tangan karena sedang menguap.
''Ya sudah cepat kamu bantuin Ibu?'' balas DImas sambil memijat pelan kedua pundaknya Fitri.
Fitri bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, setelah mencuci mukanya ia berjalan menghampiri Ibunya di dapur, ''sudah selesai semua? kamu gak perlu bantuin Ibu?'' ucap Bu Lina yang melihat Fitri menghampiri dirinya.
''Maaf yah Bu? aku bangunnya telat, jadi gak bantuin Ibu memasak?'' sahut Fitri sambil tersenyum kepada Ibunya.
''Ya sudah kamu mandi dulu?'' balas Bu Lina menyuruh Fitri untuk segera mandi.
''Ya Bu, aku mandi dulu?'' jawab Fitri lalu berjalan meninggalkan Ibunya.
Bu Lina membuatkan minuman hangat untuk Dimas, berjalan sambil membawa nampan yang berisi minuman, Bu Lina menghampiri Dimas yang masih ada di ruang tamu, ''Ini diminum dulu mumpung masih hangat nak?'' ucap Bu Lina sambil menaruh minuman itu di atas meja.
''Makasih Bu'' balas Dimas sambil tersenyum ramah kepada Bu Lina lalu mengambil minuman itu dan menyeruputnya, ''srupps..ahhh..''.
Bu Lina meninggalkan Dimas dan menuju ke dapur, selesai mandi Fitri menghampiri Dimas, ''mas kamu mandi dulu sana?'' Fitri menyuruh Dimas untuk mandi.
''Ya bentar, ni lagi nikmatin teh hangat buatan Ibu?'' balas Dimas sambil mengangkat gelas minuman itu dan menunjukan kepada Fitri.
''Buruan mandi? nanti bikin lagi teh hangatnya?'' ucap Fitri sambil mendorong pundak Dimas dengan pelan.
''Iya..iya..'' ucap Dimas lalu berjalan menuju ke kamar mandi di rumah itu.
Setelah Dimas selesai mandi dan makanan sudah siap, mereka bertiga sarapan pagi bersama, Fitri mengambilkan nasi untuk Dimas ''segini cukup mas?'' ucap Fitri kepada Dimas.
__ADS_1
''Cukup Fit!?'' balas Dimas sambil tersenyum kepada Fitri.
Bu Lina yang melihatnya ikut tersenyum kepada mereka, ''semoga kalian berjodoh?'' gumam Bu Lina dalam hatinya melihat kedekatan anaknya dengan Dimas.
Mereka makan dengan lahap sambil mengobrol, sesekali Fitri menjahili Dimas, Bu Lina pun tersenyum kepada mereka berdua.
''Ayo nambah nak Dimas?'' ucap Bu Lina kepada Dimas agar mau menambah makannya.
''Sudah kenyang Bu? aku makannya gak terlalu banyak'' balas Dimas sambil tersenyum ramah kepada calon mertuanya itu.
''Mas Dimas makannya sedikit Bu, tapi kalau nyemil jangan tanya lagi deh?'' celetuk Fitri menjahili Dimas sambil tersenyum cengengesan.
''Siapa yang suka nyemil? aku atau kamu, hehehe...'' balas Dimas membela dirinya sambil ikut cengengesan kepada Fitri.
''Udah gak usah ribut? ayo lanjutkan makannya?'' ucap Bu Lina melerai mereka berdua.
''Iya Bu, mas Dimas tuh suka jahil sama aku?'' sahut Fitri sambil melirik kepada Dimas.
Mereka melanjutkan untuk menikmati masakan yang sudah di buat oleh Bu Lina itu dengan lahap.
Dirumah Lala Evan sudah bersiap untuk berangkat ke toko sembako miliknya, ''sayang, aku berangkat dulu yah?'' ucap Evan sambil mencium kening istrinya itu lalu mencium pipi anaknya.
''Iya mas, hati-hati di jalan?'' balas Lala kepada suaminya sambil mencium punggung tangan Evan.
Evan mengendarai sepeda motornya menuju ke toko miliknya, tak butuh lama akhirnya sampai juga di toko tersebut, Evan membuka toko itu dan menata barang daganganya serta menyusun dengan rapih.
''Evan!!'' teriak Desi yang lewat di depan tokonya Evan sambil menjalankan sepeda motornya menuju ke toko milik Tante Fany.
''Iya Des!?'' balas Evan sambil menata barang dagangannya, ''sudah lama kita gak ketemu Des?'' gumam Evan lirih sambil melihat Desi yang terus menjalankan sepeda motornya.
Evan duduk sambil menunggu warga yang ingin berbelanja di tokonya, ''semoga hari ini banyak warga yang membeli di toko ku?'' gumam Evan dalam hatinya berharap supaya hari ini tokonya laris banyak pembeli.
Hari semakin siang tapi belum ada pembeli yang datang, ''hai sayang?'' suara Maya yang baru saja datang dan menghampiri Evan.
__ADS_1
''Eh kamu? ngagetin aja, ayo masuk dan temenin aku?'' balas Evan yang sedikit kaget dengan kedatangan Maya.
Maya pun masuk dan duduk di pangkuan Evan sambil bergelayut di pundak lelaki itu, ''kenapa tadi kamu melamun sayang?'' ucap Maya sambil mengelus dada lelaki itu.
''Siapa yang melamun, aku tadi lagi berfikir supaya dagangan ku bisa berkembang?'' balas Evan sambil tersenyum dan membelai bibir manis milik Maya itu.
''Oh kirain tadi kamu sedang melamun?'' sahut Maya yang terus membelai dada lelaki itu dengan lembut.
Maya memang wanita yang cantik dan bertubuh ideal idaman banyak lelaki di kompleknya, terkadang Maya menggoda tetangganya untuk mendapatkan apa yang di inginkannya, entah itu harta maupun kepuasan dirinya.
''Kamu cantik sekali hari ini sayang?'' ucap Evan sambil memandang wajah Maya dengan penuh hasrat.
''Emang kemarin aku gak cantik yah?'' balas Maya pura-pura cemberut kepada Evan.
''Bukan gitu sayang? dari kemarin kamu cantik kok, tapi hari ini kamu lebih cantik?'' ucap Evan lagi yang sedang merayu kepada Maya.
''Alah gombal?'' balas Maya sambil memukul pelan dada lelaki itu, ''sayang hari ini aku ingin beli pakaian tapi uangku gak cukup?'' ucap Maya lagi kepada Evan sambil merayunya.
''Berapa yang kamu butuhkan sayang?'' balas Evan lalu mencium bibir manis milik Maya itu dengan lembut.
''Segini cukup?'' ucap Evan lagi sambil menjulurkan beberapa lembar uang yang berwarna merah.
''Cukup sayang, makasih yah, emmuach..'' balas Maya sambil menerima uang itu lalu mencium bibir Evan.
''Kamu temenin aku dulu di sini yah sayang biar aku gak bt?'' ucap Evan sambil membelai rambutnya Maya.
''Iya, aku akan temenin kamu sayang?'' balas Maya sambil mengelus lengan lelaki itu dengan lembut.
Maya terus menggoda Evan untuk mendapatkan apa yang di inginkannya, Evan menciumi bibir manis itu sambil menjulurkan lidahnya menelusuri setiap sudut, lidah mereka saling kejar-kejaran berbagi kehangatan dan saling membasahi bibir mereka.
Maya mengalungkan tangannya di pundak Evan sambil bibir mereka saling terpaut menghangatkan satu sama lainnya, Evan membopong tubuh Maya ke dalam kamar yang ada di toko itu tanpa memperdulikan tokonya.
Walaupun kamar itu kecil tapi cukup untuk mereka berdua memadu kasih, Evan merangkak di atas tubuh wanita itu sambil bibir mereka terus bermain, tangan Evan yang satunya mulai masuk ke dalam rok milik Maya.
__ADS_1
*Bersambung*