
Telah terbit novel terbaru ; ''Perjuangan wanita penghibur'' dan ''Lobang kenikmatan'', terima kasih atas dukungannya semoga karya author semakin berkembang#.
Evan terus terbayang dengan wajah Tante Fany yang telah membuatnya puas karena bisa menyalurkan gelora jiwanya yang meronta-ronta, Evan tersenyum sendiri sambil memejamkan mata membayangkan adegan panas bersama Tante Fany.
Keesokan harinya Evan berangkat menuju ke toko sembako miliknya dengan mengendarai sepeda motor,sesampainya di toko sembako Evan membuka toko tersebut dan menata serta membereskan barang dagangannya, setelah membereskan barang dagangannya, Evan beristirahat sebentar sambil menunggu pembeli datang.
‘’Mas Evan? Beli telor satu kilo sama susu cap janda satu?’’ ucap wanita yang baru saja datang untuk membeli sesuatu di toko milik Evan.
‘’Baik Bu? Tunggu sebentar yah?’’ jawab Evan sambil tersenyum kepada wanita itu.
Setelah Evan menimbang telor lalu berjalan untuk mengambil susu cap janda tersebut, Evan kembali ke depan sambil membawa susu itu, ‘’untung masih ada susu cap jandanya Bu?’’ ucap Evan dengan senyumannya kepada wanita itu.
‘’Kalau gak ada ya diganti dengan susu cap perawan aja mas Evan? Hehehe...’’ sahut wanita itu sambil menjahili Evan.
‘’Emang ada yah Bu? Susu cap perawan itu?’’ balas Evan sambil tersenyum lagi kepada wanita itu.
‘’Ada tuh kalau malam di alun-alun tengah? Mas Evan belum pernah ke sana yah?’’ jawab wanita itu sambil memberitahu kepada Evan.
__ADS_1
‘’Belum Bu? Nanti deh kapan-kapan aku main ke alun-alun itu?’’ balas Evan sambil menaruh barang belanjaan wanita itu kedalam plastik.
‘’Kalau mau kesana ajak-ajak dong?’’ ucap wanita itu sambil menggoda Evan.
‘’Ngapain Ibu kesana? Mau ikut jualan susu yah Bu? Hehehe...’’ balas Evan tak kalah menggoda kepada wanita itu.
‘’Gak kok, tapi kalau ada yang mau sih beda lagi dong, hehehe’’ sahut wanita itu lagi kepada Evan sambil tersenyum cengengesan.
‘’Kali aja ada yang mau Bu?’’ celoteh Evan lagi kepada wanita itu.
‘’Gak ah Bu? Nanti aku dimarahi suaminya situ?’’ jawab Evan menolak ajakan wanita itu sambil tersenyum.
‘’Suamiku sudah meninggal mas? Sudah lama aku menjanda dan anakku sudah bekerja di jakarta? Jadi aku tinggal sendirian di rumah?’’ sahut wanita itu menjelaskan kepada Evan kalau dirinya sudah lama menjanda.
‘’Oh..jadi Ibu tinggal sendirian aja yah? Kalau kedinginan siapa yang menghangatkannya Bu, hehehe...’’ ucap Evan sambil menggoda wanita itu.
‘’Iya mas, sendirian aja? Oya kenalkan namaku Maya?’’ ucap wanita itu mengenalkan dirinya kepada Evan sambil menjulurkan tangannya.
__ADS_1
‘’Salam kenal Bu Maya, aku gak usah mengenalkan namaku karena Ibu sudah tau?’’ balas Evan sambil menjabat tangan wanita itu.
‘’Jangan panggil Ibu dong? Kan umuran kita tak beda jauh? Panggil aja mbak atau Maya aja?’’ ucap Maya kepada Evan supaya memanggilnya jangan Ibu.
‘’Baiklah mbak Maya, salam kenal juga?’’ jawab Evan yang terus menjabat tangannya Maya.
‘’Nah gitu kan lebih enak di dengar dan lebih akrab?!’’ sahut Maya sambil tersenyum kepada Evan.
‘’Iya mbak itu lebih baik’’ ucap Evan yang terus memegang tangannya Maya.
‘’Mau di pegang terus apa gimana nih mas?’’ celetuk Maya kepada Evan memberi kode supaya Evan mau melepaskan tangannya.
‘’Maaf, lupa? Abisnya tangan mbak Maya halus banget sih jadi gak terasa kalau di pegang Cuma sebentar aja, hehehe...’’ jawab Evan sambil menggoda Maya dan tersenyum kepadanya.
‘’Kalau mau yang lama nanti aku tunggu di rumah? Kalau disini banyak Ibu-ibu yang akan berbelanja jadi kan gak enak di lihatnya?’’ ucap Maya kepada Evan sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Evan.
*Bersambung*
__ADS_1