Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Akhirnya


__ADS_3

Mendengar perkataan putrinya itu, Siddiq merasa bahagia. Betapa beruntung dan sangat bersyukur dirinya memiliki putri yang yang penurut dan memprioritaskan kedua orangtuanya.


Aku sadar sudah seharusnya sebagai anak, aku harus mengikuti semua perkataan kedua orangtuaku selagi itu positif dan baik untukku! Batin Nia dalam hatinya


"Ya sudah, sekarang kita pulang. Ibu kamu pasti sudah menunggu kita di rumah." ucap pak Siddiq.


"iya ayah, tapi yah...." menahan ayahnya yang hendak beranjak pergi.


"Ada apa nak?" tanya pak Siddiq heran


"Nia pulang sendiri yah, Nia kan tadi bawa motor." menatap ayahnya.


"Astagfirullah, maafin ayah nak! sangking buru-buru karena kedatangan mas Suhendar tadi, ayah sampai lupa ngajak kamu bareng pergi ke sekolah." menatap sedih anaknya.


"Iya gapapa koq yah, Nia entar ngikutin ayah dari belakang naik motornya..hhhh.." jawab Nia sambil tersenyum.


"Ya sudah, ayok kita pulang nak." balas pak Siddiq.


Nia dan pak Siddiq pun bergegas meninggalkan kelas dan menuju parkiran motor, setelah mengeluarkan motor dari parkiran mereka pergi meninggalkan sekolah menuju rumah.


Di Rumah Nia


Bu Nurmala sudah menunggu kedatangan suami dan anaknya, di meja makan sudah tersedia makanan yang banyak dan lezat. Tidak biasanya bu Nurmala menyediakan banyak makanan, namun kali ini seperti akan ada pesta dengan jamuan makanan yang beragam.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, Nia dan pak Siddiq tiba di rumah.


"Assalamualaikum.." ucap Nia dan pak Siddiq.


"Waalaikumussalam, Nia..ayah.." menyalami tangan suaminya, di ikuti Nia mencium punggung tangan ibunya.


"Wah..baunya harum banget buk.." ucap pak Siddiq mengendus bau harum masakan khas istrinya itu.


"ayah..bisa aja, biasanya kalo ibu masak gak pernah tuh ayah puji begini." tersipu malau mendengar ucapan suaminya.


"hehee...biarpun ayah jarang memuji ibu seperti ini, masakan ibu tetap number one!" sambil mengacungkan jempolnya.


"iya buk..masakan ibu yang paling best." Nia mengedipkan 1 matanya.


"tapi..." sambil melirik ke arah meja makan "tumben ibu masak banyak? mau ada tamu atau bagaimana buk?" tanya pak Siddiq.


"Ah? yang bener buk? tadi ayah ketemu mas Suhendar di sekolah, katanya nanti di kabarin kalo mau adain pertemuan keluarga lagi." tanyanya heran.


"Oh..itu, tadi mbak Sofi nelfon ibu yah. Katanya mau main-main ke sini, sekalian ajak anaknya, calon menantu kita." sambil tersenyum ke arah Nia.


Seketika jantung Nia berdebar mendengar ucapan ibunya, bahwa hari ini dia akan bertemu dengan calon suaminya. Dia bertanya-tanya dalam hatinya, siapa dia? apa benar Fariz anaknya om Suhendar adalah Fariz guru very killer itu?


Duhh..kenapa harus secepat ini ketemunya! gumam Nia pelan yang sedikit terdengar samar oleh ibunya.

__ADS_1


"Apanya yang cepet nak?" tanya bu Nurmala mendengar perkataan Nia yang tidak terdengar jelas.


"ehe..bukan apa-apa koq buk, maksudnya Nia capek gitu bukk iya capek hehehe.." nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"ohh...kirain ibu apaan. Yaudah kamu bersih-bersih gih, kan calon suami dan calon mertua kamu mau dateng kesini." ucap bu Nurmala.


"i.iya buk! Nia ke kamar ya buk..yah.." Nia pergi meninggalkan ayah dan ibunya ke kamar untuk bersih-bersih diri.


Bu Nurmala dan pak Siddiq juga bergegas untuk bersiap-siap menyambut kedatangan calon besan dan calon menantunya itu.


Di Rumah Suhendar


Bu Sofi menanti kepulangan suami dan anaknya dari kantor, karena sore nanti akan pergi ke rumah pak Siddiq.


"Lama sekali papa dan Fariz pulangnya, ini sudah jam 2. Sebentar lagi kan ada janji dengan keluarga Hendrawan Kali ini gak boleh gagal lagi untuk mengajak Fariz untuk ketemu dengan calon istrinya." bicara dengan dirinya sendiri.


Saat sedang menunggu kepulangan anak dan suaminya di balkon kamarnya, Sofi melihat mobil anaknya memasuki pekarangan rumahnya yang sangat luas.


"Alhamdulillah Fariz sudah pulang, tinggal nunggu papa." Bu Sofi pun meninggalkan balkon dan keluar dari kamarnya lalu menuruni anak tangga.


"Assalamualaikum ma." sapa Fariz sopan lalu mencium punggung tangan mamanya itu.


"Waalaikumussalam, Fariz..Kamu siap-siap yaa, karena sebentar lagi kita akan pergi ke rumah nya om Hendrawan." titah bu Sofi.

__ADS_1


Fariz mengernyitkan dahinya, baru saja sampai tiba-tiba sudah di suruh bersiap-siap lagi untuk pergi. Ke rumah Hendrawan pula.


"Emm..emang nya ada acara apa mah?" tanya Fariz pura-pura, sebenarnya dia sudah tahu maksud dari perkataan mamanya itu. Tapi ketika sudah membahas tentang keluarga Hendrawan, Fariz selalu saja mengelak.


__ADS_2