Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Kecemasan Fariz


__ADS_3

Setelah membaringkan Nia, Fariz duduk di tepian ranjang empuk yang di tiduri oleh Nia. Wajah cantik Nia saat ini tertutupi oleh pucat pasi.


"Ku mohon bangun Nia! jangan buat aku cemas!" ucapnya pelan sambil memegang tangan Nia.


Lalu bi Puji datang membawakan barang-barang Nia, dia menaruhnya di atas meja belajar Nia. Dan menghampiri Fariz, menanyakan apa yang terjadi pada nona kesayangannya itu.


"Apa yang terjadi tuan? kenapa Nona Nia bisa pingsan seperti ini?" tanya bi Puji cemas.


Fariz pun menceritakan kejadiannya, bi Puji manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari Fariz. Lalu bi Puji pun menceritakan keadaan Nia yang sebenarnya sangat lemah, namun dia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya itu di hadapan orang lain.


"Non Nia anak yang baik, saya sangat bangga jika memiliki anak seperti dia!" ujar Bi Puji.


"Pastinya bik, oya bibi udah lama kerja sama keluarga om Hendrawan kan?" tanya Fariz penasaran.


"Iya betul tuan!" balas bi Puji.


"Bibi pastinya tau donk segalanya tentang Nia dari dia kecil?" tanya Fariz lagi.


"Iya pastinya tuan, memangnya kenapa tuan?" balik bertanya ke Fariz.


"Kita ngobrolnya di luar aja yok bik, ga enak saya lama-lama di kamar Nia, takut timbul fitnah. Ya walaupun ada bibi disini!" jelas Fariz.


"Baik tuan!" sahut bi Puji. "maaf sebelumnya tuan, mau minum apa? biar bibik buatkan minuman!" lanjut bi Puji.

__ADS_1


"Saya mau susu segar yang baru di peras dari sapi pilihan ada bik?" canda Fariz sambil cengir.


"Tuan Fariz bisa aja, mana ada disini tuan! adanya di lembang sana." jawab bi Puji ikutan nyengir.


"Hehehe...bercanda bik!" sahut Fariz.


Setelah mereke berbincang-bincang menceritakan Nia, Fariz merasa Nia kecil seperti Alni yang pernah dia kenal dulu. Yang sampai saat ini pun masih menari-nari di fikiran Fariz.


Tak lama kemudian bu Nurmala pulang setelah mendapat kabar tentang Nia dari suaminya, dan dirumahnya juga ternyata sudah ada Fariz.


"Assalamualaikum!" ucap bu Nurmala.


"Waalaikumussalam!" balas Fariz dan bi Puji.


Fariz pun menceritakan kejadian sewaktu disekolah, bu Nurmala sangat menyayangkannya.


"Terimakasih Fariz! karena sudah mengantar Nia dan menjaga Nia!" ujar bu Nurmala.


"Sudah kewajiban Fariz tante, Nia itu kan calon istri Fariz dan akan menjadi pendamping Fariz. Jadi Fariz berusaha sebaik mungkin menjaga Nia!" balas Fariz.


"Saya harap, kamu menjaga Nia dengan sebaik mungkin Fariz. Karena dia harta kami yang berharga nak!" menatap Fariz dengan penuh harapan.


"InshaAllah Fariz pasti akan menjaga Nia tante!" jawab Fariz lembut.

__ADS_1


"Terimakasih nak!" balas bu Nurmala menepuk pundak Fariz.


"Saya mau lihat Nia, kamu ikut Fariz?" lanjut bu Nurmala.


"Boleh tante!" balas Fariz.


Mereka pun berjalan menunu kamar Nia, mereka melihat Nia sedang bersandar di sandaran tempat tidur.


"Nia! kamu sudah sadar sayang?!" tanya Fariz penuh khawatir.


"Sayang?.." bu Nurmala melirik Fariz.


"Ibu..mas Fariz.." lirih Nia.


"Iya nak! gimana keadaan kamu sekarang?" bu Nurmala duduk di tepi ranjang dekat Nia.


"Masih sedikit pusing bu!" jawab Nia lirih.


"Kamu istirahat dulu sampai benar-benar pulih!" sahut Fariz mendekat ke arah Nia.


"Mas Fariz kenapa bisa disini?" tanya Nia heran.


"Saya yang bawa kamu pulang. Kalau kamu lupa!" jawab Fariz datar.

__ADS_1


Fariz merasa jasanya tadi tidak di sadari oleh Nia, namun dia memaklumi karena Nia dalam keadaan pingsan saat dia membawanya pulang.


__ADS_2