
Fariz mempercepat langkahnya, dengan langkahnya yang lebar dia dengan singkat dapat menyusul sang istri.
Terlihat tekukan diseluruh wajah Nia, bibirnya yang dicebikkan terlihat sangat menggemaskan bagi Fariz.
"Kamu kalo manyun gitu terus entar mas cium nih!" ancam Fariz membuat Nia terkejut.
"Ih mas! Ngagetin aja, udah kaya jailangkung tau nggak. Datang tak dijemput pulang tak diantar! Tiba-tiba udah nongol aja!" ungkap Nia dengan kesal.
"Maaf ya, sayang. Abisnya kamu ngelamun gitu, muka cemberut, bibir manyun. Mas jadi gemes, pengen nyium kamu jadinya." goda Fariz seraya merangkul pundak Nia.
"Mas nggak tau tempat ya? Ini ditempat umum masa mau ciuman!" balas Nia ketus.
Ini beneran istriku? Benar kok ini istriku, tapi kenapa berubah drastis gini ya?! gumam Fariz menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Kenapa liatin Nia kaya gitu? Ada yang aneh? Atau ada sesuatu di muka Nia?" cecar Nia memegangi wajahnya sendiri.
__ADS_1
"Enggak ada apa-apa, sayang. Mas heran aja sama kamu." jawab Fariz jujur.
"Heran kenapa?" tanya Nia menyelidiki.
"Ya kamu jadi sensi gitu, mas kan bingung jadinya." balas Fariz.
Nia hanya diam, memikirkan perkataan Fariz barusan. Sensi katanya? Jelas saja, Nia selalu sabar jika terus di usili. Namun, saat ini mungkin ia telah bosan dan ingin merubah sifat suaminya itu.
"Sudahlah, sayang. Ayo kita lanjut lagi." ujar Fariz menarik kembali tangan Nia.
Mereka menyusuri lantai dua menara yang memiliki tinggi hingga 324 meter itu, Fariz mengajak Nia untuk beristirahat sejenak, duduk dikursi sebuah kafe, lalu Fariz memesan cappucino latte, Nia memesan lemon tea dan roti begel.
Usai menikmati makanan dan minuman, kedua pasangan itu beranjak dari kursi dan menelusuri kembali menara itu. Fariz menarik lembut tangan istrinya, mereka berjalan kembali menuju lift dan menaikinya.
Kini mereka telah berada dipuncak teratas menara Eiffel, sungguh menakjubkan pemandangan hamparan kota Paris dari atas. Membuat Nia ingin terbang rasanya.
__ADS_1
"Mas! MashaAllah sekali ya, Nia jadi pengen terbang!" ungkap Nia dengan sangat antusias.
"Nanti kita terbang sama-sama ya, sayang!" sahut Fariz merangkul pinggang ramping istrinya.
"Beneran mas?" tanya Nia menolehkan wajahnya kearah Fariz.
"Iya, sayang. Entar malem ya, dalem mimpi!" bisik Fariz membuat Nia kembali menyebikkan bibirnya.
Usai menikmati, berkeliling dan berselfie ria, mereka menuruni menara itu dan kembali ke menuju destinasi lainnya.
Mereka menuju Museum Louvre, sebuah museum yang berbentuk piramida yang terbuat dari kaca-kaca yang sangat ikonik. Setelah itu mereka menuju Arc The Triomphe , sebuah monumen terbesar dan bersejarah di Perancis yang dibangun oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1806 di pusat Place de I’Etoile sebagai bentuk selebrasi akan kemenangannya dan juga penghormatan untuk para prajurit yang telah gugur di medan peperangan.
Sembil menyelam minum air, sambil berlibur sambil belajar. Itulah mereka, bulan madu sekaligus belajar tentang negara Perancis.
"Biar pun kita sedang liburan dan bulan madu, tapi kita bisa sambil belajar sayang. Kamu juga biar nggak lupa sama pelajaran sejarah!" ungkap Fariz.
__ADS_1
"Iya mas ku sayang!" sahut Nia mencium pipi suaminya, membuat Fariz refleks membalas ciuman Nia dengan mencium bibir sang istri.
Setelah puas berkeliling ke berbagai museum dan monumen, Fariz memutuskan untuk makan siang. Sang tour guide yang merupakan orang Indonesia membawa pasangan muda itu ke sebuah restoran khas Indonesia, Djakarta-Bali. Dengan menu utamanya rendang daging.