
Pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu menuruni anak tangga, dan di anak tangga yang terakhir ia menghentikan langkahnya. Mengedarkan pandangannya mencari sosok anak dari sahabatnya itu.
Almer menujukan pandangannya kearah pria berpostur atletis itu, lalu menghampirinya dari arah belakang.
"Fariz!" panggil Almer menepuk pundak Fariz.
"Om Almer!" sapanya dengan sopan seraya menjabat tangan Almer "Apa kabar om? makin keren dan hem..hanya sedikit yang berubah!" pujinya memperhatikan penampilan Almer yang tidak berubah sama sekali, hanya rambutnya saja yang sudah mulai berubah. Mulai timbul rambut-rambut halus berwarna putih disela-sela rambut hitam pekatnya.
"Hahaaha...usia boleh tua, tapi jiwa dan penampilan, om tidak mau kalah dengan pemuda seperti kalian dong!" tawa Almer sungguh elegan.
"Hahaha.. pantas saja banyak wanita muda yang mendekati om!" goda Fariz seraya menunjuk para pelayan wanita yang ada dibutik itu dengan dagunya.
"Ah..kau ini, sama seperti papamu! suka sekali menggoda om!" ucap Almer.
"Bauh jatuh, tak jauh dari pohonnya. Kalau om lupa!" ungkap Fariz seraya menunjuk wajah tampannya dengan jari telunjuknya.
"Ah..ya benar! kau sangat identik dengan Gunawan Hendrawan," akunya kepada Fariz "tak heran jika kalian hampir seluruhnya memiliki kemiripan." sambungnya.
"Tapi untuk masalah ketampanan, bukankah Fariz yang lebih tampan?" tanya Fariz sembari memuji dirinya sendiri.
Nia yang mendengar kenarsisan calon suaminya itu hanya bisa menepuk jidatnya, dia berfikir betapa percaya dirinya lelaki yang akan menjadi suaminya itu.
"Hahaha...yaa kau benar Fariz! memang hidungmu lebih mancung dari pada papamu nak!" puji Almer, lalu tawa mereka pun pecah.
Nia menyaksikan keakraban dua lelaki gagah dan tampan yang sedang berbincang-bincang didekatnya itu. Lalu Almer mengalihkan pandangannya kepada wanita cantik yang berada disamping Fariz.
__ADS_1
"Ini calon istrimu Fariz?" tanya Almer memperhatikan Nia.
"Iya om! dia Nia calon istri Fariz," jawab Fariz "dan Nia ini om Almer, sahabat papa saya!" lanjut Almer saling memperkenalkan antara Nia dan Almer, mereka pun saling berjabat tangan.
"Sungguh pandai kamu memilih istri Fariz, benar-benar seperti Gunawan!" puji Almer.
"Terimakasih om!" sahut Fariz "Dan om, kapan om akan mengundang kami, keluarga Hendrawan ke pernikahan om?" ejek Fariz mengerlingkan sebelah matanya ke arah Almer.
"Hahhaa...sungguh kau ini Fariz! tunggu saja undangan pernikahan dari om ya! suatu hari akan sampai dirumah kalian!" tantang Almer.
"Ah..baiklah om! Fariz tunggu undangan dari om!' jawab Fariz.
"Jadi, apa yang membawamu kesini nak? bukankah undangan pernikahan kalian sudah disebar terlebih dahulu melalui undangan digital?" tanya Almer penasaran.
Almer dengan mudahnya memahami apa yang terjadi, karena yang ia tau Fariz sudah memesan gaun dan tuxedo di butik milik Helen. Namun Fariz membatalkannya, pasti karena Helen sudah membuatnya berantakan.
"Apakah dia masih seperti dulu?" tanya Almer kepada Fariz tentang Helen.
"Hm..ya begitulah om!" jawab Fariz menghela nafasnya.
Almer menyukai Helen yang dulu, mereka pun sempat menjalin hubungan. Namun setelah Helen mengenal yang namanya harta, ia menjadi Helen yang gila akan harta. Sampai-sampai ia memanfaatkan kekayaan Almer untuk kepentingan pribadi, dibelakang Almer ia menjalin hubungan dengan pria lain yang lebih kaya dari Almer.
Sampai suatu ketika, Almer mendapati Helen sedang berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri. Sampai pada akhirnya Almer merasa wanita hanya mencintainya karena harta, hingga sampai detik ini Almer tidak lagi mempercayai wanita manapun lagi.
"Semoga saja dia cepat berubah! tapi, calonmu ini tidak sempat diganggu kan?" tanya Almer khawatir.
__ADS_1
"Hampir om!" balas Fariz mengingat kejadian yang terjadi di butik Helen tadi.
Flashback On
*Fariz sempat melihat sosok laki-laki tinggi, berkulit coklat mengintip dari balik dinding yang berada dibelakang rak gantung gaun-gaun di butik Helen.
Ia seperti sedang memperhatikan setiap lekuk tubuh Nia, lalu tersenyum nakal ketika mendengar Helen mengarahkan Susi untuk mengantar Nia mencoba gaunnya di ruang yang berada dipojokan itu.
Maka dari itu, Fariz meminta untuk mengikuti Nia yang akan mencoba gaunnya. Namun Helen mencegahnya, dan mengarahkan Nia untuk mencoba gaunnya disebelah ruang yang akan dipakai Fariz.
Fariz beranggapan bahwa Helen sedang berusaha untuk menjebak mereka, dengan menghadirkan laki-laki asing itu untuk berbuat yang tidak senonoh kepada Nia*.
Fashback Off
"Syukurlah jika tidak terjadi apa-apa! jangan sungkan untuk membuat perhitungan kepadanya, Fariz!" usul Almer.
"Hm..iya om!" gumam Fariz.
"Hm..kalau begitu, silahkan kamu pilih gaun untuk calon istrimu dan tuxedo untukmu nak! Om akan mempersembahkan ini sebagai hadiah pernikahan kalian!" ungkap Almer mengembangkan senyumnya yang membuat hati para wanita meleleh yang melihatnya.
"Hahaha...terimakasih om!" sahut Fariz menciumi tangan Almer.
"Terimakasih om Almer!" timpal Nia ikut mencium punggung tangan Almer.
Calon pengantin itu pun memilih gaun dan tuxedo yang dipandangi Nia sedari tadi, tak lupa Almer juga memberikan hadiah tambahan untuk calon pengantin itu. Sebuah tiket pesawat dan sepaket bulan madu ke Bali untuk mereka. Betapa bahagianya Nia mendapat hadiah spesial dari Almer, membuatnya membayangkan berlibur sekaligus berbulan mad* bersama laki-laki yang pernah menjadi gurunya.
__ADS_1