Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Akad II (Gangguan datang lagi)


__ADS_3

Mereka mamasuki pekarangan kediaman Hendrawan, yang disambut langsung oleh Siddiq Hendrawan.


"Selamat datang mas Hendar dan mbak sofi!" sapa pak Siddiq menjabat tangan calon besannya itu bergantian "Wahh...calon mantu ayah keren, dan..tambah ganteng!" imbuhnya lagi sembari menepuk pelan lengan Fariz.


"Om bisa aja, saya kan emang ganteng dari dulu om!" canda Fariz yang membuat mereka tertawa.


"Hahaha..iya iya benar nak, kamu persis ayahmu ini," balas pak Siddiq kemudian mendekatkan mulutnya kekuping Fariz "narsisnya ikut ayah kamu!" bisik pak Siddiq yang masih bisa didengar oleh pak Hendrawan.


"Ah kamu ini, narsis-narsis gini calon besanmu dik!" celetuk pak Hendrawan menepuk-nepuk dadanya sendiri.


Dari dalam nampak bu Sofi dengan langkah cepat namun hati-hati menghampiri orang-orang yang sedang asyik ngobrol diluar.


"Eh..mbak..mas..nak Fariz sudah datang! ayo masuk, pak penghulunya juga udah dateng." sapanya menjabat tangan calon besannya itu.


"Iya dik, tapi dua bapak-bapak ini malah keenakan ngobrol dan narsis-narsisan disini." ungkap bu Sofi.


"Yah..nggak heran sama dua bapak ini, kalo udah ngumpul..ada aja yang diceritain," ucap bu Nurmala "untung aja bukan nyeritain perempuan lain! kalo sempat begitu, nggak ada ampun ya kan mbak!" tukasnya sambil terkekeh, hanya mereka yang dapat mendengar.


"Hihihi..iya bener dik!" sahut bu Sofi ikut terkekeh juga.


"Mama..papa..ibu..ayah..ayo masuk, hari ini hari pernikahan Fariz dan Nia!" sindir Fariz mencoba mengingatkan mereka dengan kehadirannya ditengah mereka.

__ADS_1


"Hahahaa...aduh nak, maafkan kami! ayo..ayo..masuk mas dan mbak!" ujar pak Siddiq.


Jam menunjukkan pukul 8, waktunya mereka melangsungkan acara ijab kabul. Bu Nurmala dan pak Siddiq memanggil Nia untuk dihantarkan duduk berdampingan dengan Fariz.


"Nia, ayo nak!" ajak pak siddiq mengulurkan tangannya.


"Iya yah!" angguk Nia menggenggam tangan ayahnya.


Mereka berjalan kembali menuju ruang tengah, tempat dimana akan dilangsungkan ijab kabul.


Semua mata tertuju pada Nia, tak terkecuali Fariz. Dipandangnya wanita yang segera menjadi kekasih halalnya itu, ia menarik garis senyum diwajahnya.


Bu Nurmala dan pak Siddiq mendudukkan Nia tepat diaamping Fariz, lalu memakaikan selendang sutra putih menutupi kepala mereka.


“Saya terima nikah dan kawinnya Alnia Hendrawan Binti Assiddiq Hendrawan dengan maskawinnya yang tersebut diatas tunai!" ucap Fariz dengan lantang dan lancar, satu tarikan nafasnya.


"Bagaimana saksi? sah?!" tanya pak penghulu yang ikut menjadi saksi ijab kabul antara Fariz dan pak Siddiq atas Nia.


Tiba-tiba,


"Tidak sah!!!" teriak seorang wanita dengan nafasnya yang terengah-engah seperti habis lari-lari.

__ADS_1


"Hah??!" sontak seluruh orang yang ada diruangan maupun yang sedang duduk diteras kediaman Hendrawan menoleh kearah sumber suara.


Megha, ia datang untuk menggagalkan akad nikah Fariz dan Nia. Dia menunggu saat Fariz mengucapkan Qabulnya, sehingga ia bisa menyanggah Qabul Fariz.


"Siapa kamu??!! berani-beraninya mengacaukan pernikahan anak saya dan Fariz, hah??!!" amarah pak Siddiq seketika mencuat mendengar perkataan wanita itu.


"Dia! Fariz, kamu harus bertanggung jawab!" ujar Megha seraya menunjuk ke arah Fariz dengan amarah menggebu-gebu yang dibuat-buat.


"Apa maksudmu? dan, sedang apa kau disini?!" teriak Fariz tak paham apa yang di ucapkan oleh Megha "kau mengacaukan akad nikah ku!" lanjutnya dengan mengepal tangannya sekuat tenaga, seperti hendak melayangkan tinjuan ke wajah wanita pengganggu itu.


"Ak..aku hamil! dan ini adalah anakmu!" jawab Megha dengan suara lirih sembari mengelus perutnya yang didalamnya hanya berisi cacing-cacing yang kelaparan dan kehausan akan materil.


"Apa?!!" teriak Suhendar kaget dengan ungkapan Megha yang kini sedang hamil dan mengandung anak Fariz.


"Papa..mama..ibu..ayah..semuanya! ini bohong..saya tidak kenal dengan perempuan ini! saya berani bersumpah!" bantah Fariz mengangkat telunjuk kanannya keatas.


"Kamu!!" tunjuk Suhendar ke arah wajah Fariz "ahkk..jantungku!" Suhendar memegangi dadanya, ia merasakan sesak didadanya.


"Papa..papa..!" panggil bu Sofi panik.


"Kita bawa kerumah sakit mbak!" usul bu Nurmala yang juga ikut panik.

__ADS_1


Semua yang melihat kejadian itu merasa iba dengan Megha apalagi Suhendar, mereka termakan omongan Megha barusan. Pak Siddiq yang sedang sibuk membopong Suhendar, menajamkan tatapan ke arah Fariz. Mengisyaratkan meminta penjelasan dari Fariz, apa yang sedang terjadi sebenarnya.


Mobil mewah yang membawa rombongan Fariz dan orangtuanya yang sudah dihias dengan bunga, kini melaju kesebuah Rumah Sakit terdekat agar Suhendar segera mendapatkan pertolongan.


__ADS_2