Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Ternyata..


__ADS_3

Fariz hanya bisa mengikuti perkataan mama dan papanya, ia kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang lebih formal seperti yang di pakai orangtuanya. Fariz kembali menuruni anak tangga rumahnya, lalu bergegas menuju mobil. Karrna bu Sofi dan pak Suhendar sudah masuk ke mobil duluan.


"hemm..huufftt!" Fariz mengambil nafas lalu membuangnya kasar melalui mulut lalu membuka pintu mobil dan masuk.


Pikirannya berkecamuk, dia tidak tau apa yang akan terjadi hari ini. Sesekali dilihatnya kebelakang dimana pak Suhendar dan bu Sofi duduk. Kali ini bukan Fariz yang mengemudikan mobil mewah itu, tapi supir pribadi Suhendar yang membawa mereka menuju rumah Siddiq Hendrawan.


Di rumah Nia


Nia yang sedang bersiap-siap merasa jantungnya berdetak dengan cepat, ujung-ujung setiap jari tangan dan kakinya terasa dingin. Entah perasaan apa yang bergejolak saat ini.


"Kenapa aku gugup begini ya? mereka datang hanya untuk bertamu. Bukan untuk melamarku! apa yang kamu pikirinn Nia!?" ucapnya kesal pada dirinya sendiri.


Setelah Nia selesai bersiap-siap, didatangi ibunya yang sedang menyiapkan segalanya.


"Bu..emm..." Namun Nia mengurungkan niatnya untuk menanyakan perihal kedatangan keluarga Suhendar ke rumahnya.


"Ada apa nak?" tanya bu Nurmala lembut sambil memegang pundak anak gadisnya.


"Emm..apa kedatangan keluarga om Suhendar untuk me...." pertanyaan Nia terputus seketika, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil di depan rumah mereka.

__ADS_1


"Nanti kamu juga akan tau sayang." bu Nurmala tersenyum lembut kepada anaknya.


"emh..iya bu." Nia membalas senyuman hangat ibunya.


Bu Nurmala pun meninggalkan Nia yang masih berdiri di dekat meja makan. Lalu pak Siddiq keluar dari kamarnya, dilihatnya putri cantiknya sudah siap.


"Nia anakku." panggil Siddiq dengan lembut.


Nia menoleh kebelakang, dilihatnya ayahnya sudah sangat berpakaian rapi sekali bagaikan akan menghadiri acara penting, pak Siddiq mengenakan baju batik favoritnya yang di padukan dengan celana bahan kain berwarna hitam.


"Ayah, rapi banget? ayah mau ke acara pesta? atau mau kemana?" tanya Nia.


"Loh..tapi kan om Suhendar mau dateng yah?! koq ayah malah pergi." tanya Nia heran.


Siddiq hanya tersenyum mendengar ucapan Nia, dia tidak menyadari acara penting yang di maksud ayahnya adalah pertunangan dia dengan Fariz.


"Yasudah kita ke depan, itu mungkin om Suhendar sudah datang." ajak pak Siddiq.


"Ehm..iya yah." jawab Nia sambil mengangguk.

__ADS_1


Pak Suhendar dan Bu Sofi pun turun dari mobilnya, dan di sambut oleh bu Nurmala dan pak Siddiq. Pak Suhendar melihat ke dalam mobil di mana Fariz duduk dari luar jendela, lalu mengetuk kacanya.


tok..tok..


Fariz pun membuka kaca mobilnya.


"Iya pa..kenapa?" tanya Fariz.


"Kamu kenapa masih di dalam, ayo turun!" ajak pak Suhendar.


"Iya iya pa..Fariz turun." jawabnya dengan nada sedikit malas.


Bu Sofi dan Pak Suhendar pun mulai memasuki teras rumah pak Siddiq, yang juga di sambut hangat oleh keluarga kecil itu.


"Assalamualaikum..." salam bu Sofi dengan lembut.


"Waalaikumussalam mbakku yang cantik!" jawab bu Nurmala dan tersenyum lembut.


Lalu mereka saling berjabat tangan dan cipika cipiki 😄. Begitu juga pak Suhendar dan pak Siddiq (tapi gak pake cipika cipiki ya gaes hehe 😄😁) lalu bu Nurmala menyalami pak Suhendar tanpa saling menyentuh tangan mereka begitu juga dengan bu Sofi kepada pak Siddiq.

__ADS_1


"Silahkan masuk mbak..pak.." bu Nurmala mempersilahkan calon besannya itu masuk yang diikuti pak Siddiq dari belakang.


__ADS_2