Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Nia dan Fariz


__ADS_3

"Awas masuk lalat ke dalam mulut kamu!" ejek Fariz.


Nia pun menutup mulutnya kembali, dia tak habis pikir harus berurusan dengan orang seperti Fariz.


Hidupku akan berdampingan sama orang kek dia? oh tidak! bisa mati berdiri aku! pikir Nia sambil menundukkan kepala lalu menyilangkan satu tangannya di dada dan tangan yang satunya lagi di jidat.


Fariz yang melihat perilaku calon istrinya itu merasa gemas, ingin sekali rasanya dia memeluknya. Namun dia masih berpikir jernih, kalau mereka belum halal.


"Jadi gimana? kamu menerima tawaran saya?" tanya Faeiz lagi.


Mau gak mau deh, lagian tinggal beberapa bulan lagi aja koq! sabar Nia, kamu harus sabar. Karena setelah ini akan datang badai yang lebih ganas lagi! gumamnya dalam hati.


"iya..iya..terus gimana dengan imbalannya pak?!" tanya Nia tak mau kalah.


"imbalan kamu? setelah tugasmu selesai, saya ajak kamu makan makanan kesukaanmu!" balas Fariz.


"Yaelah cuman makan doank mah aku bisa pak! yang lain kek!" gerutu Nia yang masih bisa di dengar oleh Fariz.


"Lalu apa maumu?" sahut Fariz.

__ADS_1


"Saya mau yang tadi pak!" ucap Nia mengerucutkan bibirnya.


"Kalau itu yang kamu minta, maaf saya tidak bisa Nia!" ucap Fariz tegas.


Nia terdiam, matanya mulai berkaca-kaca mendengar jawaban Fariz. Dia tidak tau lagi harus bagaimana untyk bisa membatalkan perjodohannya sekaligus pernikahannya itu.


Tidak mendengar jawaban apa-apa dari Nia, Fariz menoleh ke arah Nia. Dilihatnya mata Nia mulai mengeluarkan bulir-bulir bening yang kini mengalir di pipinya. Fariz paling tidak bisa melihat wanita menangis, apalagi jika yang menangis adalah mamanya. Pasti Fariz akan segera memeluknya, kecuali wanita-wanita yang tidak di kenalnya. Namun saat ini yang sedang menangis adalah calon istrinya sendiri, Fariz dengan langkahnya yang ragu mendekati Nia.


Ingin sekali Fariz memeluknya, namun Fariz tau batasan. Tapi tangis Nia tak terhenti, airmatanya semakin deras. Akhirnya Fariz pun meyakinkan dirinya untuk memeluk Nia, dia tidak perduli bila Nia tidak menyukai perbuatannya itu.


Tiba-tiba ada seorang siswi yang juga teman Nia namun lain kelas masuk saat Fariz sedang memeluk Nia, mereka terkejut dengan kedatangan siswi tersebut. Nia dengan cepat melepaskan tubuhnya dari pelukan Fariz, dan berlari kecil meninggalkan Fariz dan temannya itu.


"Ma.maaf pak! tadi saya sudah ketuk pintu. Tapi gak ada jawaban, makanya saya coba amsuk aja," jawab siswi tersebut dengan gemetar.


"Yasudah! ada apa?" tanya Fariz.


"Saya mau mengumpulkan tugas saya dan teman-teman saya pak!" sembari menyodorkan tumpukan kertas.


"Kamu taro di atas meja itu!" perintah Fariz sambil menunjuk meja kerjanya.

__ADS_1


"Baik pak!" menaruh tumpukan kertas.


"Hmm.." masih dengan nada marahnya.


"Kalau begitu, saya permisi pak!" pamit siswi tersebut.


"Iya! eits tunggu!" tahan Fariz.


"A.ada apa pak?" membalikkan badannya mengahadap Fariz.


"Siapa namamu?" tanya fariz sambil mengamati tumpukan kertas, seperti sedang mencari.


"Saya.. Adriana pak!" jawab siswi tersebut tertunduk.


"Hmm baiklah..kamu boleh pergi!" ucap Fariz.


"Baik pak, saya permisi." sahut Adriana.


Fariz menghela napasnya, ia merasa badannya bergidik mengingat Adriana memergoki saat ia sedang memeluk Nia. Entah kabar apa yang akan menyebar nantinya di sekolah.

__ADS_1


__ADS_2