
Jam menunjukkan pukul 4 dini hari, adzan subuh berkumandang terdengar merdu ditelinga. Nia mengerjap-ngerjapkan matanya, menghalau sinar lampu yang baru saja dinyalakan oleh bu Nurmala. Rutinitas setiap subuh yang dilakukan oleh bu Nurmala, membangunkan anak gadisnya untuk melakukan sholat subuh berjamaah.
"Ibu.." panggil Nia dengan suara khas bangun tidur.
"Bangun sayang! kita sholat subuh berjamaah!" ajak bu Nurmala duduk ditepian ranjang Nia.
"Hem, iya bu! Nia menyusul." sahut Nia.
Nia menyingkap selimutnya beranjak menuruni ranjangnya, lalu melipat dan menatanya dengan rapi ditepian ranjangnya.
Nia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya, agar kantuknya hilang lalu menggosk giginya. Lalu membasuh wajahnya kembali dengan berwudhu, kemudian bergegas menuju ruang sholat.
Seperti biasa, bu Nurmala dan pak Siddiq sudah menunggu Nia untuk melakukan sholat berjamaah. Usai melakukan sholat, Nia kembali kekamarnya, ia melihat tanggal pada kalender yang terpampang didinding kamarnya.
"2 hari lagi!" gumamnya kemudian mengembangkan senyum termanisnya.
Ia mulai mengemasi sebagian barang-barang yang ada dikamarnya, sembari mengingat perkataan sang ibu.
"Setelah menikah nanti, jadilah istri yang berbakti pada suamimu! jaga nama baiknya, hormati dia. Karena setelah ia melakukan ijab kabulnya, dan dinyatakan SAH! pada saat itu juga semua tanggung jawab kami atas dirimu sebagai orangtua akan berpindah kepada suamimu!" perkataan bu Nurmala terngiang-ngiangbdalam ingatan Nia.
__ADS_1
Saat sedang merapikan barang-barangnya, air matanya mengalir hangat dipipinya. Nia pun segera menyekanya, namun air mata itu terus mengalir dari bola matanya.
"Nia..belum sanggup berpisah dengan kalian!" gumamnya menahan tangisnya.
Ketika bu Nurmala hendak menuju kamarnya bersama pak Siddiq, ia melihat pintu kamar Nia sedikit terbuka lalu menghampirinya.
"Nia!" panggil bu Nurmala "Sedang apa nak?" tanya bu Nurmala.
Dengan cepat Nia mengusap air mata yang sedari tadi terus mengalir, meninggalkan bekas dipipi mulusnya.
"Emh..ibu!" sahut Nia "Nia lagi beresin barang-barang Nia bu." lanjutnya.
"Kamu habis nangis nak? ada apa Nia?" tanya bu Nurmala khawatir melihat mata putrinya sembab.
"Bohong!" sanggah bu Nurmala lirih sembari mengangkat dagu lancip Nia.
"Ada apa nak?" tanya bu Nutmala lagi.
Nia yang sudah menahan air matanya sedari tadi, kini tangisannya pecah. Ia memeluk erat tubuh wanita yang sangat dihormatinya itu.
__ADS_1
Bu Nurmala pun dapat menangkap perasaan apa yang sedang dirasakan putrinya saat ini. Hatinya terasa pilu bagai diiris sembilu, ia harus segera merelakan putri kesayangannya itu menjalani mahligai rumah tangga.
"Ibu akan selalu mendoakan kamu nak!" gumam bu Nurmala seraya memeluk erat tubuh mungil Nia dan mencium pucuk kepalanya.
"Nia..Nia.." ucap Nia teebata-bata "Nia belum siap pisah dan jauh dari ayah dan ibu!" lanjutnya lirih, suaranya memudar karena isak tangisnya.
"Kamu tetap putri kesayangan ibu dan ayah! hanya saja tanggung jawab kami atas dirimu akan berpindah ketangannya setelah ia mengucapkan ijab kabulnya dihadapan ayahmu nak!" ungkap bu Nurmala mengusap-usap punggung Nia dengan lembut.
"Iya bu.." ucap Nia sendu.
Nia sangat disayangi dan dicintai kedua orangtuanya, harta mereka satu-satunya yang paling berharga. Nia yang periang membuat suasana rumah menjadi berwarna, tanpanya suasana rumah akan terasa sepi. Maka dari itu, mereka harus siap karena suatu saat Nia pasti harus meninggalkan rumah itu.
Di Rumah Fariz
Fariz yang sedang disibukkan dengan pekerjaan perusahaannya, melirik ke kalender yang terduduk diatas meja kerjanya. Terlukis garis lengkung kebawah diwajahnya, hidungnya yang mancung menambahkan ketampananya.
"Heem.." ia mengehela nafasnya dengan lembut dan teratur.
Ia mengeluarkan benda pipih berukuran sedang dari laci bawah mejanya, ketika diusap nampaklah dalam layar itu, sesosok wanita cantik menggunakan jilbab putih dan mengenakan seragam SMA yang sedang duduk termenung dibangku kayu berwarna cokelat sedang menghadap ke jendela.
__ADS_1
"Cantik!"
Fariz mengamatinya sejenak, lalu mulai memainkan jarinya diatas benda pipih tersebut. Membuka sebuah folder yang didalamnya terdapat sebuah daftar, rencana yang akan dilakukannya sepanjang liburan plus berbulan mad* dengan Nia dan itu sangat tersusun dengan rapi.