
Seminggu setelah kelulusan, Nia mulai mendaftarkan dirinya ke universitas yang diimpikannya bersama kedua sahabatnya. Mereka memilih jurusan Bahasa Asing, kerena mereka sangat menyukai pelajaran Bahasa Inggris sejak mereka SMP.
Setelah menyelesaikan urusan mereka di kampus, Dhea mengajak kedua sahabatnya untuk jalan-jalan terlebih dahulu.
Di Mall
3 dara itu memasuki mall yang biasa mereka datangi untuk menghabiskan waktu senggang mereka. Mereka menuju lantai 5 dengan menggunakan lift untuk ke bioskop, menonton film kesukaan mereka.
setelah 2 jam lebih mereka berada di dalam ruangan yang terdapat layar super besar itu, mereka meninggalkan bioskop dan kembali berkeliling.
Saat 3 dara itu melewati sebuah toko yang menjual berbagai jenis permen dan coklat, Nia berhenti sejenak.
"Guys! mampir sini bentar yuk!" seraya menunjuk toko yang akan di tuju.
"Wahh...daebak!" Dhea membuka mulutnya karena takjub akan isi dari toko tersebut.
Mereka disambut oleh seorang pramuniaga toko tersebut, dia menjelaskan berbagai permen dan coklat yang tersedia. Dhea dengan cepat menyambar segala jenis permen dan coklat yang ada di rak.
"Dhe...kamu yakin beli itu semua??" tanya Zhilla kaget seraya menunjuk keranjang yang di bawa Dhea telah penuh dengan permen dan coklat.
"pasti! lo kan tau sendiri gue hantunya yang manis-manis makanya gue bisa semanis ini, kek permen dan coklat ini!" Ucap Dhea seraya menunjuk pipinya yang terdpaat lesung pipi dengan jari telunjuknya.
"Hm.." sahut Zhilla tanpa ekspresi lalu meninggalkan Dhea.
"Hahaha...lo gak seneng banget temen sendiri muji dirinya sendiri! denger yaa, siapa lagi yang muji diri kita kalo bukan diri sendiri!" ungkap Dhea mencoba memberi pengertian kepada Zhilla.
"Iyaa..iyaa...dasar miss narsis!" ejek Zhilla seraya menjulurkan lidahnya.
"Huuu!" Dhea mengerucutkan bibirnya.
Disisi lain, Nia sedang asyik melihat-melihat coklat yang diatasnya bisa di tuliskan huruf.
Lucu banget! batinnya dalam hati.
"permisi mbak! saya mau coklat yang kaya gini, berapa?" tanyanya pada seorang pelayan toko seraya menunjuk coklat.
"oh yang itu 1 coklat untuk 1 huruf mbak!" jawab pelayan itu dengan ramah.
"berapa harganya mbak?" tanya Nia lagi.
"untuk 1 coklatnya Rp.2.500 mbak!" balas pelayan toko.
"Saya mau ya mbak! 16 coklat" ucap Nia.
"mau dituliskan apa mbak?" tanya pelayan toko.
"ALFARIZ HENDRAWAN!" balas Nia mengembangkan senyumnya setelah mengucap nama calon suaminya itu.
__ADS_1
"baik mbak!" ucap pelayan tokonya lalu memulai menuliskan huruf demi huruf merangkai nama Fariz.
"mbak jang....." Nia tidak sempat menyelesaikan ucapannya tiba-tiba dari arah belakang Dhea dan Zhilla mengagetkannya.
"Dooorrr!" teriak Dhea dan Zhilla berbarengan, membuat Nia tersentak hampir seluruh pengunjung toko melihat kearah mereka.
"Astagfirullah! kaget tau! untuk jantungku kuat, kalo gak kuat udah copot!" omel Nia.
"Hehhee...maaf..maaf..abis..seru amat kayanya disini!" ucap Dhea seraya melongokan kepalanya melihat coklat yang di pesan Nia.
"Ihh kepo deh!" hadang Nia melihat jiwa kekepoan Dhea timbul.
"Mbak, jangana lupa di depan sama belakang namanya kasih simbol love ya! saya tunggu di kasir!" pinta Nia melanjutkan ucapannya yang terputus.
"ah..baik mbak!" sahut pelayan toko itu.
"ciyee..love..love..untuk pak Fariz yaa!" goda Dhea
"Dheot! kepo banget sih kamu!" sahut Zhilla.
"iyee..iyee.gue diem!" Dhea mengunci bibirnya.
Setelah perdebatan kecil yang tak berfaedah tersebut, Nia dan 2 sahabatnya menuju kasir untuk membayar belanjaan yang mereka beli.
"Waah, coklatnya punya mbak ya?" tanya penjaga kasir dengan lembut seraya memperhatikan Nia.
"Buat pacarnya ya mbak?" goda penjaga kasir.
Ett dah, ni mbak kepo banget kaya si Dheot! gumam Nia dalam hati.
"bu..." tiba-tiba Dhea memotong perkataan Nia.
"buat tunangannya mbak!" Dhea menyerobot jawaban Nia.
"Sstt..." Nia menempelkan telunjuknya ke bibir Dhea.
"oh buat tunangannya mbak! ini hadiah karena mbak udah order coklat ini!" sembari memberikan setangkai permen berbentuk hati yang terlihat sangat manis.
"wahh..makasih mbak!" ujar Nia senang.
"iya mbak, permen ini terkenal sebagai permen pembawa cinta sejati!" balas penjaga kasir seraya tersenyum ke arah Nia.
Nia hanya manggut-manggut mendnegar penjelasan penjaga kasir lalu memberikan sejumlah uang kertas untuk membayar belanjaannya. Setelah mereka puas berbelanja dan berkeliling, mereka kembali ke rumah.
Di Rumah
Sesampainya Nia dirumah, terparkir sebuah mobil yang sangat familiar bagi Nia. Ia tersenyum lebar saat melihat pemilik mobil itu keluar dari arah pintu utama rumahnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" ucap Nia memberi salam seraya tersenyum ke Fariz.
"Waalaikumussalam, dari mana saja kamu?" tanya Fariz datar.
"Em..abis jalan-jalan sama Dhea dan zhilla mas!" jawab Nia.
"Itu apa yang kamu bawa?" seraya menunjuk ke arah kotak yang di bawa Nia.
"Em..ini..coklat mas!" jawab Nia seraya berjalan masuk ke rumahnya.
"ehh..anak ibu udah pulang? apa itu nak?" tanya bu Nurmala.
"ini..coklat bu!" jawab Nia menaruh kotak berisi coklat yang di belinya tadi.
"wah..coklat dari siapa nak?" tanya bu Nurmala lagi.
"beli bu, oya mas Fariz udah lama datengnya?" tanya Nia memandang bu Nurmala dan Fariz bergantian.
"baru 30 menit saya disini!" menatap Nia datar.
"mas Fariz! kenapa liatin Nia gitu sih? serem tauu!" sahut Nia menarik badannya ke belakang kelika melihat ekspresi wajah Fariz.
"nak Fariz nungguin kamu udah dari tadi Nia! kamu di telfonin gak di angkat-angkat juga sih!" jelas bu Nurmala.
"mas Fariz nelfon Nia?!" Nia merogoh tasnya meraih ponselnya yang ternyata sudah ada 30 panggilan tak terjawab dari nomor yang tak dikenal.
Saat hendak menonton bioskop, Nia menonaktifkan segala notifikasi di ponselnya. Sampai usai menonton pun Nia masih menonaktifkannya karena lupa. Sehingga ketika Fariz menghubunginya, Nia tidak mengetahuinya.
"Astagfirullah! Nia lupa aktifin notifikasinya lagi habis nonton tadi!" ungkap Nia menepok jidatnya.
"Maafin Nia ya mas! bu..!" ucap Nia lagi.
"Hm..sudah ibu duga kan Fariz! dia selalu gitu kalau hpnya di nonaktifkan!" ujar bu Nurmala.
Fariz hanya memandangi Nia dengan tatapan yang tak bisa diartikan lagi, betapa khawatirnya Fariz ketika dia tidak dapat menghubungi Nia.
"Sudahlah! lain kali jangan begitu!" ucap Fariz menarik garis lengkung di bibirnya.
Nia pun membuka kotak yang di belinya tadi, Fariz menyipitkan matanya melihat huruf-huruf yang ada di atas coklat itu. Terangkai namanya dengan simbol hati diawal dan akhir namanya.
"wah..nama nak Fariz ternyata!" goda bu Nurmala menoel lengan Nia.
Nia hanya tertunduk malu saat di goda oleh bu Nurmala, lalu beralih memandang Fariz.
"Terimakasih!" bisik Fariz.
Usai berbincang-bincang, Fariz mengajak Nia ke butik milik sang tante untuk mencoba pakaian yang akan mereka kenakan saat akad dan resepsi pernikahan nanti. Mencari berbagai cinderamata untuk tamu undangan dan memesan undangan pernikahan mereka yang akan di langsungkan bulan depan.
__ADS_1