Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Gimana rasanya?


__ADS_3

Para 3 dara cantik itu kembali menyusuri koridor sekolah, sesampainya mereka di gerbang sekolah ternyata Fariz sudah menunggu Nia untuk menjemputnya. Hari ini Fariz tidak ada jam mengajar, jadi dia berkutat di perusahaannya.


"Nia!" panggil Fariz seraya tersenyum ke arah Nia.


"Mas!" membalas senyuman Fariz.


"Duh..duh..duh..yang udah di jemput sama kakanda tercinta!" goda Dhea.


"Apaan sih kamu Dhe! lebay ah!" ujar Nia.


"Nia, gimana rasanya deketan sama guru killer kek pak Fariz gitu?" tanya Zhill penasaran.


"kek permen Naon-naon! manis, asem, asin..ribut rasanya!" canda Nia.


"Yeee malah becanda lo, seri..." omongan Dhea terhenti ketika melihat Fariz mendekat ke arah mereka, Dhea mengira Fariz akan menghukum mereka karena membicarakan gurunya itu.


"M*ti gue! di omelin dah..yaa..yaa..di samperin dah guee!"Dhea membalikkan badannya, dia takut melihat ekspresi dingin Fariz. Namun Nia menahan Dhea yang hendak kabur.


tiba-tiba,


"Apa perlu saya.." belum selesai Fariz bicara, Dhea sudah memotongnya.

__ADS_1


"Maafin saya pak! saya janji gak akan ngomongin bapak lagi! janji deh!" potong Dhea seraya membalikkan badannya lalu mengatupkan dua telapak tangannya memohon.


"Oo...jadi kamu tadi lagi ngomongin saya ya!" sahut Fariz.


"Mas..kita bukan lagi ngomongin kamu! Dhea tu tadi cuman lagi nanya aja!" balas Nia membantu sahabatnya itu.


"Hmm...baiklah!" sahut Fariz "kalau gitu ayo kita pulang! kamu masih harus banyak istirahat Nia!" lanjut Fariz.


"Nia bosen mas kalo di rumah terus, lagian Nia juga udah sembuh koq!" ujar Nia.


"Hmm..kalau gitu kita jalan-jalan dulu gimana?" tanya Fariz.


"Emm..tapi Nia ajak mereka berdua juga ya mas?!" tanya Nia balik.


"Yes!" sahut Dhea kegirangan.


Fariz mengernyitkan dahinya melihat tingkah Dhea. Muridnya yang satu ini emang agak berisik dan juga barbar, jadi Fariz sudah tidak heran lagi.


"Ayo!" ajak Fariz membalikkan badannya lalu berjalan duluan.


"Wah..ternyata pak Fariz gak segarang kek biasanya ya Nia!" ujar Zhilla.

__ADS_1


"Setelah aku bertunangan sama dia, aku baru melihat sisi lain dari dirinya!" balas Nia.


"ayo! kenapa masih disana? apa perlu saya siapkan red carpet untuk nona-nona ini?!" ejek Fariz.


"ah..hehhe iya..iya..pak!" sahut Dhea "ayok gaes! bengong bae!" lanjut Dhea seraya menarik tangan dua sahabatnya itu, Dhea sudah tidak sabar untuk jalan-jalan.


"Waww! emejing banget mobilnya pak Fariz! wah Nia.. beruntung banget lo punya calon suami kek pak Fariz!" ucap Dhea kagum.


"Iya Nia! aku juga mau dapet suami kek pak Fariz!" oceh Zhill.


"Udah Zhilla..ngayalnya entar aja! ayok naik dulu!" celetuk Dhea.


Mobil pun melaju keluar dari pekarangan sekolah, Fariz yang saat itu sedang mengemudi di perhatikan oleh Nia secara diam-diam.


Ini beneran calon suamiku? mimpi apa aku bisa punya suami seoran Al-Fariz Suhendar? gumam Nia dalam hati.


"Ekhem..liat apa nona? apa ketampananku mengalihkanmu?" goda Fariz.


"Apaan sih kamu mas! kepedean banget dah!" Nia membulatkan matanya mendengar celotehan Fariz.


"Eheeemm..eheemm...mon maap yee... ada orang wey disini! bukan karung beras!" ucap Dhea.

__ADS_1


Nia, Fariz dan Zhilla tertawa mendengar celetukkan Dhea, yang merasa kehadirannya tidak di anggap oleh sang empunya mobil.


__ADS_2