Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Dinner Untuk Pengantin Baru


__ADS_3

Usai menikmati makan siang, mereka kembali mengelilingi kota Paris. Mereka mengunjungi beberapa toko yang menyediakan souvenir untuk dijadikan oleh-oleh.


Nia memilih beberapa aksesoris perempuan untuk kedua sahabatnya, dan juga baju-baju yang bertuliskan Paris. Tak lupa ia membelikan tas untuk ibu dan mama mertuanya, tak lupa baju trend untuk kedua ayahnya.


"Mas! Nia udah beliin ini untuk oleh-oleh," ujar Nia menunjukkan keranjang yang berisikan barang belanjaannya.


"Itu untuk siapa aja, sayang?" tanya Fariz yang melihat keranjang Nia sudah terisi penuh.


"Aksesoris untuk Zhilla dan Dhe, ada baju juga. Dan dua tas ini untuk ibu dan mama. Nahh untuk bapak-bapaknya Nia milih baju ini," terang Nia panjang lebar membuat Faris menganggukkan kepalanya.


"Nah, itu ada baju couple mas! Nia mau beli itu untuk kita. Besok kita ke Disney Land pake itu yuk, Mas." Nia menunjuk baju couple yang masih terpasang di mannequin.


"Iya boleh," balas Fariz setuju.


Setelah selesai memilih dan membayarnya, mereka kembali ke mobil dan kembali ke hotel untuk beristirahat.


***


Kediaman Hendrawan


"Yah, ibu kangen sama Nia." ungkap Bu Nurmala sendu.


Semenjak menikah, Nia jarang bertemu dengan orang tuanya. Hanya lewat video call lah mereka melepas rindu, apalagi Nia adalah anak tunggal. Sehingga kepergiannya menikah dengan Fariz membuat suasana rumah Pak Hendrawan menjadi sepi, hanya ada Bu Nurmala, Pak Hendrawan serta para maids.

__ADS_1


Bu Nurmala akhirnya memutuskan untuk menghubungi putrinya, sudah kepalang rindu dengan putri semata wayangnya itu.


'Tut..Tut..'


"Assalamualaikum. Hallo, Bu." ucap Nia di sebrang telepon.


"Waalaikumsalam. Hallo, Nak!" sahut Bu Nurmala dengan suara paraunya.


"Ada apa, Bu? Kok ibu nangis? Ibu kenapa? Ibu baik-baik aja kan, ayah juga baik-baik aja kan, Bu?" cecar Nia ketika mendengar suara sang ibu.


"Ibu dan ayahmu baik-baik dan sehat, Nak! Ibu rindu kamu, Nia. Ayahmu juga. Bagaimana kabarmu dengan suamimu?" balas Bu Nurmala.


"Nia, kapan kamu pulang, Nak?" ucap Pak Siddiq menyela pembicaraan istrinya dengan anak semata wayangnya.


"Cepat lah pulang, Nak. Kami sangat merindukanmu!" ungkap Pak Siddiq.


"Iya, Ayah! Kamis depan Nia dan Mas Fariz pulang kok." balas Nia.


"Ya sudah, ayah matikan ya teleponnya. Kamu baik-baik disana sama suamimu! Assalamualaikum!" ujar Pak Siddiq memutuskan sambungan telepon.


Bu Nurmala yang sudah tidak dapat menahan rindunya, menyudahi obrolannya bersama Nia, mengalihkannya pada suaminya.


***

__ADS_1


Kediaman Suhendar


Pak Suhendar dan Bu Sofi juga teringat akan putra semata wayangnya. Namun, kesibukan keduanya membuat mereka hanya berkomunikasi melalui pesan pribadi dan terkadang melalui telepon suara.


"Kapan ya Fariz pulang, Pah?" tanya Bu Sofi kepada suaminya yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Katanya hari Kamis depan, Mah." jawab Pak Suhendar yang tetap fokus pada laptopnya.


"Mamah udah nggak sabar nunggu mereka pulang, Pah! Kira-kira Nia udah hamil belum ya? Semoga aja bulan madu mereka membuahkan hasil ya, Pah." ungkap Bu Sofi sambil membayangkan menantunya tengah hamil.


"Aamiin!" sahut Pak Suhendar singkat.


***


Fariz dan Nia sudah siap untuk dinner time, gaun merah maroon anggun dengan warna hijab yang senada dengan gaun yang di pakai Nia menambah aura kecantikan pada dirinya. Fariz yang mengenakan tuxedo hitam menambah ketampanan dan kegagahannya.


Tomy membuat dinner time spesial untuk mereka, tak lupa mengundang teman-teman nya pada masa sekolah yang juga tinggal di Perancis dan juga berteman dengan Fariz. Tomy juga turut mengizinkan para tamu hotel untuk bergabung.


"Good Night everybody, welcome to spesial dinner time. Tonight's dinner was welcome to my special hotel guests. The husband is my best friend and his wife. To friends who have been present, thank you, and for hotel guests, welcome and enjoy!" ungkap Tomy pada pembukaan acara makan malam di rooftop hotel megahnya.


Riuh tepuk tangan dan samar-samar terdengar ucapan selamat dari para sahabat dan juga tamu hotel menjadi satu, Fariz dan Nia yang menjadi objek pembicaraan hanya tersipu malu dan membalas tiap ungkapan dari orang-orang yang hadir pada malam itu.


Acara makan malam berjalan dengan lancar, di tengah-tengah acara Nia merasa sedikit pusing dan meminta sang suami untuk mengantarnya ke kamar. Maka Fariz pun berpamitan terlebih dahulu kepada Tomy dan teman-temannya. Mereka pun kembali ke kamar, yang terletak dilantai dua puluh.

__ADS_1


__ADS_2