Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Hari Pernikahan (Akad)


__ADS_3

Pukul 4 dini hari, seperti biasa ponsel Nia kembali mengeluarkan dering alarmnya. Telinga Nia yang sudah terbiasa dengan suara alarm serta Adzan yang sedang berkumandang, sehingga membuatnya dengan segera bangun dari alam bawah sadarnya itu.


Nia mengerjapkan matanya, menghalau sinar lampu yang baru saja dihidupkan.


"Emh.." gumam Nia merentangkan kedua tangannya keatas kemudian duduk menyandar dikepala ranjangnya "Alhamdullillahilladzi ahyaanaa bada maa amaatanaa wa ilaihin nushur' hooaamhh.." Nia membaca doa bangun tidur masih keadaan mata tertutup dan dengan suara khas bangun tidur lalu menutup mulutnya saat menguap.


Suara langkah kaki mendekat kearah ranjang Nia, ia dapat mengenali suara langkah itu.


"Ayah!" panggil Nia ketika melihat sosok yang kini berdiri disamping ranjangnya.


"Ayo bangun Nak, kita sholat subuh sama-sama." ajak pak Siddiq seraya membelai lembut pucuk kepala anak gadisnya itu.


"Iya yah, Nia menyusul." balas Nia tersenyum ke arah sang ayah.


"Hm.." gumam pak Siddiq kemudia mencium pucuk kepala Nia dengan penuh kasih sayang.


"Nia sayang Ayah..dan juga ibu!" ucap Nia lembut.


"Kami juga sangat menyayangimu nak!" balas pak Siddiq dengan suara sedikit menahan tangisnya.


Buru-buru pak Siddiq meninggalkan Nia dan berjalan menuju ruang Sholat, disana bu Nurmala sudah menunggu dengan wajah sendunya. Pak Siddiq kemudian duduk didepannya, menahan air matanya yang sedari tadi hendak mendobrak pelupuk matanya.


"Yah..!" tegur bu Nurmala menyentuh pundak suaminya.


"Emh..iya bu!" pak Siddiq buru-buru menyeka air matanya yang sudah mengalir sedikit, lalu memutar tubuhnya menhadap istrinya.


"Ayah baru sekali bangunin Nia, ibu yang selalu bangunin dia.." ucapan bu Nurmala terhenti seketika "ibu pasti akan merindukan kebiasaan bangunin Nia yah!" lanjutnya lagi.


"Kalau gitu, gimana kalo kita bikin adik buat Nia! biar ibu bisa lanjutin kebiasaan itu setelah Nia ikut suaminya!" goda pak Siddiq mencoba merubah suasana yang terasa sedih itu.

__ADS_1


Sebenarnya pak Siddiq sangat sedih, namun ia mencoba untuk tegar didepan istri dan anak gadisnya. Ia takut jika menunjukkan perasaan sedihnya, akan membuat Nia enggan untuk meninggalkan orangtuanya dan enggan untuk ikut bersama suaminya.


"Ayahh!" ucap bu Nurmala geram dengan rona merah dipipinya karena digoda oleh suami yang sangat dicintainya iyu.


"Hehehe...bercanda bu!" sahut pak Siddiq mengelus mencubit pelan pipi istrinya.


"Huh..ayah ini, dari dulu suka banget godain ibu!" tukuas bu Nurmala.


"Hehe..kalo dulu ayah nggak godain ibu, mana mungkin sekarang kita punya Nia." godanya lagi.


"Hm..iya deh iya.." ucap bu Nurmala mengalah bila sudah berdebat dengan pak Siddiq, suaminya.


Saat pak Siddiq sedang bercengkrama dengan bu Nurmala, Nia memasuki ruang sholat dan duduk disebelah ibunya.


"Ayah sama ibu lagi ngobrolin apa hayoo...ngobrolin Nia yaa.." tukas Nia memandangi kedua orantuanya itu bergantian.


"Hmm..ini nih kembarannya ayah..kepedean!" celetuk bu Nurmala menyebikkan bibirnya.


"Ada itu, kumis tipis!" timpal pak Siddiq menunjuk kumis tipis yang menempel diatas bibir Nia.


"Ayah..ini tuh kumis pemanis! bukan kumis kaya ayah.." ucap Nia cemberut sembari menutupi kumisnya.


"Hehee..iya iya..yasudah kita sholat dulu, bercandanya lanjut nanti!" ajak pak Siddiq kemudian bangkit dari duduknya, membenarkan arah sholatnya lalu mulai mengimami kedua pmwanita yang sangat disayanginya itu.


Usai melaksanakan sholat shubuh, Nia kembali ke kamarnya merapikan tempat tidur yang belum sempat ia benahi setelah bangun tidur tadi.


Saat sedang membenahi tempat tidurnya, bu Nutmala menghampiri Nia menyuruhnya untuk segera mandi karena perias akan segera datang untuk merias wajahnya.


"Kamu mandi, biar ibu yang beresin ini!" ucap bu Nurmala merampas selimut yang sedang dilipat Nia.

__ADS_1


"Tapi bu..." rengek Nia.


"Udah sana mandi cepetan! entar lagi perias dateng nak!" perintah bu Nurmala menuntun anak gadisnya ke kamar mandi.


"Iya ibuku sayang!" Nia menurut perintah sang ibu, sebelum masuk ke kamar mandi ia sempatkan untuk mencium pipi ibunya.


Tak lama kemudian, perias yang akan merias Nia datang dengan membawa banyak peralatan makeup bersama asistennya. Bu Nurmala mempersilahkan mereka untuk merias wajah anaknya didalam kamar Nia.


Setelah selesai mandi, Nia memakai baju gantinya dan keluar siap untuk didandani oleh sang perias yang sudah menunggu dikamarnya itu.


"Ah..mbak nya udah dateng ternyata." ucap Nia sambil menutup pintu kamar mandinya.


"Iya mbak, silahkan duduk mbak!" perintah MUA dengan sopan "Biar saya bisa langsung dandanin mbak nya." sambungnya.


"Emh..iya!" sahut Nia mendekat ke kursi yang berada didepan meja rias miliknya lalu mendaratkan bok*ongnya kekursi tersebut.


Sang MUA dengan lihainya memainkan kuas-kuas yang berbeda bentuk dan ukuran yang dibawanya tadi. Menciptakan riasan natural namun tetap terlihat elegan diwajah cantik Nia, siapapun pasti akan pangling ketika melihatnya.


Usai merias wajah Nia, MUA itu langsung membantu Nia untuk memakaikan kebaya berwarna putih ketubuh Nia. Kebaya yang dikenakannya saat ini adalah pemberian sang ibu, saat melangsungkan ijab kabul dengan suaminya dulu.


Kecantikan Nia bertambah, dan ia terlihat anggun mengenakan kebaya pemberian ibunya. Kebaya putih yang dipadukan dengan rok songket berwarna silver dengan list disisinya berwarna hitam, dan jilbab satin tebal yang berwarna senada dengan kebayanya.


Pukul 6.50 Nia sudah selesai didandani, begitu juga dengan bu Nurmala yang didandani oleh MUA yang dipesannya berbeda.


Tepat pukul 7 pak penghulu yang dipesan oleh pak Siddiq juga telah tiba, kerabat dekat, sanak saudara juga nampak hadir ini untuk menyaksikan ikrar janji suci antara Nia dan Fariz.


Dari luar pagar rumah mereka, nampak serombongan mobil mewah yang semuanya berwarna hitam berhenti dan parkir didepan rumah mereka. Ya, rombongan keluarga Fariz.


Seseorang membuka pintu tengah mobil mewah itu dari arah luar, lalu nempaklah seorang laki-laki paruh baya turun yang diikuti oleh seorang pria muda mengenakan jas Beskap berwarna senada dengan kebaya Nia.

__ADS_1


Dan dari pintu sisi kiri mobil, nampak seorang wanita paruh baya dengan kebaya berwarna kuning keemasan yang dipadukan dengan kain rok berbahan satin berwarna cokelat, dengan style rambut digelung menambah kesan anggun padanya. Mereka adalah Gunawan Suhendar, Sofi Suhendar dan Al-Fariz Suhendar.


__ADS_2