Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Malam Pertama?


__ADS_3

Usai menikmati makan malam, dua kekasih halal itu kembali menapaki anak tangga menuju kamar mereka yang berada dilantai dua. Fariz ingin sekali rasanya menggendong Nia seperti tadi, namun rasa gengsinya muncul ketika melihat para bibi dan Hera yang terus memperhatikan mereka.


Sesampainya mereka dikamar, Fariz menutup pintu dengan pelan lalu menguncinya. Nia duduk disofa yang berada disisi depan ranjang mereka, menyalakan TV untuk menonton siaran tv show kesukaannya.


Fariz mendekati sofa berwarna cream itu mendaratkan tubuhnya tepat disebelah sang istri, lalu meletakkan kepalanya di atas pangkuan Nia. Sang istri tercekat ketika Fariz menjatuhkan kepalanya tepat dipahanya, mungkin karena belum terbiasa.


"Astagfirullah! Mas bikin kaget aja," Nia terkejut jantungnya berdebar tak karuan.


"Hehe, maaf sayangku. Mas kan pengen manja-manjaan sama kamu, apalagi ini kan..." Fariz menghentikan omongannya mengalihkan manik matanya entah kemana-mana.


"Apa?" tanya Nia tidak mengerti.


"Ini kan malam..." Fariz beringsut lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Nia "ini malam pertama kita, sayang." lanjut Fariz berbisik ditelinga Nia.


Nia diam mematung, ia mengerjap-ngerjapkan matanya tidak mengerti omongan Fariz barusan.


"Malam pertama gimana maksud mas?" tanya Nia polos, Fariz memejamkan matanya seraya menepuk dahinya.


Sungguh polosnya kamu sayang. Gumam Fariz dalam hatinya.


"Malam pertama itu, malamnya pengantin baru seperti kita sayang!" jelas Fariz seraya menangkupkan pipi Nia.


"Eh?" Nia tercekat "Maksudnya gimana sih mas, Nia nggak ngerti!" lanjut Nia menatap lekat sang suami.


"Jadi..." Fariz membisikkan sesuatu kepada Nia sehingga membuat istrinya menganga dengan lebar.


"Jadi harus gitu mas??" tanya Nia membulatkan kedua matanya.


"Iya istriku sayang!" balas Fariz tersenyum menggoda Nia.


Nia mengulum senyumnya, tidak tau harus berkata apa lagi. Rona di wajahnya tidak dapat disembunyikan lagi, ketika membayangkan pergumulan yang dikatakan oleh Fariz akan segera terjadi.


Nia bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat isya. Fariz yang duduk di sofa hanya memperhatikan istrinya dari belakang.


Tak lama kemudian Nia keluar dari kamar mandi dan menatap Fariz dengan seksama.


"Mas," ucap Nia.


"Iya sayang?" jawab Fariz menoleh ke arah Nia.

__ADS_1


"Ayo sholat dulu," ucap Nia seraya mengenakan mukenahnya.


"Emh iya mas berwudhu dulu," balas Fariz lalu bangkit berjalan menuju kamar mandi.


Usai berwudhu, Fariz mengimami Nia tak lupa berdzikir usai sholat. Usai melaksanakan kewajiban nya, Fariz menggendong Nia menuju ranjang dan merebahkan tubuh mungil istrinya. Lalu ia ikut merebahkan tubuhnya disamping wanitanya, Nia tersenyum simpul lalu membalikkan tubuhnya memunggungi suaminya.


Entah perasaan apa yang sedang menjalar ditubuhnya saat ini, tiba-tiba dari arah belakang Fariz menarik tubuh mungil istrinya itu dengan sangat lembut kedalam pelukannya. Nia tersentak seketika tubuhnya berdesir, degupan jantungnya dapat dirasakan oleh Fariz.


"Mas," ucap Nia masih dalam pelukan suaminya.


"Iya sayang?" sahut Fariz yang sedang mengelus lembut rambut indah wanitanya.


"Nia...belum..si..siap mas!" ucap Nia terbata-bata sambil menenggelamkan lebih dalam kepalanya dalam pelukan Fariz.


Sebenarnya Fariz merasa sedikit kecewa dengan pernyataan sang istri, namun ia tidak mau mengikuti egonya. Ia juga tidak mau menyakiti wanita yang sangat dicintai dan disayanginya itu, maka dari itu Fariz harus lebih bersabar dalam menghadapi Nia disemua keadaan.


"Iya nggak apa-apa sayang, mas ngerti kok!" ucap Fariz seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Nggap apa-apa Riz! masih ada malam-malam berikutnya, semangat Riz! gumam Fariz dalam hatinya menyemangati dirinya sendiri.


Akhirnya dua kekasih itu saling merengkuh tanpa ada celah sedikitpun, angin semilir dari AC membelai lembut di kulit kedua sejoli itu. Menggiring mereka untuk terus masuk ke dalam peraduannya, memimpikan masa depan bersama.


Waktu menunjukkan pukul 4 dini hari. Fariz membuka matanya perlahan, merasakan ada sesuatu yang sedang memeluknya. Ternyata dari semalam Nia tidak melepaskan pelukannya, rasanya Fariz enggan bangkit dari tidurnya dan tidak ingin membangunkan wanitanya yang tidur pulas dipelukannya itu. Namun ia sebagai kepala rumah tangga mengharuskan mendidik istri dan anak-anaknya kelak dengan sangat baik, apalagi dalam urusan agama.


Dengan sangat lembut, Fariz membangunkan Nia dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat subuh.


"Sayang," ucap Fariz seraya mengusap pipi chubby wanitanya "ayo bangun sayang. Kita sholat Subuh!" imbuhnya yang hanya mendapat respon lenguhan dari sang istri.


"Sayang, nanti waktu subuhnya habis lho!" ucapnya lagi seraya mengusap-usap pipi Nia.


Tak mendapat respon yang lebih dari Nia, timbul lah pikiran jahil Fariz. Dijempitnya hidung istrinya dengan kedua jarinya, sehingga membuat Nia gelagapan dan segera membuka matanya.


"Mas!" ucap Nia kesal dengan suara khas bangun tidurnya "Jahat ih, kalo Nia nggak bisa napas gimana?" sambungnya seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Fariz.


"Hehee..maaf sayang, habis nya kamu dielus-elus malah nggak bangun. Yaudah mas jepit aja hidungnya, biar makin mancung." Fariz terkekeh seraya memeluk Nia kembali dalam pelukannya.


"Nia tuh denger mas manggilin, tapi kan butuh proses untuk bangun mas!" ucap Nia masih kesal.


"Iya..iya..maafin mas ya sayang," ucap Fariz dengan wajah memelasnya.

__ADS_1


"Hem..iya, besok-besok jangan lagi ya mas!" balas Nia memperingatkan Fariz.


"Siap sayangku, yaudah kita sholat yuk. Takut waktunya habis," sahut Fariz seraya mengajak Nia untuk melaksanakan sholat subuh.


Usai melaksanakan sholat, mereka beranjak ke sofa berwarna cream yang berada disisi depan ranjang mereka. Fariz menangkupkan kedua pipi wanitanya lalu mencium kening Nia dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Mas hari ini ngajar?" tanya Nia mengingat profesi suaminya adalah seorang guru.


"Kamu kan udah lulus sayang, jadinya mas libur." jelas Fariz seraya mengelus pucuk kepala istrinya.


"Lalu mas Fariz nggak ngajar lagi dong?" tanya Nia mengangkat wajahnya menatap Fariz.


"Masih istriku. Tapi karena kalian sudah tamat dan libur jadi mas juga libur, nunggu kelas dua naik ke kelas tiga." jelas Fariz membuat Nia manggut-manggut tanda mengerti.


"Terus hari ini mas ke kantor?" tanya nya lagi.


"Emm.." gumam Fariz berpikir sejenak "Kayanya mas mau cuti dulu, mau ngajak kamu liburan!" ucap Fariz seraya menjepit ujung hidung mancung istrinya.


"Liburan kemana mas?" tanya Nia dengan matanya yang berbinar-binar.


"Kamu mau nya kemana sayang, hum?" Fariz balik bertanya.


"Hemm.." Nia berpikir sejenak memalingkan tatapannya kesudut kamarnya "Yang deket aja mas, gimana kalo ke puncak aja mas?" Nia menyatakan idenya untuk liburan ketempat-tempat dengan jarak dekat.


"Yah sayang, masa ke puncak. Enak sih dingin-dingin, tapi terlalu dekat sayang." protes Fariz menyebikkan bibirnya.


"Terus kemana dong mas? Nia bingung mau kemana," tanya Nia seraya menyandarkan kepalanya di pundak Fariz.


"Em..kita ke sini aja," saran Fariz seraya menunjukkan sebuah gambar menara yang berada di prancis.


Nia mengerjapkan kelopak matanya, ia sangat menginginkan liburan ke negara yang terkenal dengan menara yang berdiri dengan kokoh dan sangat ikonik di kota Paris tersebut.


"Nia, mau mas!" balas Nia dengan antusias dengan mata yang berbinar-binar.


"Oke sayang, dan ini tiketnya!" Fariz menunjukkan kembali sebuah tiket online dari benda pipih yang berada digenggamannya itu.


"Mas, makasih sayang!" ucap Nia lalu spontan memeluk prianya itu dengan leluasa.


Fariz tersentak ketika Nia memeluknya terlebih dahulu, dan lebih kagetnya mendnegar Nia menyebutkan kata sayang padanya. Fariz tak melewatkan kesempatan itu, dengan sigap ia membalas pelukan sang istri lalu mengecup dengan lembut bibir tipis wanitanya.

__ADS_1


__ADS_2