Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Fariz Usil


__ADS_3

Mereka telah tiba di area Menara Eiffel. Sepasang kekasih halal itu mulai berkeliling, menghirup udara bebas yang sangat segar.


"Mas, indah banget ya!" ucap Nia kagum melihat Eiffel Tower sedekat ini.


"Tapi ada yang lebih indah dari ini sayang." balas Fariz.


"Apa itu, Mas?" tanya Nia menoleh ke arah Fariz.


"Kamu." ucap Fariz singkat.


Nia mengerjapkan matanya, menatap Fariz sesaat lalu memukul lengan Fariz perlahan.


"Mas bisa aja!" ucap Nia malu-malu.


Fariz mengembangkan senyumnya, mencubit pelan pipi chubby wanitanya itu. Mereka berjalan mengelilingi menara Eiffel, lalu Fariz mengajak Nia untuk naik ke puncak menara tinggi itu.

__ADS_1


"Sayang, kita naik yuk!" ajak Fariz seraya menunjuk puncak menara Eiffel.


"Tapi mas! Nia phobia ketinggian!" jawab Nia tergagu.


Belum lagi mereka menapaki jalan menuju puncak, sudah terlihat rona panik di wajah Nia. Membuat jiwa usil Fariz muncul.


Fariz mengangkat tubuh mungil Nia, di gendong nya istri kecilnya itu menuju lift yang akan segera membawa mereka ke puncak menara Eiffel. Mereka telah membeli tiket menuju puncak melalui akses online sebelumnya, jadi tidak bersusah payah lagi untuk antre.


"Mas! Turunin mas! Ih mas selalu gitu deh!" pekik Nia membuat orang-orang yang ada disekitaran mereka memperhatikan dengan heran.


Fariz tidak mengindahkan jeritan Nia, ia terus berjalan cepat sambil menggendong Nia menuju pintu lift yang saat itu terlihat sepi. Banyak orang-orang lebih memilih menaiki tangga saat itu, mungkin mereka ingin menikmati suasana tiap tingkatnya.


"Abisnya mas juga sih! Main gendong aja, udah tau Nia lagi panik malah mas gendong-gendong gitu!" gerutu Nia menekuk-nekuk wajahnya.


"Lagian kenapa kamu harus takut sih, sayang? Enak tau naik ke atas, bisa liat kota Paris dari puncak sana!" jelas Fariz menunjuk kembali puncak menara Eiffel tepat di bawahnya.

__ADS_1


'Ting!'


Pintu lift terbuka, terlihat orang-orang yang keluar dari dalam lift itu. Mereka yang sedang menunggu pun memasuki lift. Lift mulai berjalan, menuju lantai mengantar mereka yang akan turun di lantai dua.


Fariz menarik tangan Nia untuk keluar dari lift.


"Mas, kita bukannya mau ke puncak ya? Kenapa turunnya disini?" tanya Nia bingung. Sebab yang ia tau, Fariz membeli tiket hingga ke puncak menara Eiffel.


"Mas lupa, sayang. Ternyata tiket yang mas beli hanya sampai lantai dua, jadi entar ke puncaknya kita beli tiket yang naik tangga aja ya? Nggak apa-apa kan, sayang?" ungkap Fariz.


Apa ini? Mas Fariz mau ngusilin aku lagi? tapi dari mukanya kaya lagi nggak bercanda sih, yasudah lah. Untung-untung olahraga. Gumam Nia dalam hatinya.


Nia mengangguk, lalu muncul kembali raut wajah usil Fariz.


"Tapi boong, sayang!" ungkap Fariz membuat Nia mendengus kesal.

__ADS_1


"Sebel! Mas jangan kebanyakan bercanda, nanti kalo mas beneran lagi serius, Nia nggak akan percaya lagi sama mas!" Nia melenggang meninggalkan Fariz yang melongok mendapat ucapan seperti tadi dari istrinya.


Baru kali ini Nia sangat sensitif. Toh, biasanya mereka selalu penuh dengan canda dan tawa. Fariz sudah biasa mengusili istrinya, Nia juga biasanya akan membalas keusilan Fariz. Namun, tidak dengan kali ini, Nia sangat sensitif. Apa jangan-jangan? Nia sedang hamil? Ya, semoga saja.


__ADS_2