Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
No Paris!


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mobil mewah berwarna hitam pekat yang membawa Nia dan Fariz telah sampai didepan pintu keberangkatan international.


Mang Sapto dengan sigap menurunkan barang-barang milik majikannya, Fariz yang sudah turun lebih dulu membukakan pintu untuk sang istri.


"Ayo sayang," ajak Fariz meraih tangan Nia.


"Makasih mas," sahut Nia tersenyum.


"Mang, makasih udah nganterin kita ya!" ucap Fariz kepada mang Sapto.


"Sama-sama tuan, nyonya. Ini toh sudah jadi tugas saya," balas mang Sapto dengan sopan.


"Ini untuk mang Sapto!" ucap Fariz seraya mengeluarkan lembaran berwarna merah dan memberikannya kepada mang Sapto.


"Ah terimakasih, tapi tidak usah tuan!" tolak mang Sapto halus "Lagi pula kemarin tuan baru saja memberikan gaji kepada saya," lanjutnya.


"Nggak apa mang, ini reward dari saya. Karena mamang sudah sangat baik dalam menjalankan tugas! Lagipula saya jarang memberikan reward seperti ini kepada kalian," ungkap Fariz seraya menyodorkan kembali lembaran itu.


"Emh terimakasih tuan, ini saya terima ya tuan!" ucap mang Sapto seraya menerima lembaran berwarna merah itu.


"Sama-sama mang," balas Fariz.


"Kalau gitu, kita masuk ya mang!" ucap Fariz " Mamang hati-hati dijalan," imbuhnya lagi.


"Baik tuan. Tuan dan nyonya juga hati-hati, selamat berlibur ya tuan dan nyonya!" balas mang Sapto membungkuk hormat.


"Hm," gumam Fariz meraih gagang kopernya.


"Makasih ya mang," ucap Nia melontarkan senyumnya.


"Sama-sama nyonya muda," balas mang Sapto membalas senyuman nyonya mudanya yang ramah itu.


Fariz merangkul pinggang ramping istrinya, dengan tangan sebelah kiri menarik koper milik mereka.


Mereka berjalan menuju pintu masuk untuk melakukan pemeriksaan tiket dan juga barang, dari luar mang Sapto memperhatikan bayangan tuan dan nyonyanya hingga hilang dibalik pintu.


Dari dalam ruang check-in sepasang mata memperhatikan pergerakan suami istri itu, dengan raut wajah kesal dan berdecak tidak suka.


"Kebetulan sekali kita bertemu disini. Lihat, kejutan apa yang akan aku berikan padamu, sayang!" ucap salah seorang dari mereka dengan lirih.


"Woy! Lo ngeliatin apaan sih?" suara seorang wanita membuyarkan pikirannya.


"Apaan sih lo, ganggu aja!" ucapnya kesal.


"Lagian sih, bantuin gue sini! Malah bengong nggak jelas!" omel temannya seraya menaikkan barang untuk ditimbang.


"Iya..iya, bawel!" ketusnya.


Fariz dan Nia sudah selesai dengan urusannya, mereka melanjutkan langkahnya untuk memasuki ruang tunggu dan menunggu panggilan keberangkatannya.


Nia merogoh tas kecilnya meraih benda pipih berwarna silver, jari lentiknya mulai menari diatas layar mencari sebuah kontak telepon.


'Ibu'


"Tut..Tut.. Assalamualaikum!" ucap suara lembut seorang wanita diujung telepon setelah terhubung.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, ibu!" ucap Nia menorehkan senyumnya.


"Siapa sayang?" tanya Fariz yang sedang duduk disampingnya merangkul tubuh mungil istrinya.


"Nia telepon ibu mas," ucap Nia sambil menutupi ujung bawah ponselnya.


"Oh iya," balas Fariz berbisik.


"Hallo Nia? sedang apa kamu nak? apa udah dibandara?" cecar bu Nurmala dengan pertanyaan.


"Hallo ibu! Nia lagi nunggu panggilan bu, iya ini Nia sama mas Fariz udah di bandara bu!" jawab Nia "Ibu lagi apa? ibu sama ayah mau dibawain oleh-oleh apa?" tanya Nia.


"Syukurlah, kamu baik-baik di negara orang ya nak, jangan jauh-jauh dari suamimu!" bu Nurmala menasehati Nia.


"Iya ibuku sayang," balas Nia "oya ibu dan ayah mau dibawain oleh-oleh apa?" tanya Nia.


"Cukup bawakan kami cucu yang sholeh dan sholehah nak!" goda bu Nurmala membuat rona merah jambu di pipi Nia.


"Ibu..." ucap Nia manja.


"Sudah-sudah! Kamu baik-baik pokoknya," ucap bu Nurmala.


"Iya bu." balas Nia.


"Oya mana suamimu, ibu ingin bicara sebentar!" ucap bu Nurmala.


"Ada bu, sebentar." balas Nia memberikan ponselnya pada Fariz.


"Ibu mau ngomong sama mas," ucap Nia.


"Hallo! Assalamualaikum bu," sapa Fariz sopan.


"Waalaikumsalam!" jawab bu Nurmala.


"Ibu ingin bicara sama Fariz?" tanya Fariz.


"Iya nak, tolong jaga Nia baik-baik. Dan.. segera pulang dengan membawa cucu untuk kami!" ucap bu Nurmala membuat Fariz mengulum senyumnya lalu menatap Nia dan memicingkan sebelah matanya.


"Baik bu, doakan kami pergi berdua dan pulangnya berempat ya bu!" ucap Fariz membuat bu Nurmala senang.


"Alhamdulillah aamiin." ucap syukur bu Nurmala "Baiklah nak Fariz, ibu harus segera ke restoran. Baik-baik ya kalian!" ungkap bu Nurmala.


"Baik bu, ibu dan ayah juga baik-baik ya!" balas Fariz.


"Hm, ibu tutup ya. Assalamualaikum!" ucap bu Nurmala memutuskan sambungan telepon.


"Waalaikumsalam!" jawab Fariz lalu mengembalikan ponsel itu kepada Nia.


"Apa kata ibu mas?" tanya Nia penasaran sebab Fariz sempat memicingkan matanya ke arah dirinya.


"Ibu bilang..mau dibawain oleh-oleh cucu!" bisik Fariz ditelinga Nia.


"Mas!" pekik Nia memukul lengan Fariz.


"Ayolah sayang, ibu loh yang minta!" goda Fariz sambil terkekeh melihat ekspresi sang istri.

__ADS_1


"Ibu yang minta, mas mah yang keenakan!" protes Nia dengan wjaah ditekuk dan menyedekapkan kedua tangannya.


"Hehe...entar kamu juga keenakan sayang," goda Fariz menaik turunkan kedua alisnya.


"Ihh mas! malu kalo didenger orang," omel Nia menangkup mulut Fariz.


Fariz hanya terkekeh melihat ekspresi Nia yang berhasil ia goda, lalu menurunkan tangan Nia dan menyandarkan kepalanya dipundak sang istri.


Tak lama kemudian, dari sebuah tv muncul sederetan foto Fariz dan Megha. Fariz yang menyadari itu terlebih dahulu segera mengalihkan pandangan Nia agar tidak melihat ke arah tv.


Siapa yang udah berani nyiarin itu, lagi pula sejak kapan aku bisa foto mesra begitu bareng perempuan nggak jelas itu! umpat Fariz dalam hatinya sambil menghalangi pandangan Nia.


Namun yang namanya penjahat tidak akan kehilangan akal, dia memutar sebuah video yang berisikan pengakuan dirinya sudah tidur bersama Fariz dan menunjukkan foto Fariz. Lalu sengaja memutar sebuah adegan 'hot' yang wajah sedikit disamarkan.


Sontak Nia dan seluruh calon penumpang yang sedang menunggu jadwal keberangkatan, menoleh ke arah tv dan mencari keberadaan pria yang dimaksud.


Fariz gelagapan dengan tatapan Nia dan juga para calon penumpang, ia menyerukan bahwa video itu hanyalah akal-akalan seseorang untuk membuatnya berpisah dari sang istri.


"Mas! Kamu jahat!" pekik Nia lalu bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya.


"Nia! denger penjelasan mas sayang! itu nggak bener!" Fariz menarik tangan Nia menahannya agar tidak pergi.


Seluruh calon penumpang memperhatikan suami istri yang kini sedang beradu mulut, terlihat jelas guratan kecewa diwajah cantik Nia.


"No Paris! No Honeymoon! Nia mau pulang!" pekik Nia mengehempaskan genggaman tangan Fariz.


Fariz mengejar Nia hingga diambang pintu, dan menggenggam erat pergelangan tangan Nia. Menariknya untuk duduk kembali dan menjelaskan semuanya, namun Nia tetap bersikokoh untuk pergi. Fariz tak habis akal, ia langsung menggendong wanitanya itu dan berjalan kembali ke bangku mereka.


Semua mata menatap dua pasangan itu, dengan sorak yang mengiring mereka untuk duduk kembali.


"Kayanya pengantin baru ya!" gumam salah seorang dari mereka.


"Iya tuh kayanya, masih anget-angetnya!" sahut seorang lagi.


Fariz hanya menyinggung senyum mendengar ocehan mereka, sambil terus berjalan ke arah bangku mereka.


Nia meronta-ronta minta diturunkan, memukul lengan Fariz namun tak mendapatkan respon apapun dari Fariz.


"Duduk! denger penjelasan mas," ucap Fariz sambil mendudukkan Nia.


"Apa yang mau mas jelasin?!" ucap Nia dengan wajah sendunya.


"Kamu lebih percaya dengan dia atau mas?" ucap Fariz menunjuk ke arah tv.


"Nia percaya sama mas!" ucap Nia "Tapi kalau itu benar, Nia nggak akan pernah mau lagi memberikan kesempatan untuk mas!" imbuhnya lagi.


Fariz menghela napasnya dengan kasar, memijit pelipisnya merasakn denyut yang membuatnya sedikit pusing.


Fariz pun duduk disebelah Nia, mulai menceritakan yang sebenarnya. Membuat Nia mengepalkan kedua tangannya, menatap gusar ke arah tv


Tega sekali bu Megha memfitnah suamiku didepanku dan banyak orang seperti ini! batin Nia berkecamuk ingin menjambak rambut sebahu Megha.


"Maafin Nia mas! karena udah gegabah seperti tadi, Nia janji akan bantuin mas terlepas dari teroran nenek sihir itu!" ungkap Nia menangkup punggung tangan suaminya.


Kedua pasangan itu saling memaafkan, dan merancang suatu rencana untuk terlepas dari teroran yang diberikan Megha.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya terdengar pengumuman keberangkatan mereka, lalu mereka melangkah untuk memasuki pesawat.


__ADS_2