Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Permintaan Hendrawan


__ADS_3

Nia yang masih diam berdiri di dekat meja makan hanya mendengar para orangtua memasuki ruang tamu, dia masih malu-malu untuk ikut kumpul dengan mereka.


Lalu bu Sofi pun menanyakan keberadaan Nia.


"Dik Mala, mana anak gadismu, Nia." tanya bu Sofi.


"Ah..iya mbak. Sebentar saya panggilkan Nia ya." bu Nurmala pun menghampiri Nia dan mengajaknya ke ruang tamu.


Betapa terpukaunya bu Sofi dengan Nia, cantik, wajahnya tampak lembut, dan juga pastinya sholehah.


"Subhanallah...ini calon menantu kita pah!" ucap bu Sofi kepada pak Suhendar sambil memegang lengan suaminya.


"Iya mah, betapa beruntungnya Fariz memiliki istri seperti Nia kan." jawab Suhendar.


"Ehm..mbak Sofi dan mas Hen bisa saja. Jangan berlebihan begitu ahh hehe.." ucap pak Siddiq sambil sedikit meringis.


"Iya betul mbak..mas.." timpal bu Nurmala sambil tersenyum lebar.


Nia hanya tersenyum mendengarkan pujian yang di lontarkan oleh pak Suhendar dan juga bu Sofi.


Lama mereka berbincang-bincang, tak sadar sampai mereka sudah tiba waktunya untuk makan siang. Lalu pak Pak Suhendar menyadari putra sedari tadi belum juga turun.


"Mah, dari tadi papa gak liat Fariz. Apa dia masih di mobil?" tanya Suhendar.


"Iya pah..jangan-jangan Fariz masih di mobil!" jawab bu Sofi .

__ADS_1


"Yasudah biar papa samperin ke mobil!" ucapnya lagi.


"Iya pah." jawabnya sambil mengangguk.


Bu Nurmala dan Pak Siddiq memerhatikan calon besannya yang dari tadi bicara dengan sedikit berbisik-bisik.


"Ada apa mbak Sofi?" tanya bu Nurmala sambil memerhatikan Bu Sofi.


"Ahh itu dik, Fariz dari tadi ternyata masih di mobil. Itu lagi di susulin sama papahnya." jawabnya sambil tersenyum ke arah Nia. Dan Nia sedikit terkejut lalu membalas senyuman itu.


"Oh..begitu. Pantes aja dari tadi Fariz gak kelihatan, saya kira malah gak ikut mbak." jawab bu Nurmala sambil berjalan menuju lursinya.


"Ahaa..tidak dik, tadi Fariz ikut dengan kami. Tapi mungkin dia masih merasa gugup jadi gak turun." bu Sofi meyakinkan mereka.


"Udin! kemana Fariz??" tanya Suhendar sedikit panik.


"Maaf tuan, tadi katanya tuan Fariz masuk ke dalam rumah itu tuan, memangnya ada apa tuan?" sambil menunjuk rumah pak Siddiq.


"Kalau dia masuk kesana ngapain saya nanyain ke kamu!" ucapnya dengan nada kesal.


"Maaf tuan, tadi memang saya lihat tuan Fariz memasuki pagar rumah itu. Setelah itu saya tidak melihatnya lagi." jawab pak Udin supir pribadi Fariz sambil tertunduk.


"Yasudah! kamu cari Fariz di sekitaran sini, saya lihat ke dalem lagi." titah Suhendar tegas.


"Baik tuan!" jawab pak Udin.

__ADS_1


Mobil pun melaju, pak Udin mencari Fariz. Suhendar kembali memasuki pekarangan rumah di lihatnya ternyata Fariz sedang duduk sambil memainkan ponsel di bangku yang berada di taman kecil rumah milik Siddiq Hendrawan.


"Fariz!" panggil pak Suhendar.


Fariz hanya menoleh, lalu kembali memainkan ponsel miliknya.


"Fariz!!" panggil pak Suhendar lagi.


"Ada apa pa? teriak-teriak begitu di rumah orang." jawab Fariz lalu berdiri dan menghampiri papanya.


"Dari tadi kamu duduk disini? enggak masuk?!" tanya pak Suhendar tegas.


"Iya pah." jawab Fariz dengan santai.


Ternyata setelah Suhendar dan istrinya masuk ke dalam rumah, Fariz turun lalu berjalan masuk ke teras rumah Nia. Namun dia mengurungkan niatnya untuk ikut masuk ke dalam setelah dia melihat Nia. Dia tercengan dan sedikit terkejut, bahwa Nia lah calon istrinya. Tapi bagaimana mungkin dia menikahi gadis belia itu dan juga muridnya sendiri. Maka dari itu, Fariz pun pergi meninggalkan teras dan menuju bangku yang ada di taman kecil tersebut.


"Fariz, tolong penuhi permintaan papa!" sambil menyatukan jari-jarinya di depan dadanya.


Melihat sikap papanya, Fariz merasa terketuk hatinya dan mulai melemah. Selama ini, orangtuanya tidak pernah meminta apa-apa darinya. Namun mereka yang selalu memberikan apa yang di butuhkan bahkan diinginkan Fariz. Dan inilah saatnya ia membalas semua yang telah di berikan orangtuanya kepadanya.


"Maafin Fariz pah! Fariz belum bisa bahagiain papa dan mama. Fariz akan turutin keinginan kalian!" sambil menggenggam kedua tangan papanya dengan kedua tangannya.


"Terimakasih nak!" Suhendar memegang bahu anaknya.


Akhrinya mereka pun masuk ke dalam rumah, dan di sambut oleh seluruh orang yang ada di dalam sana. Nia pun terkejut dengan keberadaan Fariz, ternyata benar apa yang di duganya. Fariz yang di maksud oleh Suhendar adalah Fariz gurunya yang akan di jodohkan dengannya.

__ADS_1


__ADS_2