Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Pendekatan II


__ADS_3

Langkah Nia terhenti ketika sudah dekat dengan ruang tamu dimana Fariz sedang duduk memainkan ponselnya. Fariz menyadari kedatangan Nia, namun dia tidak menghiraukannya. Fariz sibuk dengan HP nya, dia membiarkan Nia terus berjalan mendekatinya.


"Ternyata penurut juga ya kamu," gerutu Fariz pelan.


Nia masih saja mematung dan memandangi Fariz yang duduk di sofa berwarna cream itu. Jantugnya semakin berdetak dengan kencang, ujung tangan dan kakinya berasa dingin, wajahnya terlihat pucat.


"Kenapa seperti ini!" gumamnya pelan, sambil menggenggam satu tangannya di dekatkan ke mulutnya.


Tiba-tiba..


"Alnia, sampai kapan kamu berdiri terus seperti patung?" ucap Fariz membuyarkan kegugupan Nia.


"Ah..em..saya..di suruh tan...." belum sempat menyelesaikan bicaranya, Fariz memotongnya.


"Saya tau! kalau mau duduk, silahkan. Tidak ada yang melarang, lagi pula ini kan rumahmu." ucap Fariz lagi tanpa menoleh ke arah Nia.


"Ba.baik pak!" jawab Nia terbata-bata.


"Kamu dengar apa yang di ucapkan mama saya? panggil saya mas Fariz, kalau di sekolah baru panggil saya bapak!" sekilas Fariz menoleh ke arah Nia, lalu kembali memaikan ponselnya


"Ba.baik pa..em maksud saya mas!" jawab Nia.

__ADS_1


"Lalu..sampai kapan kamu berdiri disitu? sampai kami pulang? baiklah! berdiri saja terus disitu." tersenyum sinis ke arah Nia.


Orangtua mereka hanya mendengarkan saja, membiarkan Nia dan Fariz untuk berdua. Mereka ingin Nia dan Fariz saling mengenal lebih dekat.


Di dapur, bu Sofi dan bu Nurmala hanya tersenyum-senyum mendengarkan ucapan kedua muda-mudi itu.


"Biarkan mereka, seiring berjalannya waktu pasti mereka akan memiliki hubungan yang baik." ucap bu Sofi lalu tersenyum melihat Nia dan Fariz dari kejauhan.


"Iya mbak, semua pasti akan indah pada waktunya." memegang pundak Sofi lalu ikut tersenyum.


Bu Sofi menoleh ke Bu Nurmala lalu mengangguk. Mereka sangat mengharapkan perjodohan ini berjalan dengan baik.


Nia pun mendekat ke sofa, dia duduk di tepi sofa itu. Berjarak 1 meter dengan Fariz, Fariz hanya memperhatikan sekilas saja lalu kembali fokus ke layar Hpnya. Mereka hanya diam, namun Fariz sesekali melirik ke arah Nia.


"hh..bapak lihat apa?" menoleh ke arah Fariz.


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang menarik perhatianmu sehingga dari tadi kamu memandang ke bawah terus!" tukas Fariz sambil mengernyitkan dahinya.


"Eh..sayaa..." tidak sempat menyelesaikan bicaranya.


Fariz tiba-tiba mengarahkan telunjuknya ke bibir nya Nia. Dia tahu apa yang di rasakan oleh Nia, karena dia pun merasakannya.

__ADS_1


"Bisa kita ngobrol di luar?" ajak Fariz.


"Ke.kemana pak?" tanya Nia ragu-ragu.


"Hanya duduk di taman kecil depan rumahmu." jawab Fariz datar.


Mereka pun keluar menuju bangku yang ada di taman kecil depan rumah Nia.


Lama mereka saling diam lagi, sama sepwrti yang terjadi di ruang tamu tadi.


"Apa kamu setuju dengan perjodohan ini? Fariz membuka suaranya tanpa menoleh ke arah Nia.


"Emh..saya..saya bingung pak. Kalau saya tolak, saya hanya memntingkan ego saya sendiri, sedangkan orangtua saya tidak pernah meminta apa2 dari saya. Setiap yang saya inginkan selalu di wujudkan oleh mereka, Tapi..." Nia tertunduk.


"Tapi apa?" Fariz memalingkan wajahnya ke arah Nia.


"Tapi, bila saya menerimanya..Apakah bapak akan menerimanya juga?" Nia mengangkat wajahnya lalu menoleh ke arah Fariz, sehingga tatapan mereka saling bertemu.


Jantung Nia kembali berdetak kencang, darahnya seperti terasa tidak mengalir. Fariz terus menatap mata Nia, di perhatikan wajahnya.


Dia cantik, sholehah, penurut, pintar juga. Tapi bagaimana bisa aku mencintainya? Hatiku hanya untuk Alni. Tapi kenapa setiap aku bertemu Nia, aku seperti melihat Alni. Batinnya dalam hati.

__ADS_1


Lama mereka saling bertatapan, Nia merasa risih dan tidak enak hati. Karena sebelumnya Nia tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki, banyak teman laki-laki di sekolah nya yang menyukai Nia. Tak sedikit pula yang menyatakan perasaan padanya. Namun Nia tidak pernah menggubrisnya, sampai ada yang mengatakan bahwa Nia sebenarnya sudah memiliki seorang tunangan sehingga ia tidak menggubris teman laki-laki di sekolahnya.


__ADS_2