Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Gangguan Megha


__ADS_3

Usai menikmati dinner yang begitu romantisnya, pasangan itu kembali ke hotel. Esok hari jadwal mereka kembali ke tanah air.


***


Keesokan Harinya


Pukul 13.55 mereka sudah tiba di bandara, menanti jadwal penerbangan. Satu jam menanti, kini tibalah jadwal penerbangan dengan tujuan Indonesia. Seluruh penumpang dengan tujuan Indonesia pun menaiki pesawat air bus tersebut.


Nia dan Fariz menduduki kursi kelas bisnis, dengan kursi dan ruang yang lebih luas dari kelas ekonomi.


"Kamu mau langsung tidur, Yang?" tanya Fariz penuh perhatian.


"Enggak, Mas. Nia mau baca-baca ini dulu." jawab Nia menunjuk sebuah majalah yang memang di sediakan oleh pihak maskapai.


"Hm. Oke, sayang." balas Fariz.


Pesawat mulai lepas landas, deru mesin pesawat sudah terdengar nyaring memekakan telinga. Membuat Nia dan Fariz menelan salivanya berkali-kali. Dengan tujuan, agar telinga mereka tidak tersumbat.


Setelah 30 menit lepas landas, Nia merasa lapar. Ia mengelus-elus perutnya yang masih rata, ia merasa cepat lapar. Padahal mereka baru saja makan sebelum berangkat.


Ia melihat ke sisi kirinya, suaminya itu sudah terlihat pulas. Ia enggan untuk membangunkan suaminya, ia berinisiatif memanggil pramugari untuk memesan makanan.


"Can i help you, Mam?" tanya pramugari cantik itu dengan ramah.

__ADS_1


"I want to order some food. Can i?" tanya Nia ragu-ragu.


"Yes sure, Mam. I will bring the menu, wait a moment please." balas sang pramugari lalu menuju mini bar.


dua menit kemudian pramugari itu kembali dengan buku menu di tangannya, Nia pun memesan beberapa menu makanan dan minuman untuk dirinya dan juga sang suami.


Sang pramugari segera membuat pesanan Nia, setelah sepuluh menit, pesanan Nia pun datang.


Mencium bau makanan, Fariz membuka matanya perlahan dan di lihatnya sang istri sedang menyantap beef lasagna dengan lahap.


"Enak banget baunya, Yang. Aku jadi laper." ungkap Fariz dengan suara seraknya.


"Udah bangun kamu, Mas. Nih aku beliin juga buat kamu." Nia menyodorkan wadah alumunium yang berisi beef lasagna.


"Suapin," ujar Fariz dengan manja.


"Sebentar lagi kan aku nggak bisa manja-manja gini sama kamu, Sayang. Waktu kamu pasti akan lebih ke anak-anak kita, hum?" ungkap Fariz menjiwit dagu istrinya.


"Pagi hari waktu untuk anak-anak, malam hari waktu ku untuk kamu, Sayang." bisik Nia menggoda suaminya itu.


"Eum, istriku udah mulai nakal, ya!" Faris menggoda balik sang istri.


Setelah saling menggoda, mereka kembali menikmati makanan. Setelahnya mereka berbincang-bincang. Tak terasa malam telah datang, Nia dan Fariz memasuki peraduannya.

__ADS_1


Tengah malam, Fariz terbangun. Di lihatnya wajah istrinya yang tengah tertidur, ia betulkan selimut yang sedikit turun dari tubuh wanitanya itu.


Fariz beranjak dari kursinya, hendak menuju kamar mandi. Saat melewati lorong, sebuah tangan menariknya. Di lihatnya wajah Megha, dengan segera ia menepisnya.


"Apa kau tidak bosan terus-terusan membuntutiku, hah! Hubungan kita sudah berakhir lima tahun yang lalu, dan itu semua karena ulahmu sendiri! Dan aku sudah menikah, istri ku sedang mengandung anak-anakku! Jadi jangan lagi mengganggu ku maupun istriku!" bentak Fariz.


"Tapi aku masih mencintaimu, Sayang!" pekik Megha membuat orang-orang terbangun.


Nia yang juga mendengar jeritan Megha pun terbangun, dan mengintip keadaan. Dia melihat Fariz juga berada disana, Nia pun menghampirinya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Nia sambil mengucek-ucek matanya.


"Kamu??" ujar Nia setelah penglihatannya jelas, dan menunjuk wajah Megha.


Pramugari yang mendengar keributan segera menghampiri mereka dan melerainya.


"Sorry Sir and Madam, please return to your seats. And please don't make a fuss, people are sleeping." jelas pramugari.


"We're sorry, this woman caused a scene first." terang Fariz menunjuk wajah Megha.


"Sorry madam, please don't make a fuss." pramugari itu menangkup kan kedua tangannya.


"Shut up! You don't know my problem with both of them!" pekik Megha menunjuk-nunjuk wajah pramugari itu.

__ADS_1


Perdebatan terus terjadi hingga akhirnya Fariz menyudahi dengan mengatak pada sang pramugari, bahwa Megha mengalami gangguan jiwa.


"Aku akan membuat perhitungan pada kalian!" teriak Megha dengan suaranya yang memekakan telinga.


__ADS_2