
Fariz mengusili Nia dengan memuji wanita-wanita yang ada di sekitarnya, yaitu bu Sofi dan bu Nurmala tanpa menyebut siapa mereka.
"Emm...ada yang cemburu rupanya!" goda Fariz dengan sedikit melirik Nia dengan ekor matanya.
"Siapa cemburu? aku? enggak lah, ngapain juga aku cemburu!" jawab Nia kesal menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Iya kamu!" balas Fariz singkat.
"nggak ada tuh kata cemburu dalam kamusku! lagi pula, Nia nggak pernah yang namanya jalin asmara sebelumnya sama laki-laki! jadi Nia nggak pernah tuh kenal sama yang namanya cemburu!" jelas Nia tambah kesal.
"yang benar?" goda Fariz lagi.
"Hm." balas Nia singkat.
"Hem...sebenarnya, ..." Fariz sengaja menghentikan omongannya, ia ingin membuat Nia penasaran.
"apa?" sahut Nia ingin tahu.
"ciyee..kepo!" ejek Fariz menjulurkan lidahnya ke arah Nia.
"apa sih kamu mas! sebenarnya apa??" ucap Nia jiwa kekepoannya muncul.
"kasih tau nggak yaa...hahaha..." ejek Fariz.
"nggak usah!" ucap Nia singkat, padat dan jelas.
"Kamu kalau ngambek gitu kecantikan kamu nambah sayang!" ucap Fariz seraya mengacak-acak pucuk kepala Nia.
"Ihh mas! kusut jilbabku jadinya!" sahut Nia kesal.
"Sebenarnya apa sihh??" tanya Nia lagi semakin penasaran.
"beneran kamu mau tau?! entar cemburumu kumat lagi!" ucap Fariz seraya clingak-clinguk mencari tempat untuk menepikan mobilnya.
"iyaa mas!!" Nia semakin geram karena Fariz terus saja menggodanya.
Akhirnya Fariz memasuki area parkir di sebuah minimarket.
"Nia! sebenarnya aku..." lagi-lagi Fariz menghentikan ucapannya sengaja membuat Nia penasaran.
"Udah deh mas, kalau nggak mau kasih tau yaudah!"ucap Nia semakin kesal dengan tingkah calon suaminya itu, ia membalikkan tubuhnya menatap keluar jendela mobil.
"Nia!" panggil Fariz seraya menarik bahu Nia, sehingga membuat tubuh Nia tertarik kepelukkan Fariz.
Nia dapat mendengar degupan jantung Fariz, begitu juga dengan degupan jantungnya. Kini mata mereka saling bertemu, membuat pipi Nia merona.
"kamu cantik sayang!" bisik Fariz mengembang senyum tampannya.
"mas!! kita belum muhrim!" teriak Nia melepaskan tubuhnya dari Fariz.
Nia menyandarkan kembali tubuhnya, menatap keluar jendela. Dia melihat bayangan Fariz keluar dari mobil, berjalan memasuk minimarket itu. Tak lama Fariz kembali dengan bawaan kantong belanjaan yang memenuhi 2 tangannya.
Nia tersenyum melihat pemandangan itu, dia membayangkan bila sudah menjadi pasangan yang sah Fariz pasti akan suami yang siaga.
__ADS_1
"Inikah keberuntunganku? inikah takdirku?" gumamnya sembari memandangi Fariz yang terus berjalan mendekat kearah mobil.
"Ini ada minuman dan beberapa cemilan!" ucap Fariz seraya meletakkan barang belanjaannya di jok belakang.
"Em.." sahut Nia menganggukkan kepalanya.
"Ini minum dulu!" ucap Fariz sembari menyodorkan minuman teh dalam botol plastik.
"makasih mas!" balas Nia meraih minuman botol itu.
"Mas! sebenarnya apa?!" tanya Nia melanjutkan rasa penasarannya terhadap perkataan Fariz.
"Hmm...masih penasaran?" ucap Fariz menyudahi minumnya.
"Hm!" gumam Nia.
"Nia! ada wanita lain yang aku cintai selain kamu!" ungkap Fariz.
"Hah?!" Nia membuka mulutnya, matanya mengecil mulai mengeluarkan bulir-bulir bening dari pelupuk matanya.
Fariz tidak menyadari reaksi Nia, karena Fariz tertunduk setelah mengucapkan ada wanita lain yang dicintainya.
"Hiks..hiks..hiks..Lalu kenapa mas memilih Nia, bila ada wanita lain yang mas cintai?!" isak tangis Nia pecah membuat Fariz panik.
"Nia, maafkan mas sayang! bukan maksud mas untuk bikin kamu sedih! sebenarnya wanita itu...." ucapan Fariz terhenti disela oleh Nia.
"Nia tau! lalu kenapa mas memilih Nia? kenapa tidak memilih dia yang lebih cantik! hikss..hikss.." ujar Nia sambil terus menyeka air matanya.
"Nia! mereka adalah mamaku dan calon mertuaku!" ungkap Fariz membuat Nia mengangkat kepalanya menatap Fariz.
"Mas nyebelin!!!" jerit Nia.
"Benar kan kataku! kamu cembru sayang!" goda Fariz mencubit ujung hidung Nia.
"Huh!" Nia kembali membelakangi Fariz.
Fariz hanya tersenyum melihat ekspresi Nia yang sedang ngambek, itu membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
Fariz melajukan kembali mobilnya mencari butik untuk menggantikan gaun Nia, sampailah mereka di salah satu butik terkenal di jakarta. Pemiliknya adalah seorang kerabat dekat Ghalih Hendrawan, om Fariz.
"Ayo turun!" ajak Fariz mengulurkan tangannya.
"Nia bisa sendiri!" tolak Nia sembari melangkahkan kakinya menuruni mobil.
"Masih ngambek nona ini rupanya!" meraih pergelangan tangan Nia dan berjalan beriringan.
"huh! sebel!" ucap Nia masih merasa kesal dengan kejahilan Fariz.
"udahan dong ngambeknya! entar cantikmu hilang nona!" sahut Fariz dengan santai.
Uhh...pengen ku jambak takut dosa! nggak diungkapin takut kena penyakit jantung akut! umpat Nia dalam hatinya.
Ketika mereka memasuki gedung mewah itu, mereka langsung disuguhkan dengan design interior yang elegan, rak-rak gaun dan tuxedo tertata dengan rapi. Alunan musik classic nan soft pun terdengar merdu dan membuat para pengunjung yang datang enggan untuk meninggalkan gedung tersebut.
__ADS_1
"Selamat datang tuan dan nona, ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang penjaga butik dengan ramah.
"Saya ingin bertemu dengan om Almer!" ucap Fariz.
"Maaf tuan, apakah tuan sudah buat janji sebelumnya?" tanya pelayan butik dengan sopan.
"Belum! tapi saya harus bertemu dengannya sekarang!" balas Fariz seraya menjelajahi deretan rak-rak gaun yang terpampang disana.
"Maaf tuan! jika tuan...." tidak sempat pelayan itu menyelesaikan ucapannya, sudah di potong oleh Fariz.
"Katakan padanya, Al-Fariz HENDRAWAN menunggunya!" potong Fariz menekan nama keluarganya sehingga membuat pelayan butik terkejut dan membuka mulutnya saat mendengar nama Hendrawan.
"Ah..baik tuan! maafkan saya tuan, saya akan segera memanggil tuan Almer! tuan silahkan duduk dulu!" ucap pelayan butik itu panik lalu membungkukkan badannya dan meninggalkan Fariz menuju ruang Almer.
Nia yang sedari tadi memperhatikan betapa berpengaruhnya calon suaminya itu, sekali sebut nama keluarga membuat seluruh jagat raya merasa sungkan.
Alnia Alfarizi Hendrawan? pikirnya memikirkan nama belakang yang akan disandingnya kelak.
Tapi kata ayah, kelak aku bersuami, aku tidak boleh menyematkan namanya menjadi nama belakangku! pikirnya lagi mengingat perkataan sang ayah tercinta.
"Nia! pilihlah gaunmu dan juga tuxedo untukku!" perintah Fariz.
"Tapi ini kan mahal-mahal mas!" bisik Nia.
"Saya punya banyak uang Nia, jika kamu lupa!" balas Fariz menepuk-nepuk dadanya membanggakan dirinya.
"Shombong sekali!" Nia menyebikkan bibirnya lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari gaun dan tuxedo yang cocok untuk mereka kenakan dihari pernikahan mereka.
Di Ruang Almer
Tok..tok..tok..
"Masuk!" sahut seorang pria paruh baya namun masih terlihat gagah dan tampan dengan suara beratnya dari dalam.
"Maaf tuan Almer! ada tamu yang sedang menunggu anda!" ucap pelayan menundukkan kepalanya.
"Apa dia sudah membuat janji denganku?" tanya Almer menaikkan satu alisnya.
"Belum tuan, tapi dia menyebutkan namanya Al-Fariz Hendrawan!" jawab pelayan toko itu ragu.
"Ah...Hendrawan rupanya! baik, saya akan segera turun, suruh dia untuk menunggu!" balas Almer beranjak dari kursinya menuju rak buku yang berada di belakangnya.
"Baik tuan saya permisi!" ucap pelayan toko lalu meninggalkan ruang Almer.
Setelah pelayan butik menapaki tangga terakhirnya, ia berjalan ke arah Fariz untuk mengatakan bahwa Almer akan segera turun untuk menemuinya.
"maaf tuan! tuan Almer akan segera turun menemui anda, dan juga tuan almer menyuruh anda untuk menunggunya sejenak!" ucap pelayan dengan ramah.
"baik! saya sambil melihat-lihat dulu!" balas Fariz.
"baik tuan!" sahut pelayan butik lalu menghampiri Nia yang sedang mengamati sebuah gaun.
"maaf nona, ini sangat cocok bila dikenakan oleh nona yang sangat cantik ini!" ucap pelayan memuji kecantikan Nia.
__ADS_1
"benarkah?" tanya Nia seraya memandnagi gaun berwarna soft gold mengkilap dengan taburan mutiara-mutiara kecil di setiap lekukannya
"Dan ini untuk calon suami anda nona!" ujar pelayan meraih sebuah tuxedo berwarna sama dengan gaun yang sedang dipandangi oleh Nia dan di kerahnya terdapat list berwarna hitam dengan taburan kerlap-kerlip yang membuatnya semakin terlihat elegan.