Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Tukar Cincin


__ADS_3

Pak Siddiq pun menghampiri mereka, menuntun Nia untuk duduk di antara Ayah dan ibunya bersebrangan dengan Fariz. Lagi-lagi tatapan mereka saling bertemu, Fariz tidak menyadari kini terlukis senyum di wajahnya yang tampan saat memandang Nia.


Setelah semua nya siap, acara pun di mulai. Pembukaan di buka oleh pak Siddiq, lalu di ikuti oleh pak Suhendar. Dan sampailah pada acara bertukar cincin, Nia dan Fariz pun kini saling berdekatan. Nia dan Fariz menjadi salah tingkah sendiri, sampai gelang yang Nia pakai tidak sengaja tersangkut di kemeja Fariz.


"Ma.maaf mas!" Nia buru-buru melepaskan gelangnya yang tersangkut di kemeja Fariz.


"Sini biar saya yang lepas!" sahut Fariz lalu tak sengaja memegang tangan Nia.


Mereka saling pandang, lalu buru-buru Nia menarik tangannya dari Fariz. Lalu Fariz meneruskan melepaskan gelang yang masih tersangkut dan akhirnya terlepas.


"Baik, acara berikutnya ada bertukar cincin. Fariz akan memakaikan cincin ke Nia dan Nia akan memakaikan cincin ke Fariz." ucap salah seorang tetuah dari keluarga Fariz.



Nia memandangi Fariz yang sedang memakaikan cincin di jari manisnya, dan di pandanginya cincin yang melingkar di jari manisnya itu sekarang. Kini mereka sudah sah bertunangan, dan jenjang selanjutnya pun akan segera tiba. Pernikahan!


Setelah tukar cincin selesai, para keluarga dan tamu undangan mulai menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh tuan rumah. Mereka memuji masakan yang di sediakan disana, karena semua masakan yang tersedia adalah buatan tangan Bu Nurmala. Jadi tidak heran banyak mendapatkan pujian.

__ADS_1


Acara demi acara pun terlaksana dengan baik, satu per satu tamu undangan dan saudara kembali ke rumahnya masing-masing. Begitu juga dengan keluarga Suhendar, mereka juga telah membicarakan masalah pernikah Nia dan Fariz. Mereka akan melaksanakan pernikahan setelah kelulusan Nia, yaitu sekitar empat atau lima bulan lagi.


Keesokan harinya Di Sekolah, saat Nia sedang berjalan menuju kelasnya.Nia merasa gugup, karena akan bertemu lagi dengan calon suaminya. Dilihatnya cincin yang melingkar di jari manisnya itu lagi dengan sangat lekat.


Bagaimana kalau Zhill dan Dhea nanyain tentang cincin ini? aku jawab apa? masa iya aku jawab..iya aku baru tunangan sama pak guru yang yang killernya melebihi ayahku! dengan gayanya seperti meledek.


Dari belakang tiba-tiba Zhill dan Dhea mengagetkan Nia, mereka tidak begitu mendengar perkataan Nia. Mereka hanya mendengar samar-samar kata tunangan dan pak guru killer.


"Doooorrr!!" kejut Zhill dan Dhea.


"Astagfirullah Kalian??? untung jantungku gak copot!! sejak kapan kalian ngikutin aku??" Nia sangat kaget ketika dua sahabatnya itu tiba-tiba mengejutkannya dan merangkulnya dari arah belakang.


"Hahaha..tau nih si Nia, ehh BTW tadi aku denger kamu ngomong tunangan trus pak guru killer! apa jangan-jangan kamu...." Zhill curiga dengan perkataan Nia, lalu Nia buru-buru menutup mulut Zhill agar tidak meneruskan ucapannya itu.


"Ssstt...jangan sembarangan kamu kalo ngomong Zhill...entar gosip aneh-aneh nyebar deh!" ucap Nia sedikit berbisik dan agak geram.


Zhill berusaha melepaskan tangan Nia dari mulutnya, namun Nia semakin menguatkan tangannya menutup mulut Zhill. Nia takut tersebar gosip bahwa memang sebenarnya dirinya dan Fariz sudah bertunangan.

__ADS_1


Zhill terus berusaha melepaskan diri dari Nia, lalu mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V tanda damai, menandakan bahwa dia tidak akan bicara sembarangan lagi.


"Oke aku lepasin! tapi janji jangan ngomong serambangan lagi! ehh sembarangan maksud aku!" ucap Nia lalu melepaskan tangannya dari Zhill.


"Huufft...sesak nafasku Alniaa...kalau kamu gak lepasin, bisa kek ikan kekurangan air aku!" gerutu Zhilla.


"Lagian sih kamu! sembarangan aja, lagian siapa yang tunangan? sama guru killer kaya gitu pulak! amit-amit..." balas Nia kesal.


"Ehem...duh..duh..duh..ati-ati shay..amit-amit! entar jadi cinta lo Nia sama dia! hahhaaha" goda Dhea.


Nia mengernyitkan dahinya lalu berlari meninggalkan dua sahabtnya itu di koridor sekolah, dan melihat ke arah belakang sambil menjulurkan lidahnya ke arah kedua sahabatnya itu.


"Awas ya loe Nia, lo berhutang cerita ke kita berdua!!" teriak Dhea.


"Iyaa Nia, istirahat nanti kamu harus cerita yang sebenarnya!!" Zhill ikutan berteriak, semua yang ada di koridor memandangi mereka berdua berteriak-teriak sudah seperti tinggal di hutan saja.


Dhea dan Zhilla menyusul sahabatnya itu, tak lama kemudian bel pun berbunyi. Mereka bersiap-siap untuk memulai pelajaran pertama, pelajaran Matematika. Nia melipat kedua tangannya dan menaruh dagunya di antara dua tangannya. Fariz pun memasuki kelas, ketua kelas menyiapkan kelas untuk menyapa guru mereka. Semua murid berdiri dan memberi salam kepada Fariz, lalu Fariz menjawab salam mereka dan mempersilahkan semuanya duduk.

__ADS_1


Fariz melihat satu per satu murid-muridnya, begitu tatapannya tertuju pada Nia, Fariz melukiskan senyum tipis pada Nia. Dilihatnya sekelilingnya, setelah dirasa aman Nia membalas senyuman itu lalu menundukkan kepalanya.


__ADS_2