
Dari arah belakang bi Puji tiba-tiba menghampiri Nia yang sedang asyik melahap nasi goreng buatannya sendiri.
"Emm enak sekali bau harum nasi goreng buatan non Nia, hhhh" sambil nyengir ke arah Nia.
"Ehehhee...bibi bisa aja, sini cobain bi! oya bibi udah makan belum? kalau belum kita makan sama-sama yuk!" ajak Nia sambil menunjuk nasi goreng yang dalam piringnya
"Ah..tidak non terimakasih, bibi tadi sudah makan koq! Non Nia makan aja." tolak bi Puji dengan halus saat Nia menawarkan nasi gorengnya.
"Ayoo sini bikk..sekalian cobain nasi goreng buatan Nia, lagian Nia juga gak bakalan habis ini nasinya tadi kebanyakan Nia taro nasinya!" sambil melihat ke dlaam piringnya.
"Hm, yasudah kalo non memaksa..bibi ambil sendok dan piring lain dulu ya Non!" berjalan menuju rak piring untuk mengambil sendok dan piringnya.
"Iya bik!" sambil mengangguk.
Akhir nya bi Puji dan Nia pun makan bersama, bi Puji sangat menikmati makanan yang di masak oleh Nia sendiri. Dalam pikirannya teringat saat pertama kali mencoba masakan buatan bu Nurmala yang begitu lezat dan mulai saat itu terpikir pula untuk memulai bisnis kuliner, dan sepertinya akan terulang kembali kepada Nia.
Sungguh lezat masakan buatan Non Nia, rasanya tidak jauh beda dengan masakan Nurmala. Sudah terlihat bakatnya Nia dimana, sama seperti ibunya di bidang Kuliner! Gumam bi Puji sambil tersenyum memperhatikan anak gadis majikannya itu.
"Bik..koq liatin Nia kaya gitu sih, ga enak ya bik?!" dengan polos menanyakan masakan buatannya.
"Ekh..gak apa-apa Non, enak koq non..sungguh masakan yang non Nia buat rasanya sama persis dengan buatan Ibu!" sambil tersenyum ke Nia.
"Beneran bik?! wahh berarti Nia ada bakat di kuliner nih!" dengan semangatnya mendengar ucapan bi Puji.
__ADS_1
Wah..ternyata bakat ibu nurun ke aku, senangnya! Gumam Nia senang hati dalam hatinya.
Setelah mereka berdua selesai makan, bi Puji mengumpulkan peralatan yang mereka pakai tadi untuk di bawa ke dapur dan di cuci. Sedangkan Nia mengelap meja makan setelah selesai makan.
Tak lama kemudian ayah dan ibu Nia pulang, di wajah mereka tergambar raut yang sangat bahagia.
"Assalamualaikum! Nia, kamu udah pulang Nak?!" ucap bu Nurmala ketika melihat anak gadisnya dan menghampirinya.
"Waalaikumussalam, ibu ayah..iya Nia udah pulang dari tadi tanya aja sama bi Puji. Ya kan bik?" sambil menoleh ke bi Puji.
"Iya bu..pak..non Nia udah pulang dari tadi." jawab bi Puji.
"Oh begitu. Yasudah Nia ada yang ingin ayah dan ibu bicarakan sama kamu nak, kita ke ruang keluarga sebentar yuk!" ajak bu Nurmala dengan menggandeng tangan putri tunggalnya itu.
"Nia, langsung saja ayah katakan. Tapi sebelumnya ayah ingin bertanya apakah Nia sudah punya pacar atau ada lelaki yang Nia sukai?" tanya pak Siddiq dengan lembut.
"Ehm..kenapa ayah bertanya seperti itu? enggak ada koq yah, Nia gak punya pacar dan Nia sedang tidak menyukai pria manapun kecuali ayah!" jawab Nia dengan tersenyum.
Nia memang tidak berpikiran untuk berpacaran, orangtuanya melarang Nia berpacaran. Karena bagi orangtuanya berpacaran sama saja dengan berzina.
"Syukur Alhamdulillah anak ibu dan ayah tidak berpacaran, kamu taukan dosanya bagaimana Nak. Itu sama saja kamu secara tidak langsung sudah mengantarkan kami ke pintu neraka!" jawab bu Nurmala lega mendengar ucapan Nia.
"Iya bu, itu semua karena Nia sayang dan cinta sama kalian, Nia gak mau kalau nanti orangtua Nia masuk ke neraka hanya karena ulah Nia!" memandang kedua orangtuanya sudah semakin menua.
__ADS_1
"MashaAllah yah..anak kita sudah dewasa! Alhamdulillah kita tidak salah mendidiknya ya yah!" menoleh ke arah pak Siddiq dan tersenyum.
"Iya bu..ayah bangga punya anak gadis seperti Nia, kamu memang putri kesayangan kami nak." melemparkan senyum yang penuh kebahagiaan ke arah Nia kemudian bu Nurmala.
"Jadi ayah sama ibu mau ngomongin apa nih?" tanya Nia penuh rasa penasaran.
"Ah iya ayah sampai lupa, jadi begini Nia. Kami ingin menjodohkan kamu dengan anaknya teman dekat ayah!" jawab pak Siddiq.
"Ehm apa yah? di jodohin?!" tekejut mendengan ucapan ayahnya.
"Iya Nia, kamu kan sebentar lagi tamat sekolah. Lagipula kamu sudah cukup umur dan dewasa untuk menikah nak!" timpal bu Nurmala.
"Tapi yah..bu..Nia kan masih lama tamat sekolahnya!" sedikit menolak.
"Tidak lama lagi kamu kan UN Nia, jadi sebelum UN kalian bisa bertunangan dahulu. Nanti setelah wisuda SMA kalian barulah menikah Nak!" jawab pak Siddiq.
Nia tertegun mendengar ucapan ayahnya yang tidak bisa di elaknya lagi. Sebenarnya dalam hati Nia menolak dengan perjodohan ini, tapi Nia tahu bagaimana ayahnya kalau sudah membuat keputusan. Sekali ucap A tidak akan bisa berubah menjadi B ataupun yang lainnya.
"Tapi Nia kan gak kenal dengan pria yang akan menjadi suami Nia yah..bu.. bagaimana bisa Nia menjalani pernikahan itu nanti?" mencoba mengelak lagi.
"Lusa kami akan membawa kamu untuk bertemu dengan teman ayah dan putra nya yang akan di jodohkan dengan kamu Nak!" tegas ayah Nia.
"Tapi yah..." belum sempat menyelesaikan pembicaraannya sudah dipotong oleh pak Siddiq.
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian Nia, keputusan ayah sudah bulat, kami yakin dengan pilihan kami pasti akan menjadi yang terbaik untukmu!" jawab pak Siddiq tegas lalu meninggalkan istri dan anaknya menuju kamar.