
"Ada apa Nia? koq kamu kaget gitu denger nama Fariz?" tanya pak Hendrawan.
"Eh..emh..enggak apa-apa koq pak." tertunduk seketika.
"Hahhaa...jangan panggil seperti itu, panggil saja om. Kalau perlu kamu panggil saya papa, toh sebentar lagi kamu juga akan jadi anak saya." tersenyum melihat kegugupan Nia.
"Iya nak! anggap pak Hendrawan ini seperti ayahmu sendiri. Tidak lama lagi kamu akan menjadi menantu pak Hendrawan." ucap pak Siddiq.
"Ayah...." menunjukan wajah memeleasnya sambil menyatukan kedua tangan di depan dadanya.
"Nia!" memberikan kode jangan membahas penolakan di depan pak Hendrawan.
Nia pun hanya bisa tertunduk, terdiam saat ayahnya memberikan kode jangan membahas penolakan perjodohan itu.
"Siddiq, kalau begitu saya permisi. Kita atur lagi jadwal untuk mempertemukan Nia dan Fariz." ucap Hendrawan sambil menepuk-nepuk bahu Siddiq.
__ADS_1
"Ah baik pak! kalau perlu nanti saat pertemuan berikutnya langsung kita bahas untuk pernikahan anak-anak kita. Bagaimana?" jawab Siddiq.
"Siddiq, sudah berapa kali saya bilang. Panggil saya mas atau abang ketika di luar pekerjaan. Kamu sudah saya anggap seperti adik kandung saya sendiri." pinta Hendrawan, ia memang sudah menganggap Siddiq seperti adik kandungnya sendiri. " Dan pertemuan berikutnya, saya setuju dengan yang kamu usulkan." lanjut Hendrawan lalu tersenyum.
"B.baik paa..eh maksud saya mas!" membungkukkan sedikit badannya.
"Jangan sungkan-sungkan, kita ini sudah seperti saudara kandung. Kamu sudah terlalu lama mengabdi di sekolah ini. Bahkan kamu menolak saat saya jadikan ketua yayasan, menggantikan posisi saya." mengingat kembali saat ia menawarkan Siddiq menjadi ketua yayasan SMA Nusa Bangsa.
Flashback On
Flashback off
Maka dari itu, Hendrawan sangat mempercayai Siddiq sampai saat ini. Dan menginginkan sebuah ikatan yang lebih dekat lagi. Yaitu perjodohan anak mereka.
"Siddiq, Nia.. saya permisi, Setengah jam lagi saya ada rapat perusahaan. Selanjutnya kita bicarakan di pertemuan kita selanjutnya." kembali menepuk-nepuk pundak Siddiq dan tersenyum ke arah Siddiq dan Nia.
__ADS_1
"Baik mas, hati-hati di jalan. InshaAllah saya akan segera atur waktu pertemuan kita berikutnya!" tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Baik..terimakasih Siddiq!" membalas uluran tangan Siddiq lalu menjabatnya dan memberikan senyuman ketulusan serta tatapan yang sangat berarti.
"Nia, om permisi dulu ya nak!" sambil mengelus pucuk kepala calon menantunya itu.
"I.iya om, hati-hati di jalan." membalas ucapan Hendrawan lalu mencium tangan Hendrawan.
Setelah kepergian Hendrawan, Siddiq buka suara.
"Nia, kamu lihat nak! betapa baiknya calon ayah mertuamu itu. Ayah yakin anaknya pun pasti sebaik itu juga. Jadi jangan ragu lagi untuk menerima perjodohan ini!" menatap Nia dengan penuh pengharapan.
"Baik ayah..Nia sadar, selama ini...kalian selalu menuruti apa yang Nia inginkan. Dan sekarang waktunya Nia membalas itu semua. Nia akan mencoba untuk menerimanya, ayah!" membalas ucapan ayahnya sambil menitikkan air mata.
Nia tersadar saat mendengar segala yang diucapkan calon mertuanya itu, betapa sangat berartinya Siddiq dan Hendrawan mengharapkan mendapatkan menantu yang baik untuk putra semata wayangnya.
__ADS_1