Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Jiwa yang meronta-ronta


__ADS_3

Nia hanya terdiam melihat ayahnya yang sudah beranjak meninggalkan ia dan ibunya di ruang keluarga.


"Bu..bagaimana bisa Nia menikah dengan orang yang gak Nia kenal sama sekali??" ucap Nia memelas kasihan kepada ibunya.


"Nia, kamu tau sendiri kan gimana sifat ayahmu. Tidak bisa dibantah, sekali ucap A tidak akan berubah menjadi B ataupun yang lainnya." ucap bu Nurmala sambil mengelus kepala Nia.


Sebenarnya dalam hati Nurmala sedikit tidak setuju dengan keputusan suaminya, masih panjang perjalanan yang harus di tempuh oleh Nia. Tapi dia tidak bisa membantah keputusan suaminya itu, dia juga yakin pasti keputusan yang sudah di ambil oleh suaminya itu akan membawa kebaikan kepada Nia anak semata wayang kesayangannya.


"Ibu nyusul ayahmu dulu ya nak! kamu istirahat gih, kalau ada tugas sekolah segera di kerjakan." kembali tersenyum dan mencium kening Nia lalu beranjak pergi meninggalkan Nia sendiri di ruang keluarga.


"Iya bu." ucap Nia sambil tertunduk sedih.

__ADS_1


Bagaimana ini? dekat dengan lelaki saja aku tidak pernah! dan sekarang aku harus menikah dannn aku juga tidak mengenali siapa yang akan jadi suamiku kelak! Batin Nia dalam hatinya.


Nia pun beranjak pergi menuju kamarnya, dalam kamar ia terus saja kepikiran kata-kata ayah dan ibunya. Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perkataan orangtuanya.


"Selama ini mereka selalu menuruti apapun yang aku inginkan, tidak pernah sedikitpun menolak! dan sekarang giliran aku yang harus menuruti keinginan mereka? tapi kenapa harus perjodohan??" Nia berbicara sendiri sambil mondar-mandir dalam kamarnya yang bernuansa pink dan putih itu.


Setelah berpikir panjang memikirkan tentang hal yang menghantui pikirannya, Nia merasa lelah dan ngantuk. Di baringkan badannya di atas kasur yang empuk dan nyaman itu lalu Nia memejamkan matanya hingga tertidur.


Di ruang shalat pak Siddiq dan bu Nurmala sudah menunggu, Nia pun segera menghampiri mereka.


"Maaf Nia tadi ketiduran, untung aja kedengeran Adzannya." duduk di sebelah ibunya.

__ADS_1


"Ya sudah gak apa-apa Nak!" bu Nurmala menepuk pundak Nia dengan pelan.


Pak Siddiq yang sedari tadi sudah duduk di ruang shalat itu sambil terus berdzikir hanya melihat sepintas kedatangan anaknya.


Iqomah pun di kumandangkan, lalu mereka mulai untuk shalat di imami oleh pak Siddiq.


Setelah selesai shalat mereka masih duduk di ruangan itu sambil memanjatkan doa dan berdzikir. Dalam hati Nia memanjatkan doa agar apa yang di putuskan oleh ayahnya tidak akan pernah terjadi.


"Ya Allah, kabulkan lah doa hamba ini. Tolong batalkan perjodohan ini, Nia belum siap untuk menikah apalagi Nia tidak mengenalinya. Bantu Nia ya Allah agar ayah dan ibu segera membatalkan ini semua! Aamiin..." mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Setelah selesai berdoa Nia menyalami ayah dan ibunya bergantian. Di lihatnya wajah ayah dan ibunya yang sudah ada sedikit keriput menandakan sudah semakin menua. Dan diingatnya lagi keinginan ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan pria yang tak di kenalnya itu.

__ADS_1


Ya Allah...Nia bingung, setelah melihat wajah mereka Nia jadi serba salah. Ya Allah bantu Nia harus bagaimana?? Gumam Nia dalam hatinya.


__ADS_2