Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Deg-degan


__ADS_3

Kriingg..kriingg..kriingg...


ble pun berbunyi, semua siswa memasuki ruangan yang sudah di atur untuk melaksanakan Ujian. Zhill yang berbeda ruangan dengan Nia dan Dhea merasa terasingi, dia berjalan ke ruangannya dengan langkah gontai. Dia merasa deg-degan karena jika dia tidak bisa menjawab soal, siapa yang akan menjadi dewi fortune nya.


"Huft! kenapa harus pisah sih!" gumam Zhilla.


Ujian pun di mulai, semua siswa dengan tenang tanpa suara mengerjakan ujian. Nia yang sudah memguasai pelajarannya itu dengan cepat namun teliti menjawab soal-soalnya.


1 jam 10 menit berlalu setelah semua soal di jawab, Nia memeriksa kembali kertas ujiannya. Setelah di rasa sudah benar-benar yakin, Nia mengumpulkan kertas ujiannya. Namun pengawas tidak memperbolehkan Nia keluar kelas, karena masih tersisa waktu 20 menit lagi.


Nia kembali ke tempat duduknya, di kursi belakang Dhea memberi kode untuk memberikan jawaban yang ada di nmr 35. Nia memberikan kode jawaban yang di minta oleh Dhea, lalu kembali menghadap ke depan.


20 menit berlalu, bel tanda ujian telah usai pun berbunyi. Seluruh murid mengumpulkan kertas ujiannya kepada pengawa ujian. Lalu mereka berhamburan keluar kelas untuk pulang, tapi tidak dengan Nia dan dua sahabatnya.Mereka duduk sebentar di kantin membahas soal-soal yang mereka kerjakan tadi.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.25, 3 dara itu kembali ke rumahnya masing. Di rumah, Nia mempelajari kembali pelajaran yang akan di ujiankan besok, tak lupa meminta doa restu kepada kedua orangtuanya setiap akan tidur dan pagi hari sebelum berangkat ke sekolah.


UN pun telah usai, 3 hari lamanya berjuang untuk menentukan kelulusan mereka. Nia, Dhea dan Zhilla serta murid-murid yang lain berkumpul di lapangan untuk mendengarkan pidato di hari terakhir UN dari sang kepala sekolah.


Usai mendengarkan pidato kepala sekolah, dan coret-coretan di kain panjang yang sudah terpasang, Dhea mengajak 2 sahabatnya untuk makan bersama. Karena kepala sekolah melarang murid-murid untuk coret-coretan setelah selesai ujian itu, kalaupun mau coret-coretan sekolah menyediakan kain putih panjang yang sudah di pajang dipagar sekolah untuk para murid mencoret-coretnya disana.


"Kuy kita mamam! gue yang traktir!" ajak Dhea.


"Seriusan?" tanya Zhill girang.


"Pernah gitu gue boong?" Dhea bertanya balik.


Nia dan Zhilla menggeleng, karena Dhea tidak pernah ingkar terhadap perkataannya. Mereka pun berjalan meninggalkan lapangan sekolah menuju gerbang, menunggu angkot.


Saat sedang menunggu angkutan umum, Fariz mendatangi mereka.


"Mau kemana kalian?" tanya Fariz.

__ADS_1


"Mau makan bersama pak!" jawab Nia.


"Dimana?" tanyanya lagi.


"Di kafe Arabica pak!" jawab Zhilla.


"bapak mau ikutan? kalau bapak mau ikutan ayok! lumayan kan ada yang traktir, wkwkkw!" celetuk Dhea.


"Sssttt..." Zhill membungkam mulut bocor Dhea dengan tangannya.


"Maafin Dhea ya pak! dia emang asal nyeblak kalo ngomong!" Zhilla meminta maaf.


"Hm..saya ikut! lagian sudah tidak ada kegiatan lain lagi disini!" sahut Fariz.


"kalian naik apa?" lanjut Fariz.


"naik angkot pak!" jawab Nia.


Fariz yang mendengar Nia menyebutnya dengan sebuyan bapak membuatnya menatap Nia dengan tajam.


"Nia!" panggil Fariz.


"Iya pak?" jawab Nia.


"bapak? memang saya bapakmu!" ujar Fariz kesal di panggil bapak oleh Nia.


"iya bapak! kenapa?" tanya Nia heran.


"panggil saya mas!" pinta Fariz.


"ini masih di sekolah pak! entar kalo udah naik angkot saya baru panggil mas!" balas Nia seraya mengerlingkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Kita naik mobil saya aja! tunggu disini, saya ambil mobil!" perintah Fariz.


"Baik pak!" sahut Dhea "yes! naik mobil keren lagi!" Dhea kegirangan.


"Ssssttt!" Nia menempelkan jari telunjuknya ke mulut Dhea, menyuruhnya untuk diam.


"lo lo pada suka banget nempelin tangan ke mulut gue! tangan kalian bau trasi tauuu!" teriak Dhea kesal.


"Abis kamu blak-blakan banget, kek gak pernah naik mobil bagus ajah!" sahut Zhill.


"Bodo! weeekkk!" ejek Dhea sambil menjulurkan lidahnya.


Mobil Fariz pun telah sampai di depan mereka, dengan cepat mereka masuk takut di klakson kendaraan lain yang ada di belakang.


"Pak Fariz mobilnya nyaman banget ya! luas lagi, luasan mobil bapak dari kamar aku!" celetuk Dhea.


"hm.." gumam Fariz seraya tersenyum tipis mendengar pujian dari Dhea.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang setelah 20 menit menempuh perjalanan, mereka akhirnya sampai di kafe Arabica. Mereka turun dari mobil, Dhea dan Zhill dengan segera memasuki kafe tersebut dan memesan tempat.


"ini tempat biasa aku dan 2 perempuan itu nongkrong mas!" jelas Nia.


"setiap hari?" tanya Fariz datar.


"enggak sih! kalo lagi pengen makan mie terbang aja!" jawab Nia.


Faris mengernyitkan dahinya, "mie terbang?" tanya Fariz.


"iya mie terbang! entar mas liat aja deh!" balas Nia.


Mereka duduk di tempat yang sudah di pesan oleh Dhea, mereka segera memesan makanan dan minuman. Nia memesan mie terbang yang khas dari kafe itu, dengan milkshake sebagai teman makannya. Fariz yang penasaran dengan menu mie terbang pun ikut memesan mie terbang dan minumannya kopi susu.

__ADS_1


Setelahpesanan mereka datang, Fariz terkejut melihat porsi mie terbang yang di pesannya itu, kalau dia tahu akan sebanyak itu lebih baik kongsi dengan Nia.


Fariz pun memberikan porsi makanannya itu kepada Dhea dan Zhilla, lalu Nia membagi porsi makanannya dengan Fariz.


__ADS_2