
Sesampainya mereka di sebuah rumah sakit besar, Fariz segera mendaftarkan Nia untuk ke poli kandungan. Tak menunggu waktu lama, 10 menit setelah mendaftar perawat memanggil nama Nia. Mereka dengan segera memasuki poli kandungan.
Sang dokter mulai memeriksa Nia, dengan perlahan mengitari bagian perut Nia dengan CTG. Lalu sang dokter mulai merekam suara detak jantung janin yang berada dalam kandungan Nia, dan itu membuat Fariz merinding. Sebab, ia belum pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya.
Fariz dan Nia yang tidak tau apa-apa menanyakan perihal suara tersebut kepada sang dokter.
"What sound is that, Doctor?" tanya Fariz penasaran.
"It's sound of your children's heartbeat." terang dokter itu dengan ramah.
"Did you mean my wife is pregnant? And my child is twin?" tanya Fariz antusias.
"Yes right, Sir! Did you dont know about your wife's pregnancy beforehand?" tanya sang dokter heran.
"No! Because, we just do that." balas Fariz dengan sedikit malu-malu.
"Oh. So congratulations for you! You will be parents." ungkap sang dokter, memberikan selamat kepada pasangan itu.
__ADS_1
Nia tercengang, secepat ini dia sudah mengandung. Anak kembar pula, sesuai keinginan nya dulu. Setelah menikah ingin rasanya memiliki anak kembar, dan sekarang Allah mengabulkannya.
"Your wife has been pregnant for two weeks." lanjut sang dokter.
"Ah! Thank you, Doc!" balas Fariz.
Usai pemeriksaan dan berkonsultasi, Nia dan Fariz meninggalkan poli kandungan. Beralih menunggu vitamin yang di berikan oleh sang dokter.
"Bener kan firasat mas! Kalau tadi kita masih naik wahana di sana, naik yang bahaya-bahaya. Bisa menyesal mas, Sayang." ungkap Fariz sambil menggenggam tangan istrinya.
Nia hanya diam, memikirkan anak-anak yang ada dalam kandungannya. Untung saja Fariz cepat tanggap, dan benar yang di katakan suaminya itu. Allah sangat baik, memberikan perasaan dan firasat baik padanya.
"Cinta dan hati mas, udah menyatu sama kamu. Jadi firasat apapun tentang kamu sudah ada disini." ungkap Fariz seraya menunjuk dadanya.
Nia sangat terharu, bersyukur memiliki suami siaga seperti Fariz. Semua berkat orang tuanya, dengan perjodohan yang awalnya ia tolak. Namun, nyatanya sekarang ia sangat bersyukur.
Usai mendapatkan vitamin, mereka kembali ke hotel. Fariz meminta Nia untuk beristirahat, ia tidak mengizinkan Nia untuk melakukan hal-hal yang berat.
__ADS_1
***
Malam hari, Fariz mengajak sang istri tercinta untuk menikmati makan malam di sebuah restoran yang dekat dengan menara Eiffel.
Nia sangat bahagia, dapat menikmati suasana Menara Eiffel pada malam hari. Dengan orang tercinta khususnya.
"I Love You, Sayang!" ungkap Fariz sembari memberikan sebuket bunga mawar merah yang di beli nya sore tadi, dan sebuah kotak kecil berwarna merah.
"Ah. Apa ini, Mas?" tanya Nia saat melihat kotak kecil di tangan Fariz.
Fariz membukanya, nampak tiga buah benda bulat kecil yang berkilau. Nia menangkup mulutnya, ia benar-benar terharu kali ini.
"Kenapa ada tiga, Sayang?" tanya Nia lagi.
"Yang satu untuk kamu. Yang dua lagi untuk anak-anak kita, Sayang." jawab Fariz lalu menyematkan tiga cincin itu di jemari Nia.
"Terimakasih, Mas!" ungkap Nia dengan harunya.
__ADS_1
"And, i love you too, suamiku." ungkapnya lagi.
Fariz mengecup lembut bibir sang istri dengan latar yang sangat indah, Eiffel Tower.