
"Fariz, ..." saat sedang ngobrol dengan Fariz, dari luar pagar rumah yang sangat besar dan luas itu terdengar suara klakson mobil Suhendar.
"Alhamdulillah, akhirnya papa kamu pulang Riz! kamu cepetan siap-siap ya. Habis itu kita menuju rumah om Hendrawan." ucap bu Sofi dengan lembut kepada Fariz.
"heemmhh..iya ma, Fariz ke kamar ya mau siap-siap!" jawab Fariz dengan lembut dan tersenyum ke arah bu Sofi.
"Iya Riz." membalas senyuman lembut anaknya.
Suhendar pun masuk ke dalam rumah, di dapatinya istri tercintanya itu sedang berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan dirinya.
"Assalamualaikum ma." ucap Suhendar lembut kepada istrinya.
Lalu Sofi menjawab "Waalaikumussalam pah." lalu mencium punggung tangan suaminya itu.
"Udah siap-siap mah? Fariz udah pulang? yang paling penting dalam pertemuan ini kan Fariz. Jangan sampai dia menelak lagi, setidaknya dia bertemu terlebih dahulu dengan calon istrinya." ucap pak Suhendar.
__ADS_1
"Iya pa, itu Fariz lagi ke kamarnya untuk bersiap-siap." jawab bu Sofi.
"Yasudah papa juga mau bersiap-siap ya ma, mama mau nunggu disini atau ikut papa?" sambil sedikit menggoda dan tersenyum nakal ke arah istri tercintanya itu.
"i.ihh papa! masih aja yaa.." tersipu malu saat di goda oleh suaminya.
"Hehee...berguaru sama istri sendiri kan gapapa mah..asal jangan di ruang publik dan berlebihan." sambil menggandeng tangan istrinya.
Pak Suhendar dan bu Sofi pun pergi meninggalkan ruang depan dan menuju kamar untuk bersiap-siap.
"Mama sama papa kenapa ngotot banget untuk jodohin aku dan buru-buru nikah sama anaknya om Hendrawan, lagi pula aku gak tau gimana anaknya om Hendrawan. Udah lama banget aku gak ketemu dia." gumam Fariz pelan kepada dirinya sendiri.
Nia dan Fariz dulu pernah bertemu, tapi dulu mereka masih kecil. Saat Fariz berusia 10 tahun, Nia masih berusia 4 tahun. Jadi wajar saja jika Fariz tidak lagi mengenali Nia yang sekarang sudah beranjak remaja. Dulu Fariz sebenarnya sempat menyukai Nia, karena wajahnya yang imut dan Nia adalah anak yang periang, namun Fariz tidak mengutarakan isi hatinya pada saat itu. Karena mereka masih di umur yang sangat belia. Bahkan sampai sekarang dalam hati Fariz masih tertanam rasa itu untuk Nia.
"Andai anak kecil yang dulu pernah main sama aku waktu itu anaknya om Hendrawan, aku gak akan menolaknya. Papa dan amam juga gak perlu repot-repot buat jodohin aku kaya gini!" gumam Fariz sedikit kesal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Fariz tidak menyadari, bahwa Nia yang akan di jodohkan dengannya saat ini adalah Alni yang dulu ia kenal. Dulu Fariz tidak begitu menyadari bahwa Nia yang ia kenal sebagai Alni adalah anak Hendrawan. Saat itu mereka bertemu saat sedang ada acara keluarga besar Suhendar, Siddiq yang sebagai orang terdekat Suhendar pun di undang dalam acara keluarga tersebut. Dan disitulah Nia dan Fariz bertemu untuk pertama kalinya.
Tok..tok..tok..
Tiba-tiba dari arah luar kamar, salah satu ART di rumah itu mengetuk pintu kamar Fariz, dan memberitahukan bahwa bu Sofi dan pak Suhendar sudah siap dan menunggunya di bawah.
"permisi tuan Fariz, nyonya dan tuan besar sudah siap dan sedang menunggu di bawah." ucapnya dari luar kamar.
Fariz membuka pintu lalu menjawabnya.
"Iya bik, tolong bilang ke mama dan papa tunggu sebentar. Sebentar lagi selesai!" titah Fariz.
"baik tuan." sambil membungkukkan sedikit badannya.
"hhmm.." jawab Fariz singkat.
__ADS_1
Akhirnya Fariz pun selesai berpakaian dan segera menyusul mama papanya ke bawah. Dilihatnya mama dan papanya sangat rapi dan menggunakan pakaian yang sangat formal, sedangkan Fariz hanya menggunakan kemeja biasa dan celana jeans. Dia mengira bahwa hanya akan menghadiri pertemuan biasa, padahal sebenarnya bu Sofi dan pak Suhendar serta orangtua Nia sudah bersepakat untuk melamar Nia hari ini. Jadi Fariz pun tidak akan bisa mengelak lagi di kemudian hari.