
Di Butik
Sampailah mereka di butik milik tante Fariz, Helena Hendrawan namanya. Dia adik sepupu dari Gunawan Hendrawan. Saat mengetahui kehadiran Fariz dan Nia, Helen bergegas menuruni anak tangga untuk menemui mereka.
Helen merupakan orang lain yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri bagi keluarga Hendrawan, mereka memiliki hubungan saudara yang cukup rumit. Maka dari itu, Helen ingin sekali menguasai harta Hendrawan seluruhnya dengan menikahkan putri bungsunya dengan Fariz. Namun saat mendengar perjodohan Fariz dengan Nia, Helen merasa semua rencananya gagal. Tapi banyak jalan menuju Roma, pikirnya.
"Assalamualaikum tante!" sapa Fariz dengan ramah lalu mencium tangan Helen.
"Waalaikumussalam Fariz! kamu sudah besar nak!" ucap Helen seraya memandangi Fariz dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ini calon kamu Riz?!" tanya Helen seraya memandang Nia dengan tatapan tidak suka.
Helen tidak menyukai keberadaan Nia, saat mengetahui bahwa Fariz akan dijodohkan dengan anak sahabat sepupunya itu, Helen menentang dengan alasan tidak tahu bagaimana keadaan keluarga Nia. Padahal, sesungguhnya Helen menginginkan Fariz menikah dengan Khana putri bungsunya.
"Iya tante! ini Nia calon istri Fariz. Nia, ini tante Helen, em..adik sepupu papa saya!" ungkap Fariz kepada Helen dan Nia bergantian.
Fariz menyadari ketidaksukaan Helen terhadap Nia, seluruh keluarga Hendrawan sudah mengetahui sifat buruk Helen. Ia menginginkan Friz menikah dengan Khana putri bungsunya, kelak ia bisa menguasai harta yang dimiliki oleh keluarga Hendrawan.
Helen sudah menyiapkan rencana matang untuk menggagalkan pernikah Fariz dan Nia, segala cara diupayakan oleh Helen, agar Khanalah yang dapat dinikahi oleh Fariz. Ambisinya yang kuat untuk mengambil harta keluarga Hendrawan sangat kuat, sehingga Helen menjadi gelap mata.
Sebenarnya dulu Helen adalah orang yang baik, kakek Fariz sangat menyayangi Helen seperti anaknya sendiri. Seluruh yang dibutuhkan Helen terpenuhi, sampai segala yang diinginkannya pun di penuhi oleh kakek Fariz.
"Yasudah, langsung di coba saja bajunya! Fariz di sebelah sana!" seraya menunjuk ruangan tidak jauh dari tempat mereka berdiri "dan kamu! sebelah sana!" menunjuk ke arah ruang ganti yang berada dipojokan dan agak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Susi, tolong antarkan nona ini ke fitting roomnya!" perintah Helen kepada salah satu pelayan kepercayaanya yang membantunya di butik.
Fariz merasakan ada hal tidak beres yang sedang direncanakan oleh sang tante, sehingga membuat Fariz mengurungkan niatnya untuk mencoba bajunya, ia lebih memilih untuk menemani Nia terlebih dahulu.
"Saya ikut! biar saya juga bisa lihat baju yang akan dipakai Nia nanti!" ucap Fariz membuat Helen kebingungan, karena disana Helen sudah menyiapkan jebakan untuk Nia.
"Emh..nak Fariz! pantang lho melihat calon pengantin kamu..." omongan Helen dipotong oleh Fariz.
__ADS_1
"Saya akan tetap ikut!" ucap Fariz tegas memotong perkataan Helen sembari menatapnya dingin.
"Em..ka..kalau gitu sebelah sini saja coba gaunnya!" ucap Helen terbata-bata seraya menunjuk fitting room yang bersebelahan dengan fitting room Fariz.
Tadi sebelum aku minta ikut Nia di arahkan untuk mencoba gaun di fitting room yang jauh dari sini, kenapa disaat aku minta ikut tante malah mengarahkannya kesini! benar-benar ada yang tidak beres dengan tante Helen! batin Fariz mencurigai Helen memiliki rencana buruk untuk Nia.
"Biar Nia dulu yang coba gaunnya!" pinta Fariz pada tantenya.
"Susi! tolong ambilkan gaun nona ini dan tuxedo yang akan di pakai oleh Fariz!" perintah Helen kepada Susi.
"baik bu!" Susi bergegas ke ruang gaun untuk mengambil gaun Nia dan tuxedo Fariz.
Saat Susi kembali, Fariz terkejut melepaskan tangannya dari saku celana yang ia kenakan. Lalu menghampiri Susi merampas gaun yang akan di kenakan oleh Nia, betapa terkejutnya Fariz melihat warna dan model yang ia pesan tidak sesuai dan sangat jauh dari yang di harapkan. Fariz menginginkan warna gaun yang akan dikenakan oleh Nia senada dengan tuxedo yang akan dikanakannya nanti. Warnanya sangat tidak enak di pandang, begitu juga dengan model gaun Nia, sangat jauh dari yang diharapkan.
"Tante! apa ini?? warnanya sangat buruk! modelnya pun seperti kekurangan bahan!" ucap Fariz murka dengan Helen lalu membuang gaun Nia kesembarang arah.
"Ma..maafkan tante nak! ini mungkin kesalah dibagian penjahit! tante sudah...." perkataan Helen kembali dipotong oleh Fariz.
"Sayang! ayo kita pergi dari sini! saya tidak membutuhkan orang-orang seperti mereka!" ucap Fariz seraya menarik lengan Nia lalu meninggalkan butik Helen.
"Fariz! tunggu nak! maafkan tante..." Terika Helen mengejar langkah Fariz dan Nia sampai ke mobil.
"Fariz!" teriak Helen sembari mengetuk-ngetuk kaca mobil Fariz, namun Fariz tidak menghiraukannya lalu melajukan mobilnya meninggalkan area parkir butik Helen.
Nia yang sedari tadi mengamati keadaan yang buruk itu merasa bahwa Helen tidak menyukai kehadirannya, dimulai dari tatapan pertama Helen ketika mengetahui bahwa Nia adalah calon istri Fariz, sampai Gaun yang akan dikenakannya dihari spesialnya nanti.
Namun Nia tidak mau mengungkitnya lagi, ia dapat merasakan amarah menggebu-gebu yang dicuatkan oleh Fariz saat berada di Butik tadi.
"Sabar mas!" ucap Nia lembut seraya mengelus-ngelus lengan Fariz dengan lembut.
"Saya nggak habis fikir dengan tante Helen! saya fikir dia sudah berubah, ternyata kelakuannya masih saja sama seperti dulu!" ucap Fariz sambil terus fokus mengemudi.
__ADS_1
***Flashback On**
Dulu sebelum akhirnya Fariz dijodohkan dengan Nia, ia sempat dijodohkan dengan seorang wanita bernama Desty, anak dari teman kakeknya. Namun gagal ketika Helen berhasil menjebak Desty untuk tidak melanjutkan perjodohannya dengan Fariz.
Helen membuat seolah-olah Fariz sedang bersenang-senang dengan wanita lain yang sebenarnya adalah Khana, sehingga membuat Desty membatalkan perjodohannya dengan Fariz. Ia menunjukkan foto yang diberikan oleh Helen, yang isinya foto Fariz sedang bersama wanita lain.
Saat itu juga Fariz merasa bahwa Helen sengaja membuat skenario buruk itu, agar Desty membatalkan perjodohan mereka. Dari situ, Fariz tidak lagi mempercayai Helen.
Flashback Off*
"Dulu? maksud mas?" tanya Nia penasaran membalikkan badannya menghadap Fariz.
Fariz pun menceritakan perjodohannya dengan Desty gagal akibat ulanh Helen.
"Dulu sebelum saya dijodohkan dengan kamu, saya mau dijodhkan dengan Desty. Anaknya teman kakek Farid! tapi tante Helen malah sengaja membuat Desty membatalkan perjodohan kami!" kenang Fariz.
"Oohh..gitu ya!" Nia menyebikkan bibirnya lalu membalikkan kembali tubuhnya menghadap kedepan.
"cantik mas??" tanya Nia lagi sembari menoleh ke arah Fariz.
"Hem?" Fariz mengalihkan pandangannya sekilas ke arah Nia, lalu kembali fokus dengan kemudinya.
"Cantik!" lanjut Fariz.
"oh..pantas saja!" Nia mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Fariz.
"Pantas apa?" tanya Fariz santai.
"Pantas saja mas merasa kesal karena dibatalkan perjodohannya dengan wanita cantik!" jawab Nia ketus.
Fariz mengira Nia menanyakan tentang dirinya sendiri, ternyata Nia malah mengungkit tentang Desty. Fariz pun menyadari kecemburuan yang mulai timbul dalam diri Nia, dan itu semua membuat jiwa keusilan Fariz pun mencuat.
__ADS_1