Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Malu!


__ADS_3

Usai melaksanakan akad nikah yang sempat tertunda akibat gangguan wanita penggoda itu, Fariz dan Nia resmi menjadi kekasih halal.


Semua keluarga, saksi, penghulu merasa lega terutama Nia dan Fariz, setelah adanya kejadian yang tak pernah diduga oleh mereka.


Suhendar dan yang lainnya menyuruh pasangan pengantin baru itu pulang, agar mereka bisa mengistirahatkan tubuh mereka.


"Kalian pulang saja nak, kasihan Nia sepertinya dia kelelahan dan juga pasti sangat shock dengan apa yang sudah terjadi hari ini!" usul Suhendar.


"Iya, lebih baik kalian pulang dan istirahat. Untuk masalah wanita itu, biar ayah yang akan mengurusnya!" timpal pak Siddiq.


"Tapi, untuk urusan wanita itu biar Fariz serahkan kepada pihak yang berwajib. Agar ia jera atas permasalahan yang dibuatnya tadi!" ucap Fariz mengepalkan tangannya merasa geram.


"Sabar mas," ucap Nia lirih mencoba menenangkan Fariz.


Nia dan Fariz pun berpamitan kepada mereka, lalu berjalan menuju parkiran yang diikuti oleh Dhea dan Zhilla. Sebelum Fariz membawa Nia pulang kerumahnya sendiri, pengantin baru itu mengantar Dhea dan Zhilla terlebih dahulu setelah itu barulah mereka pulang.


Selama diperjalanan wajah Nia nampak murung, ia terpikirkan ucapan Megha yang mencoba merebut Fariz yang kini sudah menjadi suaminya. Fariz yang menyadari itu mencoba menghibur sang istri dengan membawanya ke restoran miliknya.


Seketika Nia menyadari arah laju mobil tidak mengarah ke rumah mereka, melainkan ke arah yang berbeda.


"Mas, ini kan bukan arah pulang ke rumah." ucap Nia seraya mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri.


"Mas mau bawa kamu ke suatu tempat, sayang." balas Fariz yang membelokkan mobilnya ke sebuah restoran yang tak asing bagi Nia.


Ya sebuah restoran bernuansa asri yang ditengahnya terdapat danau kecil buatan yang dipermukaannya terdapat bilik-bilik bambu yang sangat terasa nyaman, restoran milik Fariz.


Nia melebarkan senyumnya ia sangat menyukai tempat ini apalagi saat cuaca mendung, baginya sangat romantis kala itu.


"Ah, restoran mas Fariz ternyata." ucapnya lirih yang masih bisa didengar oleh Fariz.


"Iya sayang." balas Fariz sambil menuruni mobil dan menghampiri pintu Nia "Ayo turun." ajak Fariz dengan lembut lalu meraih tangan mulus istrinya.


Mereka memasuki restoran masih menggunakan kebaya dan dan jas beskap, seluruh pegawai dan tamu yang berada didalam restoran memperhatikan kedua pengantin baru itu. Lalu seorang pelayan menyapa mereka dengan sangat ramah dan sopan.


"Selamat datang tuan dan nona muda, silahkan masuk." sapanya dengan membungkuk hormat.


"Hm..terimakasih!" balas Fariz yang juga diikuti Nia dengan anggukan.


Kedua sejoli itu berjalan menuju sebuah bilik yang berbeda saat Fariz melamar Nia. Mereka menapaki jalan yang terbuat dari potongan kayu bulat yang dilingkupi oleh batu-batu kecil berwarna putih.


Di bilik tersebut, sudah didekor seindah mungkin oleh orang kepercayaan Fariz dalam mengelola restoran miliknya, yang dibantu oleh pegawai yang lainnya.


Disana terpampang sebuah kertas foil berwarna pink, yang bertuliskan 'Happy Wedding Fariz dan Nia.' Betapa terharu dan bahagianya Nia mendapat kejutan yang menurutnya romantis baginya.


"Mas kapan nyiapain ini?" tanya Nia berbisik seraya bergelayut manja dilengan kokoh Fariz.

__ADS_1


"Mas kan punya banyak anak buah, hehehe.." balas Fariz lalu mengecup lembut kening istrinya.


"Ciieee tuan dan nona muda romantis dan mesra sekali ya." goda para pegawai yang melihat perlakuan Fariz terhadap Nia.


"Ihh mas, malu tau cium-cium gitu didepan banyak orang." keluh Nia merasa malu dengan perlakuan Fariz yang menciumnya didepan banyak orang.


"Oh, jadi kamu malu dicium sama suami sendiri, hum?" tanya Fariz yang membuat ekspresi wajahnya menjadi cemberut.


"Mas kamu lucu dan tambah ganteng deh kalau cemberut gitu," ucap Nia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Mas kan memang ganteng sayang, ayo masuk kita makan dulu." ucapnya dengan percaya diri lalu mengajak Nia untuk menikmati makan siang mereka.


Usai menghabiskan makanan mereka, Fariz mengajak Nia untuk berjalan mengelilingi restoran miliknya. Fariz berencana untuk mengalihkan restorannya itu kepada Nia, agar istri mungil itu tidak perlu susah-susah mencari pekerjaan.


"Sayang, nanti setelah kamu tamat kuliah nggak usah kerja ya!" ucap Fariz menolehkan wajahnya kearah Nia.


"Kenapa mas? jadi apa guna Nia sekolah dan kuliah?" tanya Nia heran.


"Bukan nggak ada gunanya, hanya saja mas nggak mau kamu capek kerja dan juga harus bertemu dengan laki-laki lain selain mas!" ungkap Fariz yang takut kehilangan Nia.


"Terus Nia ngapain dong mas?" tanya Nia penasaran.


"Restoran ini akan mas alihkan ke kamu, mulai sekrang restoran ini milik kamu sayang." terang Fariz kini berdiri berhadapan dengan Nia seraya menggenggam kedua tangan istrinya.


"Mas akan ngajarin kamu, percuma dong punya suami seorang pebisnis muda yang sukses!" terang Fariz seraya merentangkan dada bidangnya yang membuat Nia terkekeh.


"Khem..hehehehe.." kekeh Nia menangkupkan mulutnya dengan satu tangannya.


"Kok kamu ketawa sih sayang? apanya yang lucu coba?!" tanya Fariz menautkan kedua alis tebalnya.


"Gaya kamu tadi itu loh mas, kaya sok pahlawan." ungkap Nia menyentuh dada bidang suaminya.


"Sok pahlawan gimana maksud kamu sayang?" tanya Fariz menaikkan satu alisnya.


"Dadanya pake direntangin segala, kan jadi kaya pahlawan suparman!" cibir Nia masih terkekeh.


"Ah kamu ini, ayo kita lanjut lagi kelilingnya setelah itu kita pulang dan..." Fariz menghentikan ucapannya dan memperhatikan Nia dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Dan apa?" tanya Nia polos.


"Dan..itu," ucap Fariz lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dan itu apa mas? nggak jelas deh kamu," cecar Nia menautkan kedua alisnya.


"Bikin dede bayi!" bisik Fariz membuat Nia tercekat mendengar perkataan suaminya.

__ADS_1


"Ehh! mas mesum banget!" ucap Nia memukul lengan Fariz lalu berjalan cepat meninggalkan Fariz.


"Sayang! mas bercanda loh, tungguin aku." teriak Fariz dengan sedikit terkekeh mendapati ekspresi Nia saat dirinya meminta jatah malam pertamanya.


Nia berjalan cepat meninggalkan Fariz menuju mobil mereka, Nia berdiri menunggu kedatangan suaminya yang sudah tertinggal jauh.


"Mas Fariz lama banget, Nia udah gerah nih!" keluhnya seraya mengibas-ngibaskan tangannya kearah wajah cantiknya yang masih terlapis oleh makeup.


"Sayang! kamu cepet banget jalannya, mas capek..hah..hah...ngejar..kamu...!" ucap Fariz terengah-engah setelah berlarian mengejar Nia.


"Yahh, masa gitu aja capek sih mas!" Nia menyebikkan bibirnya.


"Kamu kan.. tau sendiri seberapa... luas ini restoran, lagian kamu itu... tadi jalan apa lari sih?!" Fariz masih terengah lalu menyenderkan tubuhnya disebelah Nia dibadan mobil.


"Iya sih luas banget mas, Nia tadi jalan cepat." ucap Nia seraya mengusap kening Fariz yang bercucuran keringat akibat lari mengejar Nia.


"Ah..kamu ini, yaudah ayo masuk." ajak Fariz membukakan pintu untuk Nia lalu menuju kursi kemudinya.


Fariz menyalakan mobil lalu menghidupkan pendingannya, ia merasa gerah dan bajunya berlumuran keringat akibat berlari. Fariz pun membuka jas beskapnya, yang hanya menyisakan kaos oblong lengan pendek berwarna putih. Ia hendak membuka kaos oblong itu, namun ditahan oleh sebuah tangan mungil Nia.


"Eh, mas mau ngapain?!" tanya Nia tercekat melihat Fariz hendak membuka kaos oblongnya.


"Mau buka baju," jawab Fafiz yang sedang meraih ujung bajunya.


"Ih, malu tau mas! lagian kenapa harus disini coba!" sanggah Nia yang wajahnya mulai merona.


"Ahh, kamu mikir yang macam-macam ya sayang!?" goda Fariz mendekatkan wajahnya yang kini tidak berjarak sama sekali.


"Ihh mas, apaan sih!" Nia mendorong pelan tubuh Fariz.


"Emm..ayo, kamu mikir apa sayang?" goda Fariz lagi seraya mengangkat dagu lancip Nia.


"Nggak ada mas! udah pake lagi bajunya, malu ihh!" sanggah Nia meraih jas beskap Fariz yang sudah basah penuh dengan keringat.


Fariz menyangga tangan Nia, lalu meletakkan jas nya kembali dijok belakang. Fariz meraih sebuah kantong paper bag yang berisikan kaos oblong berwarna abu-abu dan kemeja berwarna hijau pekat. Lalu segera melepaskan kaos oblong yang dipakainya dan menggantinya dengan pakaian yang dibawa dalam paper bag tersebut.


Nia hanya tercengang dan merasa malu dengan apa yang sudah dipikirkannya tadi, betapa malunya Nia ternyata Fariz hanya ingin mengganti bajunya. Wanita yang kini berstatus sebagai istri seorang Fariz Suhendar mengalihkan pandangannya keluar jendela, sedangkan Fariz masih sibuk mengganti pakaiannya.


"Nanti kita bahas lagi ya sayang, mamasmu ini mau konsen nyetir dulu." goda Fariz meraih dagu istrinya.


"Mas! udah nyetir yang bener ah!" ucap Nia kesal bercampur malu lalu kembali dengan pandangannya.


Mobil mewah itu pun melesat, setelah satu jam mereka akhirnya memasuki kediaman Fariz. Rumah pribadi milik Fariz, yang dibangunnya dengan konsep minimalis namun sangat elegan. Nia dan Fariz disambut oleh ART yang bekerja sudah bertahun-tahun lama nya di keluarga Suhendar. Pengantin baru itu menapaki tangga menuju kamar tidur mereka, lalu membersihkan diri secara bergantian.


Usai membersihkan diri, Nia merebahkan tubuhnya yang sangat lelah kedalam peraduannya setelah seharian berkutat dengan aktifitas diluar rumah. Kantuk yang dirasakan Nia tak dapat ditahannya lagi, perlahan-lahan mata indah itu mulai tertutup dan memasuki alam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2