
Hari Minggu pun tiba, rumah Nia sudah di dekorasi sangat indah. Di ruang keluarga sudah terhias bunga-bunga, lampu hias dan juga papan bertuliskan inisial nama mereka yaitu N&F. Setelah kejadian 2 hari yang lalu, Nia sudah merasa baikan. Nia berusaha untuk menerima segala keputusan yang sudah di buat. Jam menunjukkan pukul 8 pagi, namun belum ada tanda-tanda kedatangan keluarga Fariz.
Di dalam kamar, Nia sedang di rias untuk acara pertunangannya.
Untung-untung mereka membatalkan pertunangan plus perjodohan ini! Gumamnya dalam hati seraya tersenyum lebar.
Namun, tidak lama kemudian terdengar suara samar-samar sudah ramai di luar kamar Nia.
tok..tok..tok..! terdengar suara pintu di ketuk.
"Non, keluarga tuan Fariz sudah datang. Ibu menyuruh saya untuk memberitahukan non Nia supaya cepat!" ucap bi Puji dari luar kamar.
Hem..ternyata sudah datang! gumam Nia sedih dalam hatinya.
"Iya bik, nanti Nia keluar. Tapi kasih tau ibu buat jemput Nia ke kamar ya!" balas Nia.
"Baik non!" ucap bi Puji lagi.
Nia menatap dirinya dalam cermin, dilihatnya wajahnya sudah terias dengan makeup yang tidak terlalu mencolok.
Cantik! gumam Nia memuji dirinya sendiri sambil tersenyum tipis.
"MashaAllah, cantiknya mbak Nia Tanpa makeup pun sudah cantik. Apalagi di makeup begini mbak!" puji perias itu ketika menatap Nia melalui cermin yang ada di depan mereka.
__ADS_1
"Terimakasih mbak!" balas Nia seraya tersenyum dengan sangat cantik.
Tok..tok..tok...! pintu kembali diketuk.
"Nia, sudah selesai kamu nak?" tanya bu Nurmala sambil menyumbulkan kepala dan setengah badannya memeriksa Nia.
"Udah bu, tinggal pakai baju!" balas Nia sambil menoleh ke ibunya.
"Yasudah cepat di pake bajunya ya, Fariz dan keluarganya udah dateng!" ucap bu Nurmala lagi.
"Iya bu!" seraya mengangguk.
Setelah perias selesai merias Nia, dia membantu Nia untuk memakai baju kebaya yang akan di pakai oleh Nia. Walaupun sederhana namun tetap cantik, baju kebaya putih di padukan dengan kain bawahan berwarna emas dan jilbab putih berbahan satin dengan sedikit hiasan di kepalanya. Nia terlihat lebih cantik dan anggun sekarang.
"Ibu! Untuk Nia gak kejedut pintunya. Bisa-bisa benjol jidat Nia bu.." rengek Nia
"Ehee..maaf Nak! ibu gak sengaja. Ibu gak tau kamu berdiri disana, lagian kamu bukannya langsung keluar malah diem aja disitu.." ucap bu Nurmala sambil tepok jidat.
"Ehehehe..Nia...malu buk.." sambil menatap ibunya.
"Kenapa musti malu nak? kamu cantik koq! dan juga kamu kan pakai baju, kenapa musti malu? kecuali kalau kamu keluar gak apaki baju..baru malu!" goda bu Nurmala agar Nia merasa rilex sedikit, karna ia tau apa yang sedang di rasakan putrinya saat ini.
"Ahh ibuu.." balas Nia sambil memonyongkan bibirnya sekian meter.
__ADS_1
"Yasudah ayok, kasian mereka yang sudah menunggu kamu nak!" ajak bu Nurmala sambil menggenggam tangan anak gadisnya itu.
Nia hanya mengangguk mengikuti ajakan ibunya. Tiba-tiba..
"Bentar buk..." tahan Nia menarik tangannya dari genggaman ibunya.
"Ada apa nak?!" tanya bu Nurmala bingung.
"Sepatu kaca Nia belum di pake!" sambil nyengir.
"Astagfirullah, sepatu kaca? emangnya kamu putri yang ada di film kartun itu..apa judulnya? ibu lupa.." kata bu Nurmala sambil memiringkan kepalanya mengingat judul film.
"Cinderella bu!" balas Nia sambil nyengir dan menutup mulutnya.
"Nah iya itu, apa tadi namanya? Cindelaras? Cindol?..." mengingat lagi dengan susah menyebut kan nama filmnya.
"Cinderella ibuku sayang.." sambil mencium pipi ibunya lalu berlari kecil menuju kamarnya untuk mengambil sepatu yang dimaksud.
Nia pun berhasil mendapatkan sepatunya lalu kembali ke tempat ibunya berdiri, di gandengnya tangan ibunya yang sebelah kanan. Lalu mereka berjalan menuju ruang keluarga, dimana sudah banyak para sanak keluarga sudah berkumpul. Keluarga Suhendar pun juga sudah berdatangan. Fariz yang ketika itu sedang duduk di antara kedua orangtuanya mengalihkan pandangannya ketika bu Nurmala dan Nia datang.
Subhanallah! sungguh indah ciptaan-MU YA RABB! Gumam Fariz dalam hatinya, dan seketika tidak berkedip.
Bu Nurmala yang menyadari tatapan Fariz ke arah Nia menyadarkannya dengan berdehem agak keras lalu tersenyum dan melirik ke arah Nia, sehingga semua orang yang ada di ruang keluarga mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Begitu juga dengan Fariz, langsung menundukkan kepalanya ikut tersenyum malu. Karena kepergok memandang Nia dengan sangat lekat.
__ADS_1