Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Paris


__ADS_3

Setelah menempuh waktu kurang lebih 16 jam 50 menit, mereka tiba di kota yang identik dengan cinta.


"Alhamdulillah!" ucap syukur pasangan suami istri itu ketika menapakkan kaki mereka di bandara.


Nia sangat antusias, dia terus mencubiti pipinya mencoba menyadarkan dirinya. Fariz yang sedang berjalan disamping Nia, memperhatikan perilaku sang istri yang terus mencubiti pipinya.


"Kamu kenapa terus nyubitin pipi, Sayang?" tanya Fariz mengelus pipi Nia.


"Nia nggak mimpi kan mas?" tanya Nia sambil mengedarkan pandangannya.


"Enggak sayang!" menggenggam erat tangan wanitanya itu.


Mereka terus menyusuri bandara itu, hingga akhirnya sampai ditempat pengambilan barang. Mereka tidak banyak membawa barang, hanya sebuah koper sedang yang didalamnya terdapat baju mereka berdua.


Dari ujung bagasi, sudah terlihat koper berwarna biru metalic milik mereka. Dengan sigap Fariz meraihnya ketika melewati mereka.


'Duk!'


"Ayo sayang," ajak Fariz setelah mendapati koper mereka.


Pasangan suami istri melenggang meninggalkan bagasi berjalan itu, lalu berjalan keluar mencari tour guide yang sudah dipesan Fariz.


Dari luar pagar pembatas, terdengar seseorang memanggil nama mereka. Fariz dan Nia pun langsung menghampirinya.


"Mas Fariz dan Mbak Nia?" tanya seseorang tersebut.


"Iya betul," jawab Fariz singkat.


"Saya Galih, tour guide selama mas dan mbak disini." pemuda itu memperkenal dirinya seraya melontarkan senyuman.


"Hm," gumam Fariz mengangguk.


"Silahkan mas, mbak." ajak Galih sambil menggeret koper milik mereka.


Galih tidak jauh memarkirkan mobilnya, hanya berjarak 10 meter dari pintu kedatangan.


Mobil yang membawa Nia dan Fariz beserta Galih pun melesat, menuju hotel mewah yang sudah dipesan oleh Fariz.


25 menit perjalanan, mereka pun tiba di hotel berbintang lima itu. Sungguh membuat Nia takjub.


Nia mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali, mengedarkan pandangannya keseluruh lobby hotel. Maklum, baru kali ini menginap di hotel berbintang lima sebagus itu. Biasanya hanya hotel sederhana yang pernah mereka menginap.


Fariz menarik pelan tangan wanitanya itu menuju meja resepsionis.


"Ayo sayang," ajak Fariz.


"Kamu duduk dulu, biar mas tanya ke sana." ujar Fariz kembali.


"Iya mas," balas Nia mengangguk.

__ADS_1


Fariz berjalan menuju meja resepsionis yang tidak jauh dari tempat Nia duduk.


"Good afternoon, Sir. Is there anything I can help?" sapa sang resepsionis dengan ramah dan sopan.


"Good afternoon. I have booked a room in Fariz's name," balas Fariz dengan bahasa Inggris yang lancar mengalir seperti air.


"Yes, Sir. Can you wait a moment, i'll check it." balas sang resepsionis seraya mengecek nama Fariz di komputer.


"Ok,"balas Fariz singkat.


Saat sedang menunggu resepsionis itu mengecek reservasi miliknya, dari kejauhan dua pasang mata sedang mengamati dirinya.


Lalu salah satu dari mereka berjalan mendekat ke arah Fariz. Ia merangkul lengan Fariz, membuat sang empunya terkejut dan refleks mendorong tubuhnya hingga terjatuh kelantai.


"Auh!" pekik wanita itu.


"So..sorry!" ungkap Fariz membantunya berdiri.


Namun, saat rambut wanita itu diselipkan kebelakang kuping, Fariz mengenali wajahnya. Sangat tak asing baginya.


Nia yang melihat kejadian itu langsung menghampiri suaminya, berdiri menengahi antara Fariz dan wanita itu.


"Kamu!" tunjuk Nia kearah wajah wanita itu.


"Kau! Kenapa kau selalu mengikuti aku dan istriku, hah!" ucap Fariz geram.


"Aku merindukanmu, Fariz!" ungkap wanita itu penuh kekesalan dan juga rasa malu karena terjatuh.


Fariz lalu membatalkan reservasi kamar yang sudah ia pesan sebelumnya, lalu meninggalkan hotel bersama Nia.


"Sial!" umpat wanita itu menghentakkan kakinya.


Diluar terlihat Fariz dan Nia menaiki sebuah mobil yang selalu tersedia untuk mengangkut para tamu hotel, mobil pun melesat meninggalkan hotel itu.


"Mas, apa nggak kita laporin aja dia ke polisi sekarang?" usul Nia dengan wajah cemasnya.


"Kita akan buat laporan di kepolisian Indonesia, Sayang. Setelah sampai di hotel, mas akan langsung bikin laporan." ujar Fariz meyakinkan Nia.


Mereka pun tiba disebuah hotel mewah lainnya, yang juga tidak jauh dari menara Paris. Fariz dan Nia bergegas turun dari mobil, dan langsung memesan kamar tipe president suite untuk mereka.


Setelah mendapatkan kamar, mereka langsung diantar menuju kamar oleh pelayan hotel. Tak lupa Fariz memberikan tip untuk pelayan itu setelah sampai dikamar mereka.


"MashaAllah!" ungkap Nia lagi untuk yang kesekian kalinya.


"Kamu suka kamar kaya gini, Sayang?" tanya Fariz tersenyum melihat ekspresi bahagia istrinya.


"Iya mas, nanti boleh buat kamar kita kaya gini mas?" tanya Nia tersenyum lebar.


"Apa sih yang enggak buat kamu, istriku sayang." ungkap Fariz lalu menggendong Nia keatas ranjang.

__ADS_1


Nia dengan pasrah membiarkan tubuh mungilnya digendong oleh sang suami. Kini Nia tidak akan lagi menolak apa yang diinginkan Fariz, selagi itu tidak melanggar norma dan agama.


Fariz menatap intens manik mata wanitanya itu, lalu tersenyum nakal ketika melihat raut wajah Nia yang nampak gugup.


"Kita mandi dulu ya sayang, lalu shalat. Setelah itu, baru deh!" ajak Fariz yang diakhiri menggoda istrinya itu.


"Ihh mas mulai deh," balas Nia mengusap wajah suaminya.


"Mulai apa, Sayang?" tanya Fariz.


"Mulai mesum!" ucap Nia kesal lalu bangkit dari tidurnya.


"Hehe..mesum sama istri sendiri kan nggak apa-apa, sayang." balas Fariz lalu mengajak Nia ke kamar mandi.


Pasangan suami istri itu memulai ritual sebelum melakukan percampuran diatas ranjang. Dimulai dari mandi, hingga sholat meminta restu kepada sang Semesta. Meminta agar diberikan keturunan yang soleh dan solehah.


Usai melaksanakan ritual, kedua sejoli itu memulai percampuran. Fariz dengan sangat lembut dan perlahan menggauli kekasih halalnya itu. Mengikuti jejak Nabi dalam menggauli istrinya.


Fariz dan Nia pun mencapai klimaksnya hingga beberapa kali, yang diselingi dengan saling merengkuh. Malam ini sungguh malam yang panjang bagi mereka.


Malam dimana kedua anak manusia itu saling memadu kasih. Yang diawalnya saling menolak, sampai dipertengahan hubungan hasil perjodohan mereka saling nyaman. Dan akhirnya mereka kini telah menjadi satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, hanya mautlah yang dapat memisahkan.


>>>>>>>>>>


note :


Good afternoon, Sir. Is there anything I can help \= selamat sore, tuan. ada yang bisa saya bantu.


Good afternoon. I have booked a room in Fariz's name \= selamat sore. saya sudah memesan kamar atas nama Fariz.


Yes, Sir. Can you wait a moment, i'll check it \= baik tuan. bisa anda menunggu sebentar, saya akan memeriksanya.


*****


**Hai readers 😍


Jangan bosan membaca novelku ya, dan maaf jika membosankan.


Aku tidak mengharapkan vote kalian, cukup berikan like dan komen terbaik kalian.


Agar aku lebih semangat dan lebih bagus lagi dalam menulis novelku.


Dukung kami para author 💕😍👋


Jangan lupa simak novelku yang lainnya


-Dusk at the eiffel tower


-Cinta yang tak berujung

__ADS_1


gumawo 🙏


saranghae 💕**


__ADS_2