
Fariz dan Nia yang masih menggunakan Jas Beskap dan kebayanya, dengan langkah tergesa-gesa mereka mengikuti arah para perawat yang membawa Suhendar ke ruang UGD.
"Maaf, yang lain dimohon untuk menunggu diluar ya!" ucap seorang suster dengan tegas lalu menutup tirai berwarna hijau itu.
Pak Siddiq dengan geram segera menarik pergelangan tangan fariz, menariknya keluar dari ruang UGD diikut Nia dari belakang yang berusaha melerai Fariz dan ayahnya.
"Fariz!" ucap bu Sofi parau menatap sangat dalam putra kesayangannya itu.
"Ayah udah yah! kita dengar penjelasan dari mas Fariz!" ucap Nia ditengah isaknya dan menengahi mereka.
"Yah! sudah yah...Fariz pasti punya penjelasan atas perempuan tadi!" bela bu Nurmala yang sudah mengenal bagaimana Fariz "Beri nak Fariz kesempatan untuk menjelaskan kepada kita semua yah!" imbuhnya lagi melepaskan genggaman pak Siddiq yang sangat kuat dipergelangan tangan Fariz.
"Om! tolong percaya sama Fariz! saya nggak kenal sama wanita itu," ungkap Fariz "kalau pun dia kenal saya, sudah dipastikan dia hanyalah orang suruhan tante Helen atau yang lainnya yang mencoba memisahkan saya dari Nia!" sambung Fariz mencoba pengertian ke pak Siddiq.
Dari arah pintu masuk utama Rumah Sakit, terdengar dua langkah sedang lari-lari mendekat ke arah tempat mereka berdiri.
"nia..Nia..! lo nggak apa-apa kan? hufh..hufh..!" ucap Dhea khawatir dengan Nia disisa nafasnya yang masih terengah-engah.
"Nia! itu tadi bu Megha! huftt..hufffttt..." timpal Zhilla.
"Kalian duduk dulu sini!" ajak Nia seraya menarik lengan kedua sahabatnya untuk duduk dikursi.
"Bu Megha tuh siapa?!" tanya Nia lagi.
"Nia..dia tuh.. salah satu Dosen yang akan masuk ke kelas kita!" jawab Zhilla yang masih sedikit terengah-engah.
Nia mengedarkan pandangannya ke arah bu Sofi, bu Nurmala, pak Siddiq dan Fariz yang sedang berdiri mengitari mereka.
"Lalu, bagaimana dia bisa mengenal mas Farizmu Nia?!" tanya bu Sofi meminta penjelasan.
"Nia juga nggak tau mah, Nia juga baru tau kalo wanita tadi ternyata yang akan jadi Dosen Nia!" jawab Nia lirih.
__ADS_1
Pak Siddiq yang masih menggenggam pergelangan Fariz, menghentakkannya dengan sangat kuat. Fariz meringis kesakitan, pergelangannya menjadi merah dan terasa perih akibat cengkraman yang kuat dari pak Siddiq.
"Tante..om..jangan salah faham sama pak Fariz ya!" Zhilla membela pria yang pernah menjadi gurunya itu.
"Iya om..tante.." timpal Dhea.
"Ada apa sebenarnya?" tanya bu Sofi meminta penjelasan.
Dhea dan Zhilla menceritakan kejadian setelah mereka semua pergi, saat pak Siddiq, bu Sofi, bu Nurmala dan Nia pergi membawa Suhendar ke rumah sakit, Zhilla dan Dhea baru sampai. Mereka heran kenapa semua orang pergi dengan sangat terburu-buru, lalu dari arah pekarangan rumah pak Siddiq terdengar Megha sedang berbicara sendiri. Mereka mendengar sepotong perkataan Megha, dan sangat terkejut.
***Flashback On**
Zhilla : itu kan bu Megha!
Dhea : iya, ngapain dia disini?
Zhilla : mana aku tau!
Saat Megha berjalan kearah mobilnya yang terparkir agak jauh dari rumah Nia, ia berbicara sendiri dengan tawanya yang penuh dengan misteri.
Flashback **Off
Suara rekaman**
Megha : Hahaha...kena kamu Fariz! kamu nggak akan bisa lepas lagi dariku, sayangku! Hamilku yang pura-pura ini membuat kamu jatuh kepelukanku sekarang! hahahhaa*.
Baik Fariz maupun Siddiq merasa jengkel dengan ucapan wanita yang berada direkaman suara itu. Fariz mengepal kuat tangannya, nampak aura kebencian dalam sorot matanya.
"Mas! udah sabar..kita selesaikan permasalahan mas dengan wanita itu dulu ya!" ucap Nia mencoba menenangkan Fariz
"Nggak bisa! lebih baik kita adakan akad nikah sekarang juga, didepan papa! tapi sebelumnya, perdengarkan rekaman suara tadi!" Fariz masih dengan emosinya yang menggebu-gebu berjalan menuju bilik Suhendar.
__ADS_1
Secara bersamaan, Dokter melangkahkan kakinya untuk memanggil mereka memberitahukan keadaan Suhendar.
"Ah..keluarga sudah diperbolehkan menjenguk!" ucap Dokter itu "Saya permisi dulu!" imbuhnya lagi seraya membungkuk hormat.
"Terimakasih Dokter!" balas Fariz.
Fariz diikuyi yang lainnya memasuki bilik tirai Suhendar, ia hendak menjelaskan siapa wanita yang datang mengacaukan pernikahannya tadi pagi. Namun Suhendar mengacuhkannya, ada rona kesal campur marah dan benci di wjahnya.
Pak Siddiq sebagai sesama lelaki yang dekat dengan Suhendar, mencoba menjelaskan secara perlahan.
"Mas, wanita itu penipu!" ungkap Pak Siddiq "Dia menjebak Fariz dengan berpura-pura hamil, mengandung anak Fariz!" jelasnya lagi.
"Tau dari mana kamu?!" tanya Suhendar dengan suara lirih.
"Mereka punya rekaman suaranya!" tunjuk pak Siddiq menunjuk dua mantan siswinya.
Dhea pun mulai memutar rekaman yang ada dalam ponselnya, dan terdengarlah rekaman suara Megha yang hendak menjebak Fariz.
Dengan rasa menyesal dan bersalah, Suhendar menarik lengan putranya itu dan memeluknya sangat erat.
"Betapa bodohnya papa! yang langsung percaya omongan busuk dari wanita seperti dia!" sesalnya dalam isak tangisnya "maafin papa nak!" sambungnya.
"Lupakan pa, Fariz ngerti dengan perlakuan appa tadi!" ucap Fariz membalas pelukan Suhendar.
"Sekarang suruh pak penghulunya datang kemari, kalian akad disini saja!" usul Suhendar.
Pak Siddiq pun kembali menghubungi penghulu, tak lama kemudian datanglah sang penghulu dengan tambahan dua orang yang akan menjadi saksi ikear janji suci Fariz dan Nia.
“Saya terima nikah dan kawinnya Alnia Hendrawan Binti Assiddiq hendrawan dengan maskawinnya yang tersebut diatas tunai.” ucap Fariz dengan lantang dan lancar, satu tarikan nafasnya
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya pak penghulu.
__ADS_1
"Sah!" jawab para saksi yang dibawa oleh pak penghulu dari KUA tempat ia bekerja.
Dengan ucapan syukur dan ditutup dengan doa-doa, maka resmilah Fariz dan Nia sekarang menjadi pasangan yang halal. Nia mencium tangan Fariz yang kini menjadi suaminya, begitupun Fariz mencium kening mulus Nia istrinya.