Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Gagal lagi!


__ADS_3

Usai saling mendekap dan memadu kasih, pasangan pengantin baru itu menyiapkan barang-barang yang akan di bawa untuk berbulan madu ke Paris.


Nia menyiapkan pakaian yang akan dipakainya selama di Paris, tak lupa membawa beberapa peralatan make up nya dan barang-barang kewanitaannya.


Usai menyiapkan pakaiannya, Fariz dengan santai mendekati Nia dan menanyakan pakaian untuknya.


"Sayang, baju mas udah kamu siapin juga kan?" tanya Fariz.


"Em..emangnya mas nggak bawa koper sendiri?" tanya Nia mendongakan kepalanya menatap Fariz.


"Yah, masa harus pisah sih sayang." rengek Fariz.


"Ya udah, sini baju mas satuin di koper Nia ya. Mas jangan sedih lagi dong," bujuk Nia mengelus lengan kokoh Fariz.


"Makasih sayang," balas Fariz seraya mengecup kening wanitanya.


Tanpa sepengetahuan istrinya, Fariz memasukkan pula beberapa lengrie dan baju tidur tipis yang dihadiahkannya untuk seserahan Nia. Dia mengembangkan senyum lebarnya, membayangkan istri mungilnya itu menggunakan lengrie atau pun baju tidur yang dibawanya itu.


Usai berbenah, sepasang kekasih halal itu beranjak lalu mendaratkan tubuh mereka diatas ranjang yang sangat empuk itu. Fariz merengkuh tubuh mungil istrinya membelai dengan sangat lembut rambut Nia. Tercium bau harum shampoo marshmallow kesukaan Nia, membuat Fariz betah untuk menyiuminya.


Nia yang sudah merasakan ngantuk akibat buaian sang suami, memejamkan matanya memasuki peraduan dan berharap pagi cepat datang karena ia sudah tidak sabar ingin segera menginjakkan kakinya di kota penuh cinta itu.


*****


Pagi harinya Fariz mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, meraba sisi samping kirinya yang hanya menyisakan bantal dan guling.


Fariz melenguh dan beringsut, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengedarkan pandangannya, tapi ia tidak juga menemukan sosok wanita yang sangat dicintainya itu.


Kemana istriku? gumamnya dalam hati.


Lalu dari arah kamar mandi muncul sesosok wanita cantik berkulit putih, hanya mengenakan handuk yang melilit ditubuhnya dan juga rambutnya yang basah.


Fariz yang mendapat pemandangan indah pagi itu menelan salivanya, matanya tak berkedip sekalipun.


"Mas udah bangun, buruan mandi terus kita sarapan." ujar Nia seraya mendekati lemari pakaiannya.


"I.iya sayang!" balas Fariz yang sudah tidak konsentrasi akibat pemandangan tadi.


"Sayang!" panggil Fariz dengan suara beratnya.


"Hem, kenapa mas?" tanya Nia menoleh kearah Fariz.


Fariz pun turun dari ranjangnya, berjalan mendekati Nia yang masih dengan lilitan handuknya.


Fariz yang kala itu merasakan ada yang mengganjal diantara kedua pahanya, dengan segera merengkuh Nia menenggelamkan kepalanya di ceruk sang istri.


Tercium bau harum sabun vanila di tubuh Nia, membuat Fariz mencumbui setiap inchi tengkuk wanitanya. Nia yang mendapati perlakuan tak biasa itu, merasakan desiran disekujur tubuhnya.


"Sayang," bisik Fariz ditelinga Nia.


"Kenapa mas," tanya Nia dengan raut wajah gugup.

__ADS_1


"Pagi-pagi begini kamu udah menggoda mas, sayang!" ucap Fariz masih dengan bisiknya.


"Meng..goda gimana maksud mas?" tanya Nia terbata-bata


"Kita lakukan sekarang ya sayang," ucap Fariz lirih memohon.


"Tapi mas.." ucapan Nia dipotong oleh Fariz.


"Kita masih banyak waktu untuk ke bandara sayang!" potong Fariz yang kini menggendong Nia.


Nia hanya diam, dengan merangkul leher sang suami dengan satu tangannya. Fariz merebahkan tubuh Nia, dan mulai mencumbui setiap inchi tubuh wanitanya dengan sangat lembut.


Lalu ia menyingkap handuk pink yang sedari tadi terlilit ditubuh Nia, dan terpampang jelas pemandangan yang begitu indahnya.


Dua gundukan dengan kacang merah disetiap puncaknya, dan juga tampak hutan yang tidak lebat menutupi lembah kenikmatan.


Nia dengan refleks menutupi bagian-bagian itu, wajah nya merona bagai udang rebus. Jari-jemari Fariz mulai menelusuri setiap lekukan tubuh wanitanya, sambil sesekali memerah dua gundukan itu.


"Mas, Nia malu ih!" panggil Nia dengan suara lirih dan bergetar.


"Nggak apa-apa sayang, kenapa kamu harus malu." sahut Fariz masih dengan aktifitasnya yang memberikan sensasi luar biasa ditubuh Nia.


"Mas! Kita kan,," ucap Nia terputus.


"Kita apa sayang, um!" sahut Fariz yang terus saja menstimulus tubuh wanitanya.


"Mas mulai masuk ya sayang," lanjut Fariz yang siap untuk menerobos pintu kenikmatan surga dunianya.


Heuh! Mengganggu saja! gerutu Fariz dalam hatinya.


Fariz pun memulai aktifitasnya lagi, mencumbui ceruk Nia, lalu turun ke dada. Mengitari dua gundukan itu bergantian, sambil sesekali menyesap dan menjilati kacang merah yang berada di puncaknya.


Setelah puas bermain-main diarea itu, Fariz menurunkan kembali cumbuannya mendekati pembatas antara lembah kenikmatan dan lahan mulus itu.


Saat benda 'sakti' Fariz mulai mendekati gerbang kenikmatan, terdengar lagi suara ketukan pintu dari luar.


'Tok..Tok..Tok!'


"Permisi tuan dan nyonya muda!" ucap seseorang dari balik pintu.


"Iya tunggu!" sahut Fariz dengan nada kesal.


Nia yang terpejam, seketika melebarkan matanya lalu mendorong pelan tubuh Fariz.


"Tuh kan, malah gagal. Kasian kamu mas," ejek Nia seraya bangkit melilitkan kembali handuknya dan meraih cardigan yang berada ditepi ranjangnya lalu berjalan membuka pintu.


'Krek..Krek.. Ceklekk..'


"Oh bi Ani! ada apa bik?" tanya Nia masih dengan rona merah dipipinya.


Bi Ani yang melihat wajah merona nyonya mudanya dan juga balutan handuk di tubuhnya seketika tersenyum malu, dan menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Bibi, ada apa? kenapa malah senyum-senyum gitu?" tanya Nia bingung.


"Anu nyonya..itu ada," ucap bi Ani seraya menunjuk leher jenjang Nia yang ternyata terdapat stempel rona merah ulah Fariz.


"Eh!" Nia tercekat lalu menutupi bagian lehernya dengan menaikkan cardigannya.


Awas kamu mas Fariz! gerutu Nia dalam hati.


"Maaf nyonya muda!" ucap bi Ani kemudian tertunduk lagi.


"Ehem.. nggak apa bik. Tapi ada apa bik?" tanya Nia lagi.


"Sarapan sudah selesai nyonya, dan juga mang sapto udah siap dengan mobil untuk mengantar tuan dan nyonya muda!" ungkap bi Ani.


"Oh iya bik, sebentar lagi Nia dan mas Fariz turun ya bik." balas Nia.


"Baik nyonya, saya permisi." ucap bi Ani lalu membalikkan badannya masih dengan senyum-senyum lalu menuruni anak tangga untuk kembali ke dapur.


Nia menutup pintunya dengan sedikit kesal 'Dubrakk!' dan menguncinya lalu berjalan kearah lemari dan meraih baju yang akan dikenakannya.


Fariz yang memperhatikan gerak-gerik sang istri mendekatinya, dan memeluknya dari belakang.


"Mas!" seru Nia.


"Um, kenapa sayang? apa kata bi Ani?" tanya Fariz masih bergelayut manja dibelakang tubuh Nia.


Nia melepaskan tubuhnya dari rengkuhan sang suami, "Liat nih akibat perbuatan mas yang nggak sabaran!" ucap Nia kesal seraya menunjuk lehernya.


"Oh itu, itu stempel dari mas sayang. Kamu emang nggak suka?" tanya Fariz santai yang membuat Nia semakin kesal.


"Ihh mas! Nia malu tau, tadi bik Ani jadi senyum-senyum gitu liatin Nia!" cerocos Nia panjang lebar "Mana masih handuk-handukan gini lagi!" sambungnya lagi.


"Hahaha..maaf sayang! mas mana tau kalo bik Ani bakal datang dan liat stempel yang ada dileher kamu," sesal Fariz seraya mengusap tanda merah yang tergambar dileher wanitanya.


"Huft! sebel!" Nia melengos dan mengenakan pakaiannya.


"Mas mandi sana! entar kita telat mas!" ucap Nia seraya mendorong tubuh sang suami ke kamar mandi.


"Iya..iya sayang, mas mandi dulu ya!" ujar Fariz lalu mengecup bibir merah sang istri.


"Huh! masih aja ngambil kesempatan!" cibir Nia lalu kembali mendekati lemarinya dan kembali membenahi kopernya.


*****


Nia dan Fariz sudah siap dengan stylenya yang fashionable namun tetap santai, mereka mengenakan kaos berwarna putih dengan motif hati setengah yang bila saling berdempetan akan menjadi hati yang menyatu.


Celana jeans berwarna biru dan sepatu kets membalut kaki mereka, tak lupa Nia memakai jilbab dengan warna senada dengan celana jeansnya dan juga polesan makeup yang soft.


Sepasang kekasih itu menuruni anak tangga, Fariz dengan sebelah kanan tangannya merangkul pinggal Nia dan sebelahnya lagi memegangi koper mereka.


Dengan sigap mang Sapto meraih koper yang sedang dipegangi tuan mudanya, lalu Nia dan Fariz berjalan ke meja makan.

__ADS_1


Dua piring nasi goreng sudah tersaji disana, ditemani segelas teh masing-masing untuk mereka. Nia dan Fariz mulai menyantap sarapan mereka, seperti biasa tanpa ada suara yang keluar dari mulut mereka. Hanya suara dentingan demi dentingan yang terdengar samar-samar.


__ADS_2