Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Ditinggal


__ADS_3

Nia pun bangkit dari duduknya setelah menyalami kedua orangtuanya. Di lipatnya mukenah yang di pakainya dengan rapi, disusunnya di atas rak yang berisi mukenah dan AL-Qur'an. Lalu Nia bergegas menuju kamarnya untuk belajar dan mengerjakan tugas.


"Bu..yah..Nia ke kamar ya." pamit Nia.


"iya nak, kamu harus belajar yang lebih rajin lagi. Karena sebentar lagi kan UN." ucap pak Siddiq dengan sorot matanya yang penuh pengharapan.


"iya nak!" timpal bu Nurmala mengelus pundak Nia.


Ah... ibu ayah..jangan menunjukkan wajah seperti itu huhuhu. Gumam Nia ketika melihat wajah kedua orangtuanya.


Nia pun berjalan meninggalkan pak Siddiq dan bu Nurmala di ruang shalat. Dari arah ruang shalat dua pasang mata yang sudah mulai terlihat ada sedikit lipatan-lipatan kecil mengamati putrinya sampai hilang dari peredaran penglihatannya.


"Yah, apa..." bu Nurmala tertunduk mengurungkan niatnya untuk membahas tentang perjodohan anak gadisnya itu.

__ADS_1


"ada apa bu? koq gak jadi bicara." ucap pak Siddiq lembut sambil menatap lekat istri yang sudah menemaninya selama 35 tahun itu.


"em..gak jadi yah, ibu lupa mau ngomong apa tadi hhhh" sambil tersenyum ke arah suaminya.


"hmm..yasudah kalau gitu, kita istirahat yuk bu." mengelus pucuk kepala istrinya lalu mengecup keningnya.


"iya yah." bu Nurmala mengangguk.


Di dalam kamar, Nia sibuk dengan buku pelajarannya. Dia merangkum di sebuah catatan kecil pelajaran yang akan di ujiankan nanti, supaya gampang ia bawa kemana-mana. Biarpun sedang bepergian Nia tetap bisa sambil belajar.


"huufft...kenapa harus begini..ah!" gumam Nia pelan.


Nia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menyilangkan tangannya di atas meja dan menenggelamkan wajahnya. Waktu terus berjalan, Nia pun tak sadar tertidur di mejanya.

__ADS_1


Bu Nurmala yang belum mengantuk berjalan ke kamar anak semata wayangnya itu, namun di dapatinya Nia sudah tertidur di atas meja.


"Nia anakku, maafin ibu yang ga bisa berbuat apa-apa. Tapi ibu yakin dengan pilihan ayahmu, dia pasti akan menjadi yang terbaik untuk kamu sayang!" ucapnya pelan sambil mengelus-elus kepala putrinya.


Keesokan paginya, Nia bangun shubuh seperti biasa dan melakukan rutinitas sebelum berangkat sekolah. Dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan kedua orangtuanya. Di ketuknya pintu kamar orangtuanya, namun tak ada jawaban.


Lalu Nia berjalan menuju dapur, di lihatnya bi Puji sedang membersihkan ayam yang sudah di potong-potong.


"bi, liat ibu sama ayah gak? koq aku ketuk-ketuk pintu kamarnya ga ada jawaban ya?!" sambil sesekali melihat sekeliling.


"oh..ibu sama bapak tadi berangkat awal banget Non. Katanya mau ada pertemuan apa gitu!" jawab bi Puji sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"emm gitu ya, koq tumben gak bilang sama Nia ya bik kalo mau berangkat pagi-pagi banget." mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Bi Puji hanya tersenyum ke arah Nia, ia pun akhirnya bergegas menyiapkan sarapannya. Nia biasanya sarapan hanya dengan roti isi selai strawberry dan minum susu cokelat kesukaannya. Dia tidak biasa sarapan berat makanya badannya sangat terlihat ideal.


Setelah selesai sarapan, Nia memanaskan motor maticnya yang ia dapatkan ketika ulangtahunnya yang ke 17, bukan Nia yang menginginkannya melainkan inisiatif orangtuanya memberikan hadiah motor itu. Supaya Nia bisa berangkat ke sekolah saat tidak ada yang bisa mengantarkannya ke sekolah.


__ADS_2