
Setelah beberapa lama memanaskan motornya, Nia pun mengendarai motornya ke sekolah.
Di Sekolah
Setelah sampai di sekolah, Nia memarkirkan motornya di pekarangan parkir sekolah. Di sebelahnya terparkir motor pak Siddiq, ia merasa heran kenapa ayahnya hari ini tidak mengajak bareng pergi ke sekolah dan tidak berpamitan. Ibunya pun begitu, sehingga ia harus berangkat ke sekolah sendiri menggunakan motornya.
Tumben ibu sama ayah berangkat pagi-pagi, gak pamitan sama aku juga. Batin Nia dalam hatinya.
Nia diam sejenak memperhatikan sepeda motor milik ayahnya itu, tak berapa lama lamunannya buyar seketika dan terperanjat karena ada yang menyentuh pundaknya. Nia menoleh ke belakang, ia mendapati dua sahabatnya sudah berada di belakangnya.
"Wah ni anak pagi-pagi udah ngelamun aja, kenapa lu Nia? kita panggilin dari tadi lu gak nyaut eh ternyata lagi ngelamun." tanya Dhea heran, ia dan Zhill memanggil-manggil Nia namun tidak menyaut. Makanya mereka langsung mendekati Nia.
"Eh..iya maaf, a..aku gakpapa koq. Yaudah kita masuk ke kelas yuk guys." ajak Nia kepada kedua sahabatnya.
"Ayookk kita cuss!" jawab Zhill dan Dhea dengan semangat.
Di Kelas
Nia dan kedua sahabatnya bercengkrama sebelum bel masuk berbunyi, 10 menit kemudian bel masuk pun berbunyi.
__ADS_1
Kriiiinnggg...kriinngg...kriiinnggg...
Seluruh siswa memasuki kelasnya masing-masing, para gurupun bergegas memasuki ruangan kelas yang akan mereka ajarkan.
Tak lama kemudian muncul lah pak Siddiq bersama Ketua Yayasan Sekolah Nusa Bangsa sekaligus pemilik Sekolah Nusa Bangsa. Semua murid di kelas itu memperhatikan mereka yang sudah berdiri di depan kelas.
"Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh!" salam pak Siddiq dengan tegas.
"Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh." jawab para murid.
"Anak-anak hari ini kita kedatangan tamu yang sangat spesial di sekolah kita ini, Beliau adalah ketua yayasan sekaligus pemilik Sekolah Nusa Bangsa." ucap pak Siddiq lalu melihat ke seluruh kelas. "Kedatangan beliau kesini adalah untuk memantau keadaan sekolah sekaligus memantau persiapan UN untuk kelas XII" lanjut pak Siddiq.
"Terimakasih pak Siddiq atas waktu dan kesempatannya." ucap pak Suhendar sambil tersenyum ke arah pak Siddiq.
selama 30 menit Suhendar memberikan wejangan-wejangan kepada para murid XII dengan di selingi pertanyaan-pertanyaan dari para murid dan langsung di jawab oleh Suhendar.
Setelah selesai memberikan wejangan, Suhendar mengakhirinya dengan berdoa dengan keyakinan mereka masing-masing.
Lalu para murid pun di pulangkan agar dapat mempersiapkan segalanya untuk menghadapi UN. Setelah menyalami kedua orangtua itu ketika Nia serta kedua sahabatnya hendak keluar kelas, tiba-tiba pak Siddiq menahan Nia untuk tetap dalam kelas. Sedang Dhea dan Zhill di perbolehkan pulang.
__ADS_1
Deg! kenapa ya? koq aku ga di bolehin pulang? apa salah aku, dari tadi aku hanya diam dan gak buat masalah apapun deh kayanya! Batin Nia ketika ayahnya menahan dirinya.
"Ada apa yah.. emh maaf maksud Nia ada apa pak?" Nia tak sengaja memanggilnya dengan sebutan ayah, dia lupa bahwasannya sekarang masih berada di sekolah.
Mendengar ucapan Nia, Siddiq dan Suhendar hanya tersenyum.
"Nia, kenalkan ini pak Hasbi Suhendar. Calon ayah mertuamu!" menoleh ke arah Suhendar dan menunjuknya dengan kelima jarinya.
Sontak Nia terbelalak mendengar ucapan ayahnya bahwasannya ia akan menjadi seorang menantu dari orang yang kaya rayanya tidak akan pernah habis 7 turunan.
"Ehm..eh..harus secepat ini yah??" Nia menanyakan hal yang sembarang.
"Cepat gimana maksud kamu nak?" tanya pak Siddiq heran.
"Em..maksud Nia ketemu dengan calon mertua Nia yah." tertunduk malu di hadapan kedua lelaki paruh baya itu.
"O.ho.. ya sekalian pak Suhendar lagi berkunjung kesini, ayah ingin memperkenalkan kamu terlebih dahulu dengan calon ayah mertuamu ini." menjelaskan pada Nia.
"Iya nak Nia, tadinya saya ingin mengajak Fariz sekalian kesini. Tapi Fariz sedang banyak urusan di perusahaan, jadi tidak bisa ikut dengan saya." terang Suhendar.
__ADS_1
Tunggu,siapa tadi namanya? Fariz? guru baru yang di bilang Dhea VVV killer itu?? Ya Allah...bagaimana ini, kalau benar Fariz itu yang di maksudkan. Bisa-bisa aku kena serangan jantung karena segala aturannya huufftt! Gumam Nia dalam hatinya mendengar nama Fariz.