
"Emh..maaf jadi merepotkan mas Fariz!" ucap Nia.
"Sudah kewajiban saya!" balas Fariz "Kalau gitu saya pamit, saya kesini lagi besok!" lanjut Fariz.
"Terimaksih nak Fariz, hati-hati di jalan ya!" sahut bu Nurmala.
"Sama-sama tante!" jawab Fariz.
"Terimakasih mas!" ujar Nia.
Fariz mendekati Nia, di ciumnya kening Nia dengan lembut. Membuat Nia jadi salah tingkah, dia malu karena disana bu Nurmala yang memperhatikan Nia dan Fariz .
"Mas! apaan sih, belum muhrim tau!" ucap Nia.
"Saya hanya mencium keningmu, itupun tertutup oleh jilbabmu!" tunjuk Fariz ke kening Nia.
"Oh..hehe iya!" Nia memegang keningnya yang memang tertutup oleh jilbab.
"Duh..kalian ini, romantis sekali! kamu juga Fariz main nyosor aja, sabarr masih beberapa bulan lagi!" ujar bu Nurmala menepuk pundak Fariz.
"Hehehe..gak sabar tante, pengennya di cepetin aja bisa gak sih?!" sahut Fariz.
"Nia masih sekolah, lagu pula sebentar lagi dia UN. Setelah itu barulah kalian menikah!" balas bu Nurmala.
"Hm.." Fariz manggut-manggut.
"Mas Fariz tadi katanya mau pulang, Nia juga mau mandi terus istirahat!" ucap Nia.
"Em..jadi ceritanya kamu ngusir saya?!" menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Bukan mas, kan tadi mas sendiri yang pamit mau pulang!" jawab Nia.
"Ok..ok..saya pulang, tapi jangan nyariin saya setelah ini ya!" ucap Fariz sambil berdiri.
"Maksud mas?" tanya Nia heran.
"Saya yakin, pasti setelah saya pulang kamu akan merindukan saya!" ujar Fariz yakin.
"Ekhm..hahaha...mas Fariz sok iyes dehh!" Nia terkekeh.
"Nia, awas kalo kamu nanti tanya-tanya ke ibu tentang Fariz setelah dia pulang ya!" goda Nurmala.
"Ibuu..." mengerucutkan bibirnya.
"beneran Tante? Nia nanyain Fariz?" tanya Fariz antusias.
"Hem.." bu Nurmala mengangguk.
Nia menghela nafasnya, saat Nurmala membocorkan selama ini Nia selalu bertanya tentang Fariz.
"Kalau begitu, saya permisi! Niaku sayang, kakanda pamit ya!" goda Fariz.
"Mas Fariz!" Nia membulatkan matanya saat Fariz menggodanya seperti tadi.
Bu Nurmala dan Fariz terkekeh melihat ekspresi wajah Nia,
"Dulu aja waktu mau di jodohin nangis bombai kek mau di apain aja! sekarang kerjanya nanyai kamu terus, Riz!" ucap bu Nurmala.
"Ibuuu, udah ahh..jangan di bongkar semua!" Nia cemberut saat ibunya membuka kartu Nia.
__ADS_1
Fariz dan Nurmala kembali tertawa saat melihat sikap Nia.
"Yasudah, saya pamit tante..Nia..Assalamualaikum!" pamit Fariz.
"Waalaikumussalam..maaf mas, Nia gak bisa ikit nganter ya! masih pusing banget." ujar Nia.
"iya gak apa-apa Nia, kamu istirahat ya sayang!" melambaikan tangannya ke arah Nia.
"Iya mas!" Nia membalas lambaian tangan Fariz, pipi Nia memerah saat mendengar kata-kata sayang yang di ucapkan oleh Fariz.
Jantung Nia bergetar, pipinya semakin memerah mengingat saat Fariz mencium keningnya. Kini pikiran Nia di penuhi oleh Fariz, setelah apa yang ia lalui selalu dekat dengan Fariz.
Tak kenal maka tak sayang? sudah kenal makin sayang! gumam Nia.
Nia menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa malu sendiri mengingat kejadian-kejadian yang terjadi antara dirinya dan Fariz.
"Apa aku mulai jatuh cinta sama mas Fariz? guruku sendiri?" gerutu Nia.
Nia pun bangkit dari ranjang empuknya, dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah selesai mandi, Nia keluar menuju dapur mencari makanan untuk makan siang.
"Cari apa nak?" tanya bu Nurmala.
"Nia lapar bu! pengin bikin makanan." jawab Nia.
"Yasudah biar ibu yang masakin, kamu tunggu di meja makan aja! kamu jangan banyak aktifitas dulu nak." balas bu Nurmala.
"Tapi bu..." Nia tidak sempat menyelesaikan bicaranya.
"Nurut gak sama ibu?" ucap bu Nurmala.
__ADS_1
"Iya iya ibuku sayang.." balas Nia bergelayutan manja memeluk Nurmala dengan manja lalu mecium pipi ibunya itu.