
"Baik! selama mata pelajaran saya berlangsung diharapkan semua murid mematuhi aturan yang saya berikan!" sambil berjalan berkeliling dari satu meja ke meja yang lain.
"Aturan pertama kalian harus disiplin, tidak ada yang boleh terlambat saat pelajaran saya di mulai, tidak ada yang boleh memotong ataupun bertanya selama saya memberikan materi kecuali setelah selesai memberikan materi, selanjutnya semua ponsel yang kalian miliki harus dikumpulkan dalam keranjang ini!" sambil menunjuk sebuah keranjang berukuran sedang yang muat untuk menaruh barang.
"what?! gak boleh megang hp selama pelajaran dia??" Dhea mengomentari sambil berbisik kepada kedua sahabatnya.
Nia dan Zhill hanya saling pandang dan mengangkat bahu, sebenarnya mereka juga tidak setuju dengan peraturan terakhir kenapa harus dikumpulkan di depan. Kenapa tidak di matikan saja.
"Ada yang keberatan dengan peraturan yang barusan saya tetapkan??" melanjutkan pembicaraannya.
"Maaf pak.. apakah peraturan yang terakhir bisa di tawar?" Tanya Nia sedikit ragu.
"Ada apa dengan peraturan itu?" jawab Fariz.
__ADS_1
"Tidak apa-apa pak, hanya saja boleh kah kami tetap menyimpannya dan mematikan ponsel kami selama pelajaran bapak?" tanya Nia lagi dengan sedikit takut dan ragu.
"Tidak! ponsel akan mengganggu kalian selama pelajaran berlangsung. Makanya saya beri peraturan tersebut!" jawab Fariz dengan tegas.
"B..b..baik pak!" tertunduk mendengar jawaban Fariz.
"Baiklah saya rasa cukup dengan perkenalan ini, saya akan melanjutkan untuk mulai pelajaran. Silahkan keluarkan buku kalian!" kembali ke mejanya dan mulai memberikan materi pelajaran.
Jam sudah menunjukan pukul 13.50 WIB sekolah pun telah usai, murid-murid berhamburan keluar kelas dan pulang .
Seperti biasa, 3 Dara itu pulang bareng menaiki mobil Zhill. Yaa Zhilla adalah putri tunggal juga sama seperti Nia, Fariz dan Dhea, namun kekayaannya tidak seperti orangtua Fariz. Orangtua Zhill adalah wirausahawan di bidang Bakery, tapi itu juga tidak membuat Zhill menjadi anak yang sombong dan serakah. Sedangkan Dhea sebenarnya memiliki adik kembar, namun saat usia mereka 1,5 tahun, adik Dhea terserang penyakit Leukimia yang membuat mereka kehilangan nyawanya sehingga menjadikan Dhea anak tunggal.
"Kemana dulu nih? atau mau langsung pulang?" tanya Zhill kepada 2 sahabatnya.
__ADS_1
"Aku langsung pulang aja deh Zhill, gak tau deh kalau Dhea." jawab Nia santai.
"Sama..gue langsung pulang juga, percuma juga gue ajakin kalo gak lengkap kan.." menoleh kebelakang dimana sahabatnya duduk.
"Yaudah kalo gitu, pak Min kita langsung pulang juga ya..tapi anterin mereka dulu ya pak!" titah Zhill kepada supir nya.
"Baik Nona Zhill!" menurut perintah Zhill.
Selama perjalanan suasana hanya hening, biasanya Dhea yang paling ribut di antara 3 Dara itu, tapi entah kenapa sejak pelajaran Fariz tadi dia hanya diam tanpa kata. Mungkin dia Shock Terapi mendapat guru yang killer nya melebihi pak Siddiq.
"Dhe..kamu tumben diem aja dari tadi, biasanya paling nyerocos..hhhh" Zhill memecah keheningan dengan menggoda Dhea.
"Hahaha...lagi malas aja gue, kek gak semangat gitu semenjak kedatangan guru very very very killer itu, killer nya ngelebihin bapak lo Nia..kalo pak Fariz tuh angker! hhhh" tukas Dhea geram.
__ADS_1