Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Undangan Pernikahan


__ADS_3

2 minggu sebelum hari pernikahan, mereka menyebar luaskan undangan pernikahan mereka kepada teman dan sanak saudara. Tak lupa Nia membagikan undangannya kepada dua sahabatnya, guru-guru dan juga staff yang ada disekolah.


Saat ini Nia sedang berada dirumah Dhea, Dhea dan Zhilla sangat senang mendengar sahabatnya akan segera menikah, namun mereka juga merasa sedih, karena Nia pasti tidak akan sebebas dulu. Karena Nia akan segera memiliki kehidupan rumah tangga, yang harus selalu menuruti perkataan suami dan sulit untuk diajak bepergian.


"Ciyee..selamat ya Nia! sebentar lagi kamu bakal jadi istrinya orang super kaya!" goda Zhilla mencolek-colek Nia.


"Apa sih kamu Zhill!" balas Nia dengan pipinya yang mulai merona.


"Jangan lupa cepet-cepet kasih kita keponakan!" gantian Dhea menggoda Nia.


"Ini lagi satu! nikah juga belom, udah bahas-bahas ponakan!" pekik Nia membulatkan matanya mendengar permintaan Dhea.


"Hahahhaa.." tawa Dhea dan Zhilla pecah melihat ekspresi Nia.


"Puass pada yee...lanjut aja teruss!" sindir Nia.


"Hahaha...calon manten ngambek!" ejek Dhea.


"Terserah deh!" Nia membulatkan matanya lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk Dhea.


"Hahaa..iya..iyaa..yaudah kita makan dulu yuk! nyokap gue udah masak buat kita!" ajak Dhea untuk makan siang.


"Iya nih, aku juga udah laper!" timpal Zhilla yang sedari tadi mengelus-elus perutnya yang sudah terasa lapar.


"Hm.." gumam Nia beranjak turun dari tempat tidur Nia.


Di ruang makan, mama Dhea sudah selesai menyiapkan makanan untuk mereka.


"Jadi ngerepotin tante nih, harus masak buat kita!" ucap Nia sopan.


"Gak apa-apa Nia! kalian juga kan jarang-jarang datengnya, lagian tante seneng kalian dateng. Dhea jadi ada temennya kalau dirumah!" ungkap mama Dhea tersenyum ke arah 3 dara itu bergantian.


"Hehe..iya tante!" ucap Nia membalas senyumannya.


"yasudah kita makan dulu, nanti lanjut lagi ngobrolnya!" ajak mama Dhea.


Mereka menikmati santapan yang sudah disiapkan oleh mama Dhea, tak ada suara yang terdengar dari mulut mereka, hanya suara dentingan sendok garpu dan piring saling beradu yang terdengar.


Setelah selesai makan, Nia membantu membereskan piring seperti yang biasa ia lakukan dirumahnya. Namun mama Dhea menolak, karena Nia adalah tamu dirumahnya.

__ADS_1


"Nia udah, biar bik imah aja beresin nanti!" ucap mama Dhea.


"Gak apa-apa tante! Nia udah biasa." sahut Nia seraya menumpuk piring-piring.


"Gak usah nak! udah kalian balik ke kamar gih, atau nonton tv!" sanggah mama Dhea sembari menahan tangan Nia yang sedang menumpuk piring kotor.


"Iya nih si Nia! lo kerajinan banget dah!" sindir Dhea.


"Ya aku gak enak aja sama mamamu," sahut Nia "masa habis makan main ngibrit aja!" imbuhnya lagi.


"Hm.." gumam Dhea menepuk keningnya sendiri.


"Yaudah kita balik kekamarmu yuk Dhe!" ajak Zhilla.


"Yuk ahh!" timpal Dhea sembari menarik lengan kedua sahabatnya itu.


"Dhe, nonton drakor kuy!" ajak Nia yang sangat menggemari drama korea sama seperti dua sahabatnya itu.


"Ayok lah! kita nonton..." gumam Dhea "nah ini aja." sambungnya sambil menunjuk sebuah judul drama korea yang ada dilayar laptopnya.


"The..world of..apa itu lanjutannya? gak keliatan aku!" tanya Nia menyipitkan matanya untuk memfokuskan penglihatannya.


"Ohh..yang tentang pelakor-pelakor itu?" tanya Nia meminta penjelasan.


"Hm..seru deh! selama ini kan drakor tentang fantasy, fiksi, CEO cinta sama orang biasa! nah kalau ini mengandung kehidupan nyata!" jelas Dhea panjangvlebar.


"Ohh gitu!" Nia manggut-manggut mendengar penjelasan dari Dhea.


Dhea pun memutar film tersebut, mereka fokus pada drama yang selalu bisa membuat setiap orang yang menyaksikannya bermain dengan emosionalnya sendiri. Kadang menangis, tertawa, senyum-senyum sendiri, bahkan membuat Dhea ngomel-ngomel tidak jelas.


"Padahal cuman drama, tapi nguras emosional kita banget!" ucap Zhilla yang kini sedang mengusap setitik air mata saat menyaksikan adegan yang membuat mereka sedih.


"iya, apa gini ya setiap kehidupan rumah tangga?" sahut Nia yang ikut menitikkan air mata.


"Hm.." gumam Dhea yang tidak bisa berkata-kata karena menahan tangisnya.


"Semoga kehidupan rumah tangga kamu nanti, nggak kaya gitu ya Nia!" ucap Zhilla.


"Aamiin! kalian juga!" sahut Nia sembari menggenggam tangan kedua sahabatnya.

__ADS_1


Sudah berjam-jam mereka menyaksikan drama yang sangat menguras emosial setiap yang menyaksikannya. Hari sudah semakin sore, Nia dan Zhilla berpamitan untuk pulang. Sebelum pulang, mama Dhea memberikan sesuatu pada Nia.


"Nia!" panggil mama Dhea.


"Iya tante, ada apa?" tanya Nia membalikkan badannya menghadap mama Dhea.


"Ini untuk kamu nak!" menyerahkan sebungkus kain yang didalamnya terdapat sepasang bebek berwarna gold terbuat dari kayu.


"Apa ini tante?" tanya Nia bingung melihat hadiah yang diberikan mama Dhea untuknya.


"Itu hiasan bebek Nia, konon kata orang chinesse pajangan emas bebek berpasangan ini menyimbolkan cinta sejati. Jadi tante ingin menghadiahkannya untuk kamu!" terang mama Dhea menberikan penjelasan.


Keluarga dan saudara dari mama Dhea merupakan keturunan Chinesse, jadi ia mendapatkan hiasan itu turun temurun dari keluarga sebelumnya.


"Tapi kenapa harus kasih ke Nia tante? kenapa gak ke Dhea aja?" tanya Nia semakin bingung.


"Kamu kan sudah mau menikah, jadi tante kasihnya ke kamu! Dhea entah kapan jodohnya akan datang! tante berharap Dhea juga segera menemukan jodohnya! begitu juga dengan kamu Zhilla." ungkap mama Dhea seraya melirik anak gadisnya itu.


"oh begitu ya tante, terimakasih tante! Nia akan menjaga dan memajangnya dirumah Nia nanti setelah tinggal sama mas Fariz!" ucap Nia lembut sambil memeluk erat bebek-bebek itu.


"Sama-sama nak! Yasudah hari udah makin sore, nanti dicari sama orangtua kalian lho!" mama Dhea mengingat hari sudah semakin sore "biar pak Min yang antar kalian ya!" imbuhnya lagi seraya memanggil pak Min supir mereka.


"Iya tante, terimakasih banyak tante! kami udah ngerepotin tante!" ucap Nia merasa segan.


"Gak apa-apa Nia, tante udah anggap kalian seperti anak sendiri. Jadi tante gak masalah kok!" ucap mama Dhea tersenyum.


"Nah jadi mulai sekarang lo lo pada jadi kakak dan adek gue!" timpal Dhea menunjuk dua sahabatnya itu.


"Iya...kamu kakak tertuanya, Zhilla anak tengah dan aku adek yang paling kecil!" usul Nia sambil menyilangkan telunjuknya dikedua pipinya.


"Inget! situ udah mau nikah, bentar lagi jadi istri orang, so kamu lah yang jadi kakak tertuanya!" cibir Zhilla tidak terima bila Nia mengusulkan dirinya sendiri menjadi anak paling kecil diantara mereka bertiga.


"Huuu! sirik aja kamu weeekkk!" ledek Nia menjulurkan lidahnya ke arah Zhilla.


"Astaga ini bocah berdua! iye si Nia emang cocok jadi anak paling kecil, masih bocah dia!" ucap Dhea seraya menengahi kedua sahabatnya.


"Weekk benerkan kataku!" ejek Nia lagi.


"Hem..iya iya, serah dah!" ujar Zhilla mengibas-ngibas tangannya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pak Min datang dengan mobil milik mama Dhea. Nia dan Zhilla pun berpamitan kembali dan segera menaiki mobil. Pak Min melajukan mobilnya mengantarkan Zhilla yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Dhea, lalu mengantar Nia dan setelah selesai dengan tugasnya mengantar sahabat anak majikannya itu, pak Min kembali melajukan mobilnya pulang kerumah Dhea.


__ADS_2