Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Jangan Posesif, Mas!


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Nia langsung mengganti pakaiannya dan melanjutkan shalat Isya, setelahnya ia bersiap-siap tidur. Fariz yang sudah di atas ranjang pun memeluk erat istrinya, ada firasat baik yang terlintas.


Biasanya kalau istri udah mulai gini tanda-tanda hamil, semoga aja bener! Gumam Fariz dalam hatinya.


Fariz melihat wajah istrinya dengan seksama, wajah Nia tampak pucat. Membuat Fariz sangat khawatir dan berencana untuk membatalkan semua kegiatan esok hari. Namun, itu tidak akan mungkin di setujui oleh Nia. Sebab, Nia sudah merencanakannya dengan sangat matang sebelum mereka berangkat ke Paris.


***


Pukul 7 pagi Fariz dan Nia sudah rapi mengenakan kaos couple yang mereka beli kemarin. Lalu, mereka turun ke bawah menuju restoran untuk sarapan pagi.


Sesampainya di restoran, mereka di sambut hangat oleh dua orang pelayan yang menjaga pintu masuk restoran.


"Good morning, Mam and Sir! Welcome." sapa mereka.


"Good morning!" balas Nia.


Fariz dan Nia menuju sebuah meja yang berada di sudut restoran itu, mereka memilih berdekatan dengan jendela agar mereka dapat menikmati sarapan seraya menikmati pemandangan sekitan hotel.


Pagi ini Fariz yang memilih menu sarapan, tidak membiarkan Nia untuk banyak bergerak. Dan menu pagi ini sangat spesial untuk mereka, pihak restoran menghidangkan lontong sayur. Semua itu atas suruhan Tomy, sahabat Fariz. Namun, bagi yang tidak mengenal lontong, pihak restoran menyediakan roti dan lain-lainnya.

__ADS_1


Nia dan Fariz menikmati sarapan mereka, dengan di temani iringan musik klasik yang dimainkan oleh pemain biola, gitar dan juga piano di sudut restoran. Indahnya, menambah nuansa romantis bagi mereka yang berpasangan. Usai menyantap sarapan, Nia dan juga Fariz bergegas menuju lobby dan berangkat menuju Disney Land.


***


Sesampainya di Disney Land, mereka mulai menaiki sebuah wahana. Beruntung nya mereka pergi di saat tidak sedang musim liburan, jadi tidak perlu lama untuk mengantre.


Satu jam mereka menaiki beberapa wahana, Fariz menyuruh Nia untuk beristirahat. Sebab, wajah Nia nampak pucat. Fariz sangat khawatir.


"Sayang, kita pulang aja yuk! Kamu pucet banget." ajak Fariz.


"Nia belum puas mainnya, Mas! Lagian Nia nggak apa-apa kok. Nia nggak sakit!" protes Nia.


Fariz tidak mengindahkan perkataan wanitanya itu, ia menarik Nia untuk berjalan menuju pintu keluar. Ia sangat khawatir dengan keadaan Nia, bila saja Nia benar-benar sudah hamil, bisa berbahaya kalau terus menaiki wahana-wahana di sana.


"Kita ke dokter!" ucap Fariz singkat.


Eh? Ngapain ke dokter? Aku nggak sakit, apa Mas Fariz yang sakit? batin Nia lalu memegang kening suaminya.


"Kenapa?" tanya Fariz menoleh ke arah Nia.

__ADS_1


"Mas sakit?" tanya Nia.


"Enggak."


"Lalu ngapain kita ke dokter, Mas?" tanya Nia bingung.


"Periksa kamu!" jawab Fariz datar.


"Nia tuh nggak sakit, Mas! Ngapain kita ke dokter?" sergahnya membuat Fariz menghentikan langkahnya.


"Mas tu khawatir sama kamu! Seandainya kamu ternyata hamil, terus masih naik wahana-wahana itu! Terus anak kita..." Fariz menghentikan kata-katanya.


"Apa? Anak kita apa? Kenapa mas tau Nia hamil? Toh, belum ada tanda-tandanya!" protes Nia kembali. Wajah nya merah padam. Ya, mungkin ini lah salah satu tandanya. Wanita itu mulai sensitif.


"Mas yakin, kamu pasti udah hamil! Ayo kita ke dokter kandungan!" ujar Fariz melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar, saat sudah berada di luar gerbang Galih sudah siap dengan mobil untuk melanjutkan destinasi mereka.


"Galih, kita ke rumah sakit atau ke dokter yang ada dokter kandungannya yang bagus, sekarang!" titah Fariz.


"Baik Mas Fariz!" balas Galih, lalu melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Mas jangan posesif gini dong! Belum hamil aja udah sebegininya, gimana Nia udah hamil!" protes Nia membuat Fariz gemas akan istri mungilnya itu.


"Mas bakal kurung kamu di dalem kamar!" bisik Fariz sambil tersenyum nakal, membuat Nia memukul lengan suaminya itu.


__ADS_2