Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Niaku Sayang!


__ADS_3

Setelah Fariz membaringkan Nia di atas kasur dalam ruang kesehatan, dokter yang bertugas di sekolah pun memeriksa keadaan Nia. Dokter mengatakan Nia mengalami trauma akibat tekanan yang di alaminya barusan.


"Pak Fariz, murid bapak ini mengalami trauma akibat berita yang tersebar!" terang dokter Dani.


Fariz menatap wajah Nia yang pucat, Nia harus menanggung akibat dari perbuatannya.


"Kapan dia akan sadar?" tanya Fariz.


"Kita tunggu saja, biarkan dia istirahat. Dia sangat shock sehingga membuatnya stres dan trauma!" terang dokter Dani lagi.


"Hmm..baik!" jawab Fariz.


Fariz terus memandangi wajah calon istrinya itu, dia sangat merasa bersalah dengan perbuatannya itu. Dia menyesalinya, hingga membuatnya menyalahkan dirinya sendiri.


"Niaku sayang! bangun, maafkan aku!" ucap Fariz sambil menggenggam tangan Nia, yang terdengar oleh salah satu guru perempuan yang sedang bertugas membantu dokter Dani di ruang kesehatan itu juga.


Niaku sayang? ada hubungan apa antara pak Fariz dan anak itu? tanyanya dalam hati.


Pak Siddiq yang mendapat kabar bahwa anaknya tiba-tiba pingsan bergegas menuju ruang kesehatan. Sesampainya di ruang kesehatan, dilihatnya Fariz juga berada disana sedang menjaga Nia.


"Pak Fariz!" panggil pak Siddiq.


"Iya pak!" Fariz menoleh ke arah pak Siddiq lalu mendatangi calon mertuanya itu.


"Ada apa dengan Nia??" tanya pak Siddiq cemas.


"Nia mengalami stres dan trauma akibat berita yang tersebar! berita itu tidak benar om, tolong jangan salahkan Nia! salahkan saya saja." ucap Fariz sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


Siddiq hanya diam membalas tatapan Fariz lalu berjalan mendekati ranjang yang sedang di tiduri oleh Nia.


"Maafkan ayah nak! tidak seharusnya ayah seperti tadi." Pak Siddiq memjamkan matanya sejenak lalu berjalan lagi ke arah Fariz.


"Kita bicara sebentar di ruangan saya!" ajak Siddiq.


"Iya om!" sahut Fariz.


Mereka pun meninggalkan ruang kesehatan, berjalan menuju ruangan Siddiq.


"Om, berita itu tidak benar! tolong jangan salahkan Nia!" Fariz membuka pembicaraan dengan tatapan memohon.


"Saya yakin Nia tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu, lalu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Siddiq.

__ADS_1


Fariz pun menceritakan kejadian yang sebenarnya, Siddiq sangat menyesal. Lalu Siddiq meminta Fariz untuk menjaga putrinya dan segera membawa pulang Nia setelah sadar.


"Baik om! saya permisi dulu." pamit Fariz.


"Terimakasih Fariz!" sahut Siddiq dan tersenyum ke arah Fariz.


Fariz membalas senyuman Siddiq lalu pergi meninggalkan ruangan Siddiq. Di tengah perjalanan menuju ruang kesehatan, fariz bertemu dengan Adriana. Dia meminta Adriana untuk membersihkan nama Nia dengan klarifikasi masalah yang sebenarnya.


"Adriana!" panggil Fariz.


Adriana tertunduk ketika Fariz memanggil namanya, Fariz mendekati Adriana.


"Ma.maafkan saya pak! bukan saya yang menyebar berita itu!" sahut Adriana gugup.


Fariz tersenyum sinis, kini dia tahu siapa pelaku di balik penyebaran berita buruk tersebut.


"Hem..ternyata kamu dalang di balik ini semua!" ucap Fariz menatap Adriana dengan tatapan tajam.


"Maafkan saya pak!" Adriana memohon.


"Sebarkan kembali berita baik tentang Nia, bersihkan namanya!" ucap Fariz.


"Sebarkan bahwa saya dan Nia sudah bertunangan dan akan segera menikah!" jawab Fariz lalu pergi meninggalkan Adriana yang terdiam mendengar perkataan Fariz barusan.


Adriana tercengang mendengar kabar tersebut,


What? Gue gak salah denger? pak Fariz sama si perempuan sok alim itu udah bertunangan? tanyanya dalam hati.


Sesuai instruksi Fariz, Adriana pun menyebarkan berita tentang pertunangan Nia dan Fariz. Dan juga meminta maaf karena sudah menyebarkan berita hoax tentang foto kemesraan antara Nia dan Fariz.


Ruang Kesehatan,


Fariz duduk di dekat ranjang Nia, dia belum juga sadar. Dokter Dani yang sedari tadi memperhatikan Fariz yang khawatir dengan keadaan Nia mendekati Fariz.


"Fariz, di balik keceriaannya ini. Sebenarnya Nia adalah anak yang rapuh, namun dia tidak mau menunjukkan kelemahannya itu!" jelas Dr.Dani.


"Bagaimana dokter bisa tau?" tanya Fariz penasaran.


"Saya ini dokter pribadi keluarga Suhendar, dan keluarga Suhendar sudah menganggap Siddiq Hendrawan seperti keluarganya sendiri! maka dari itu saya juga menjadi dokter pribadi keluarga mereka, jadi..sedikit banyaknya saya tau bagaimana keadaan keluarga Suhendar dan juga Hendrawan!" jelas dr.Dani.


Fariz mengangguk mendengar penjelasan dr.Dani, Fariz kembali memandangi wajah Nia yang belum juga sadar.

__ADS_1


"Dokter, kenapa Nia belum juga sadar??" tanya Fariz cemas.


"Coba saya periksa lagi." ujar Dr.Dani "Nia benar-benar mengalami traumatik berat, lebih baik kamu bawa dia pulang. Biarkan dia istirahat dengan nyaman di rumahnya!" lanjut dr.Dani.


Fariz mengangguk, lalu menggendong Nia menuju mobil Fariz. Di sepanjang koridor, murid-murid memperhatikan Fariz yang sedang menggendong Nia. Mereka bersorak gembira melihat perbuatan Fariz yang begitu romantis, dan juga setelah mereka mendapatkan berita tentang Fariz dan Nia yang sebenarnya.


Zhilla dan Dhea yang mendengar keriuhan di luar kelas langsung berlari keluar melihat apa yang sedang terjadi, dan benar saja mereka mendapati Fariz sedang menggendong Nia bak Pangeran sedang menggendong seorang putri seperti dalam dongeng.


"Gue gak salah liat kan Zhill?!" Dhea tercengan melihat kejadian itu.


"Enggak!" Zhilla pun sama.


"Pak Fariz!" panggil Dhea.


"Bapak mau bawa Nia kemana??" tanya Dhea


"Pulang! tolong kamu bantu bawa tas dan buku-buku Nia ke mobil saya!" sahut Fariz.


Dengan cepat Dhea dan Zhill membereskan buku dan peralatan Nia ke dalam tasnya, dan langsung menyusul ke mobil Fariz.


Fariz membaringkan Nia di bangku depan yang berada di sebelah bangku kemudi, lalu menyuruh Dhea dan Zhilla menaruh barang-barang Nia di belakang.


"Pak Fariz! apa benar bapak dan Nia...." tanya Dhea ragu-ragu.


"Ya benar! saya dan Nia sudah bertunangan!" jawab Fariz..


Dhea dan Zhill terkejut mendengar jawaban Fariz, bagaimana mungkin? mereka tau bahwa Nia tidak akan tertarik dengan laki-laki seperti Fariz. Nia menginginkan lelaki yang lembut, penuh kasih sayang, bertanggung jawab dan juga sholeh. Sedangkan yang mereka tau, Fariz adalah orang yang dingin. Dari cara dia mengajar sudah terlihat, bahwa Fariz adalah lelaki yang jauh dari kriteria lelaki yang di inginkan Nia untuk menjadi pendampingnya kelak.


Fariz pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin membangunkan Nia dengan membuatnya jantungan karena ngebut.


Kenapa dia belum bangun juga? batin Fariz.


Sesampainya di rumah Nia, Fariz menggendong Nia kembali yang di sambut oleh bi Puji.


"Assalamualaikum bik, tolong bantuin ambil barang Nia ya!" perintah Fariz.


"Baik tuan!" jawab bi Puji.


"Saya bawa Nia ke kamarnya ya!" ujar Fariz lagi.


Fariz pun berjalan menuju kamar Nia, dia membaringkan Nia kembali di ranjang yang serba pink itu.

__ADS_1


__ADS_2