Guru Itu Imamku!

Guru Itu Imamku!
Pacaran setelah menikah


__ADS_3

Sebuah langkah mendekat ke arah ranjang tempat Nia tertidur, ia duduk ditepian ranjang mengamati wajah cantik Nia lalu melukiskan senyum penuh kebahagiaan.


Nia mengerjapkan mata indahnya beberapa kali, berusaha mengumpulkan nyawanya yang entah kemana-mana karena tertidur pulas. Nia tercekat ketika memperjelas penglihatannya, mendapati Fariz sedang memperhatikan dirinya.


"Mas! Dari kapan ngeliatin Nia kaya gitu??" tanya Nia beringsut dari tidurnya bersandar dikepala ranjangnya.


"Dari tadi," jawab Fariz seraya melontarkan senyum nakal kearah Nia.


"Mas! Jangan macem-macem ya!" ucap Nia sambil menuruni ranjang empuk itu dan berjalan kearah kamar mandi yang diikuti oleh Fariz dari belakang.


"Kenapa nggak boleh macem-macem sayang? Kita kan udah halal," ungkap Fariz manja yang tiba-tiba memeluk Nia dari belakang.


"Mas! Geli tau, ihh.." teriak Nia karena terkejut dengan perlakuan Fariz yang mendadak.


"Geli apa enak? Hayoo!" goda Fariz yang masih bergelayut manja dan dagunya menempel dipundak sang istri.


"Ihh mas mesum amat sih! Apaan sih, geli tau..hahaha..." ucap Nia dibarengi tawanya karena ulah Fariz yang menggelitiki pinggang ramping Nia.


Kedua sejoli itu bersenda gurau hingga terjatuh bertindihan di sofa empuk berwarna cream, Nia tertegun memandang wajah tampan suaminya itu dari jarak yang sangat dekat. Fariz yang berada diatas tubuh Nia mengembangkan senyum lebar menatap istri cantiknya itu dan "Cup!" Fariz mengecup lembut bibir tipis Nia , membuat Nia merona bagaikan buah tomat.


Fariz yang saat itu berada diatas tubuh Nia bangkit dan menyandarkan tubuhnya disandaran sofa, lalu menarik Nia perlahan kedalam pelukannya.


"Maaf mas udah lancang, sayang. " ucap Fariz lirih seraya membelai lembut kepala istrinya.

__ADS_1


"Hm, " gumam Nia lirih yang masih terkejut dengan perlakuan Fariz dan hanya terpaku dalam pelukan Fariz.


Fariz mengeratkan pelukannya. Kini dua insan itu saling bertautan, tanpa ada perlawanan dari sang wanita. Fariz melepaskan pelukannya memberikan jeda diantara mereka, menatap Nia dengan penuh cinta.


"Aku mencintaimu istriku! " ucap Fariz dengan lembut.


"Aku.. juga.. mas! " balas Nia malu-malu.


"Juga apa sayang, um? " tanya Fariz dengan tatapan menggoda Nia.


"Cinta kamu! " Nia menundukkan wajahnya yang sudah memerah seperti udang rebus.


"Jangan pernah tinggalin aku ya, apapun yang terjadi dengan rumah tangga kita kelak aku nggak akan pernah meninggalkanmu ataupun nggak akan membiarkan kamu meninggalkan aku sayang! " ucap Fariz seraya menangkupkan pipi rona Nia.


Nia dan Fariz kembali berpelukan lalu Fariz menggendong ala bridal tubuh mungil istrinya ke ranjang, dan membaringkan tubuh Nia lalu ikut merebahkan tubuhnya disamping Nia.


Angin sejuk dari AC dikamar membuat sepasang pengantin baru itu meringkuk dan saling berpelukan kembali, Nia merasakan kehangatan berada didalam pelukan suaminya. Fariz pun merasakan hal serupa, merasakan adanya kehangatan yang menyentuh hatinya. Hingga pada akhirnya kedua insan itu tertidur akibat belaian angin AC tersebut.


Malam harinya di dapur bi Ani dan bi Jumi sudah selesai menyiapkan makan malam untuk tuan dan nyonya muda mereka. Lalu menyuruh Hera anak bi Ani memanggil tuan dan nyonya mudanya untuk makan malam.


"Tok.. Tok.. Tok..!" Hera mengetuk pintu dengan hati-hati.


Nia yang saat itu sudah bangun terlebih dahulu segera turun dari ranjangnya dan membuka pintu.

__ADS_1


"Iya, siapa? " Tanya Nia seraya membuka pintu kamarnya.


"Maaf nyonya muda, makan malam udah selesai! "balas Hera sopan.


"Oh gitu, saya dan mas Fariz akan turun setelah dia bangun ya! " jawab Nia ramah.


"Baik nyonya, saya permisi. "balas Hera lalu membalikkan badannya dan kembali ke dapur.


Nia kembali berjalan menuju ranjangnya dan duduk ditepian dekat Fariz, menatap wajah tampan suaminya dan menyisipkan rambut-rambutnya.


Fariz yang merasakan adanya sentuhan menggeliat dan terbangun, mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali mencoba mengamati sosok wanita yang ada dihadapannya.


"Sayang, kamu udah bangun? " tanya Fariz dengan suara khas bangun tidur.


"Udah mas, kita makan yuk. Kayanya bibi udah nyiapin makanan buat kita, " jelas Nia.


"Emh.. jam berapa sekarang sayang? " tanya Fariz seraya meraba-raba permukaan nakasnya mencari ponselnya.


"Jam 8 mas! " jawab Nia sembari melihat jam tangan berwarna pink yang melingkar di pergelangannya.


"Emh.. yaudah yuk kita kebawah! " ucap Fariz turun dari ranjangnya lalu menuruni tangga menuju ruang makan bersama Nia.


Fariz yang selalu mengaitkan jemarinya dengan jemari Nia membuat malu-malu sendiri para bibi dan Hera yang melihat.

__ADS_1


Fariz dan Nia menikmati makan malam mereka, dengan tenang dan tanpa ada suara yang keluar dari mulut mereka. Hanya suara sendok garpu dan piring yang saling beradu lah yang terdengar, dan juga sedikit kebisingan dari dapur para bibi dan pekerja lainnya.


__ADS_2